FiksiCerita BersambungFiksiCerita BersambungKemana Langkah Itu Pergi

Kemana Langkah Itu Pergi? (Butir Dua)

14 April 2015

 

Sayup sayup kudengar suara orang berbicara. Kurasakan tekanan pada lengan atas kananku.  Kubuka mata perlahan dan kudapati diriku sudah terbaring di tempat tidur. Seorang perawat sedang mengukur tekanan darahku. Di hidungku terpasang nasal kanul (selang oksigen). Kulihat Mba desti dan mei, rekan bekerjaku sedang diwawancara perawat lain.

“Eh, ika udah sadar?” Sapa mba desti lembut dengan logat suaranya yang khas.

“Mbak aku di IGD ya?” tanyaku spontan karena sudah familiar dengan ruangan seperti ini.

“Tekanan darahnya 100/60 ya.” kata perawat disampingku sambil menghitung denyut nadiku tanpa menjawab pertanyaanku.

Kurasakan perut sebelah kiri atas seperti teriris-iris. Aku belum makan dan sepertinya lambungku bermasalah lagi. Kepalaku sudah tidak begitu sakit. Mungkin karena posisiku berbaring. Beberapa saat kemudian, seorang dokter menghampiriku. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang gejala yang kualami. Kuceritakan bahwa perutku sakit, kepalaku lebih sakit dan tadi keluar cairan kuning dari hidungku.

“Coba dicek lab dulu ya. Nanti diambil darahnya.”  kata dokter. Kemudian ia beranjak untuk berbicara dengan perawat.

Sejurus kemudian perawat datang dengan membawa sekotak peralatan yg terdiri dari jarum suntik 10 ml, botol-botol kecil, alkohol swap, tourniquet dan plester. Ia menggulung lengan bajuku, memasang torniquet untuk membendung aliran darah, mengusap pembuluh darahku dengan alkohol swap dan mulai menusukkan jarum besar itu ke pembuluh darahku.

“Tarik napas dalam ya.” Ujar perawat pria itu dengan lembut. Aku terhenyak karena rasa sakit saat jarum itu menembus pembuluh darahku. Darah merah tua mengisi jarum suntik sampai penuh. Setelah penuh, ia melepas torniquet, mencabut jarum, menutup lubang bekas suntik dengan alkohol swap  dan menyuruhku menekannya. Ia memasukkan darahku ke botol-botol kecil yang ia bawa. Kemudian ia berpamitan dan meninggalkanku dengan Mba Desti dan Mei.

“Maaf ya Mba Des sama Mey, jadi repot gini udah malam gini belum pulang gara-gara aku.” Ucapku sedih.

“Udah lu tenang aja, kita mah gapapa.” kata Mey yang duduk di sampingku.

“Iya Ka tenang aja. Aku udah bilang Bu Ati juga kalo kamu masuk IGD. Aku juga minta dibuatin jaminan buat kamu.” sambung Mba Des menenangkan.

Beberapa menit kemudian dokter yang tadi menemuiku datang lagi. Ia membawa selembar kertas yang sepertinya hasil labku.

“Kamu harus di rawat ya. Kamu kurang cairan soalnya. Kalo nanti pulang khawatir pingsan lagi.” ujarnya.

“Hah? Aduh gimana ya Dokter. Aku.. Ehm.. Aku tanya orang tua dulu ya.” jawabku bingung. Aku tentu tidak persiapan kalau harus di rawat. Belum lagi jarak rumah dan rumah sakit ini cukup jauh. Nanti siapa yang menjagaku. Rasanya aku mau menangis.

“Yaudah ditanya dulu aja. Tapi saran saya lebih baik dirawat.” kata dokter.

Aku telepon bapak. Bapak setuju aku di rawat dan akan segera berangkat ke rumah sakit. Mba Des dan Mei mengurus administrasi rumah sakit. Beberapa menit kemudian, perawat datang lagi untuk memasang infus. Rasanya saat ditusuk jauh lebih sakit daripada saat diambil darah tadi. Tapi bagiku, sakit ini tidak ada apa-apanya dibanding sakit kepala yang kurasa.

Setelah administrasi selesai, aku didorong ke ruang rawat. Aku tidak kuat kalau duduk di kursi roda karena kepalaku pasti kambuh. Mba Desti dan Mei menemaniku sambil menunggu Bapak datang.

Rasanya aku lelah sekali menahan sakit seharian tadi dan ingin sekali aku tidur. Saat posisi berbaring seperti ini sakit kepalaku hilang. Aneh sekali. Tapi saat aku bangun untuk ke kamar mandi, pasti sakit kepala itu muncul menjalar menggerogoti setiap senti otakku. Akhirnya aku memilih lebih banyak berbaring.

Hari demi hari berganti aku terbaring di rumah sakit. Orangtuaku bergantian menjagaku. Sebenarnya aku kasihan melihat mereka karena harus menempuh jarak yang jauh dari rumah untuk menjagaku. Setiap hari dokter penyakit dalam melakukan visit tapi kunjungannya sangat singkat sehingga aku belum sempat bertanya dan menjelaskan keluhanku selain sakit di perut dan kepala. Padahal, aku ingin mengeluhkan juga beberapa masalah pada tubuhku yang tidak terlalu aku gubris sebenarnya, tapi membuatku penasaran.

Beberapa hari belakangan aku merasa kakiku seperti lebih kebas dan rasanya sangat aneh sehingga ketika aku berjalan rasanya seperti melayang. Bahkan kadang aku harus memegang tembok sekitar saat berjalan atau menggandeng orang lain karena aku takut sekali jatuh. Entah mengapa kadang aku merasa keseimbangan tubuhku tidak berfungsi dengan baik. Tapi mungkin ini efek karena aku terlalu banyak berbaring, saat aku istirahat di rumah tidak masuk kerja.

Hal aneh lain yang terjadi pada diriku beberapa hari belakangan adalah aku kadang kesulitan mengontrol buang air kecil. Hal ini terjadi terutama ketika malam hari. Saat aku berhasil terlelap tidur, aku merasa kandung kemihku sangat penuh. Tengah malam aku harus bersusah payah berjuang melawan sakit kepala akibat perubahan posisi dari berbaring menjadj berdiri sambil tertatih-tatih ke kamar mandi menjaga keseimbangan tubuh. Jarak antara kamar kosku dengan kamar mandi agak jauh. Aku sudah berusaha sekuat tenaga menahan agar aku tidak pipis sebelum sampai kamar mandi. Ketika sampai kamar mandi, belum sempat aku membuka celana tapi aku sudah terlanjur pipis karena tiba-tiba saja pertahanan kandung kemihku menahan sudah lepas. Setelah pipis, aku mencuci celana yang basah sambil menangis dan menahan sakit di kepalaku. Dapat dipastikan aku tidak dapat tidur lagi sampai menjelang dini hari karena kepala dan perutku seakan berlomba menghunjamkan rasa sakit kepadaku.

“Mama, mama, perutku sakit banget.” teriakku pada suatu malam. Mama yang tampaknya baru saja memejamkan mata terlonjak kaget.

“Kenapa?” tanya Mama sambil mengusap-usap mata.

“Perutku sakit banget yang sebelah kanan. Kayak di kraus-kraus.” jeritku sambil menangis. Mama langsung berlari ke ruang perawat. Beberapa saat kemudian, perawat datang dan menanyakan kondisiku. Kuceritakan bahwa perutku sakit sambil terus memegangi daerah yang terasa nyeri. Perawat kembali ke ruangannya. Beberapa menit kemudian ia menyuntikku dengan obat. Tak lama kemudian nyeriku berangsur mereda.

“Ma, nanti kalau dokternya visit tanya ya tentang kondisi aku.” kataku pada Mama yang giliran jaga.

“Iya biasanya juga kan Mama mau tanya, tapi dokternya cepet banget abis meriksa langsung pergi lagi.” kata Mama kesal.

Keesokan harinya, dokter penyakit dalam yang visit langsung memeriksa dan menanyakan kondisi perutku. Kuceritakan tentang kejadian semalam. Dokter menyuruku mengangkat baju di bagian perut dan beliau menekan-nekan perutku.

“Dok, kenapa kepalaku juga sakit banget ya?” tanyaku cepat-cepat setelah dokter selesai menekan-nekan perutku.

“Itu gigi itu, ada sendok ga? Coba buka mulutnya.” Jawab dokter sesingkat-singkatnya.

“Hah?” responku seketika. Apa sih maksudnya dokter kenapa aku bilang kepala sakit tapi dia mau.periksa gigi.

“Buka mulutnya.” perintahnya kemudain. Aku menurut. Beliau menekankan sendok ke lidahku sambil melihat kondisi gigiku.

“Ini giginya bermasalah jadi sakit kepala. Nanti dikonsul ke gigi ya.” kata dokter kepada perawat. Kemudian secepat kilat beliau pergi diikuti perawat. Mamaku yang baru saja membuka mulut ingin bertanya segera menutup kembali.

Aku mulai bosan di rumah sakit karena tidak mendapat kemajuan apa-apa. Hanya sedikit orang yang mengunjungiku karena jarak yang cukup jauh dari rumah. Tentu saja keluargaku selalu menemani. Juga Mas Doni, yang setia menemaniku. Staf-staf rumah sakit yang mengenalku, atasan bekerja dan beberapa rekan kerja juga datang menjengukku. Beberapa teman bapak juga mengunjungiku. Sahabatku, Nikita, menjengukku dan membuatku terharu karena ini pertama kalinya dia datang ke wilayah ini demi melihat kondisiku.

Hari berikutnya, dokter gigi datang. Dokter gigi yang masih muda ini sangat ramah. Ia mengatakan kalau spesialisnya tidak bisa datang sehingga ia yang ditugaskan memeriksaku. Mama menceritakan kondisiku dan ia mendengarkan. Ia menyuruhku membuka mulut dan menekan lidahku dengan spatel lidah sambil melihat kondisi mulutku dengan senter.

“Kamu gigi geraham bungsunya tumbuhnya tidak keluar, sepertinya impaksi. Tapi untuk memastikan harus di rontgen panoramic dulu ya. Disini ga ada rontgen panoramic tapi, jadi harus dirujuk ke rs yang ada rontgen panoramicnya.” kata dokternya kemudian.

“Rontgen panoramic apa Dok?” tanya Mama.

“Itu bu, rontgen gigi. Buat melihat kondisi giginya.”

“Tapi itu ga dicover di jaminannya ya Bu soalnya tindakannya di luar. Jadi bayar sendiri.” kata perawat kemudian.

“Tapi nanti yang urusin dari sini kan Suster?” tanyaku.

“Iya nanti kami yang hubungi rumah sakit mananya untuk dijadwalkan dan menanyakan biayanya.” jawab perawat itu.

“Yaudah didiskusikan dulu aja. Saya permisi ya.” kata dokter gigi itu meninggalkan aku dan Mama disusul perawat.

Aku dan orangtuaku berdiskusi singkat. Kami setuju untuk dilakukan rontgen panoramic. Beberapa saat kemudian perawat memberikan informasi rumah sakit terdekat yang memiliki alat rontgen tersebut serta biaya rontgen dan ambulans. Bapak menandatangani persetujuan dan aku dijadwalkan mengikuti rontgen panoramic.

Aku diantar dengan ambulans dan didampingi seorang perawat, Risti (adikku), dan Bapak. Untung saja jarak rumah sakitnya cukup dekat. Ini pertama kalinya aku naik ambulans. Supir menyalakan sirine dan mobil ambulans ini pun menyeruak kemacetan jalan. Aku merasa seolah-olah seperti seorang yang sekarat yang memerlukan pertolongan cepat. Perasaan itu membuat aku merasa ngeri.

Setibanya di rumah sakit, aku langsung di dorong ke ruang radiologi. Perawat dan Bapak mengurus administrasi sedangkan adikku menemaniku. Tak berapa lama perawat kembali mendatangi kami.

“Rontgennya harus duduk atau berdiri kamu kuat ga?” tanya perawat kepadaku.

“Hmm, aku coba deh. Mudah-mudahan aku kuat.” jawabku. Aku mencoba bangkit dari posisi berbaring. Beberapa saat kemudian sakit kepalaku muncul. Aku mencoba menahan sakit itu sekuat tenaga.

Aku diantar masuk oleh petugas radiologi ke sebuah ruangan yang berisi alat rontgen panoramic. Aku disuruh duduk di depan alat itu, kemudian menggigit bagian yang ditunjuk petugas tersebut. Petugas itu memerintahkan aku untuk tidak bergerak sampai ia memberikan aba-aba lagi. Tampak alat berbentuk seperti lengan yang di tekuk (jika benar aku menggambarkannya) yang berputar mengelilingi wajahku. Mulutku terasa pegal karena harus menggigit cukup lama. Belum lagi aku harus menahan sakit kepala. Aku sangat lega ketika petugas memberikan aba-aba selesai dan mengantarku kembali ke brankar.

“Gigi bungsu kamu mengalami impaksi, tumbuhnya miring. Jadi ini yang menekan saraf. Ni coba liat fotonya.” kata dokter gigi keesokan harinya sambil melihat foto rontgen.

“Terus, harus bagaimana, Dok, tindakannya?” kataku ngeri.

“Ya harus dicabut. Supaya ga nekan saraf lagi. Lagipula geraham bungsunya ga keluar.” kata dokter gigi itu lagi.

Terus terang aku takut sekali untuk dicabut gigi, apalagi gigi geraham bungsu. Tapi demi menghilangkan sakit kepala, aku bersedia.

“Tapi ga bisa disini dicabutnya. Soalnya disini ga ada dokter spesialis bedah mulut. Nanti dirujuk aja ya ke rumah sakit yang ada Sp.BM (spesialis bedah mulut).” kata dokter itu lagi.

Akhirnya aku dipulangkan dari rumah sakit dan harus mencari rumah sakit yang memiliki spesial bedah mulut untuk mencabut gigi bungsuku untuk menghilangkan sakit kepala. Aku kecewa karena sampai aku pulang dari rumah sakit ini pun masalah kesehatanku belum selesai. Aku masih harus berjuang untuk menghilangkan rasa sakit ini. Aku betul-betul berharap setelah gigiku dicabut, aku bisa sembuh total. Tapi apakah yang akan terjadi kemudian?

-bersambung-

Share To
Leave a Comment