FiksiCerita BersambungFiksiCerita BersambungKemana Langkah Itu Pergi

Kemana Langkah Itu Pergi?

10 April 2015

Hari ini aku capek sekali.

Berkas-berkas masih menumpuk di mejaku, baru setengahnya saja yang kusentuh. Berdus-dus berkas lain masih menunggu dengan sabar untuk ku kerjakan. Tapi bagaimana bisa? Kepalaku masih pusing sampai mau pecah. Ini benar lho, bukan sekedar majas hiperbola. Seolah-olah ada tangan besi di dalam otak yang mencengkram otak sebelah kiriku dengan kekuatan tangan Iron Man. Belum lagi ditambah pukulan-pukulan keras dari Hulk. Argggghhhhhhhh. Kalau kau tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya, lebih baik tidak usah dibayangkan. Terlebih lagi dirasakan. Aku pun tak sanggup untuk menggambarkannya lagi bagaimana sakit kepala ini.

Aku merebahkan kepalaku beralas bantal kecil di atas meja. Hanya dengan cara ini sakit kepalaku sedikit berkurang. Tapi ketika aku kembali ke posisi duduk tegak, sakit kepala ini perlahan muncul dan kembali melumat kepalaku. Leherku pun kaku seperti ditimpa berton-ton beban yang membuat aku sulit menoleh. Haduh, sakit apa sih aku ini?

“Udah Ka, kalo sakit pulang aja.” seru Mbak Desti iba melihatku yang sudah beberapa hari ini terlihat tersiksa.

“Nanti kalo ditanya sama Bu Ati gimana Mbak? Tugasku belum selesai. Deadlinenya sebentar lagi.” kataku sambil memijat-mijat leher dengan minyak kayu putih.

“Entar gue yang bilang, si Ika sakit, jadi gue suruh pulang.” jawab Mbak Desti.

Sebenarnya aku ingin pulang. Ingin berbaring untuk mengurangi nyeri ini. Tapi aku tidak mau kalau sampai Mbak Desti kena masalah gara-gara aku.

“Gapapa Mbak, sebentar lagi juga jam pulang. Aku tunggu aja.” kataku kemudian.

Aku memejamkan mata untuk membuat otakku lebih rileks. Terkelebat kenangan saat awal aku mulai merasa sakit.

Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan yang terkenal dengan seleksi yang sangat ketat. Aku sangat bersyukur karena pekerjaan ini yang aku inginkan. Aku memang menginginkan pekerjaan yang bekerja di jam kerja, sabtu minggu libur, hari libur aku libur. Jadi aku benar-benar sangat bahagia bisa mendapat pekerjaan yang aku inginkan.

Awalnya aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan diriku. Aku lolos tes kesehatan yang diadakan tempat bekerjaku. Semula aku merasa tidak ada masalah sampai aku merasakan leherku sakit seperti yang biasa dikenal orang dengan “salah bantal” -sebenarnya aku kasihan pada bantal karena ia selalu disalahkan-. Rasa sakit itu membuatku sulit untuk menoleh. Leherku juga terasa sangat kaku. Kepalaku juga terasa sakit terutama setelah memakai helm. Akhirnya aku memutuskan untuk berobat ke dokter umum di klinik dekat rumah.

“Sudah pernah dicek koleseterol?” tanya dokter setelah kuceritakan keluhanku.

“Belum.” jawabku. Kemudian dokter mengeluarkan alat pengukur kolesterol dan menusuk jariku. Darah yang keluar dimasukkan ke dalam strip yang terhubung dengan alat.

“Wah kolesterolnya tinggi. 230. Kok aneh sih masih muda badannya kurus kolesterolnya tinggi.” kata dokter dengan nada sinis. Sebenarnya aku kesal dengan nada bicara dokter itu. Tapi aku memilih diam karena kalau aku marah bisa-bisa kepalaku tambah pusing.

Dokter meresepkanku obat nyeri, obat penurun kolesterol, dan satu lagi aku lupa. Aku rutin minum obat itu. Temanku bercanda dan bilang aku minum obat penurun kolesterol seperti nenek-nenek. Huh. Tapi biarlah yang penting aku ingin sembuh dari rasa sakit ini. Setelah obat habis aku belum merasa ada perbaikan. Aku periksa lagi ke klinik, tapi bukan klinik dengan dokter menyebalkan itu. Dokter di klinik ini lebih ramah dan bijak.

“Kolesterolnya normal kok, 140. Saya ga resepin obat penurun kolesterol lagi ya.” kata dokter itu.

“Tapi kenapa kepala saya masih sakit ya dan lehernya juga masih kaku” kataku.

“Itu karena stres aja. Sekarang dijaga juga ya makannya. Jangan makan makanan yang bersantan dan berlemak. Sama kurangi stresnya.” tutup dokter mengakhiri konsultasiku. Hmm.. Inginnya sih aku juga tidak stres. Tapi tuntutan pekerjaan dan kurangnya support system membuat stres tak mau enyah dari pikiranku. Selain itu aku juga harus beradaptasi dengan hidup sendiri karena kos di dekat tempat kerja.

Berhari-hari kuminum obat yang diresepkan tapi tetap tidak ada perubahan. Leherku masih terasa sakit dan frekuensi sakit kepala semakin sering. Selain itu, aku juga mengalami sembelit. Kupikir karena belum terbiasa dengan tempat baru. Tapi lama kelamaan fesesku menjadi semakin keras dan saat kucoba keluarkan terlihat darah segar menetes. Mulanya kukira itu darah menstruasi tapi saat itu periode menstruasiku baru saja usai. Setelah melihat darah terus setiap aku BAB disertai rasa nyeri saat mengedan, kupegang anus dan ternyata memang darahnya berasal dari situ. Aku makin stres.

Penderitaanku belum selesai. Aku juga merasa perutku sering kembung terutama saat telat makan. Perutku terasa penuh dengan angin tapi tak bisa kukeluarkan baik lewat bawah maupun lewat atas. Rasanya sangat menyiksa. Tambah lagi perut sebelah kanan atas sangat sakit seperti ada yg mencengkeram dari dalam. Makin tersiksa aku.

Keesokan harinya aku berobat ke dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit tempat aku bekerja. Kuceritakan keluhanku di perut, leher, dan kepala, dan kemudian beliau memeriksa perutku menggunakan alat seperti USG (atau mungkin itu memang USG).

“Ga ada masalah kok. Ini cuma ususnya ada iritasi aja tapi ga parah.” kata dokternya. “Jangan telat makan, banyak makan berserat dan minum air putih”. lanjut dokter sambil menulis resep. Aku diresepkan obat lambung, obat nyeri, obat pencernaan untuk melancarkan BAB, dan vitamin. Sakit di kepala dan leherku tidak dibahas.

Segera kuminum obat itu. Alhamdulillah nyeri dan kembung di perut hilang. Feses yang sekeras batu itu juga bisa dikeluarkan dengan tenaga ekstra sampai aku lemas. Setelah itu BAB berikutnya lancar dan tidak keras lagi.

Tapi sakit di leher dan kepala hanya mereda setelah aku minum obat. Sakitnya selalu kambuh lagi terutama tiap malam. Aku selalu terbangun tiap tengah malam merasakan sakit yang amat sangat di kepalaku. Rasanya seperti dipukul dan ditusuk sampai mau pecah. Ya, sangat hiperbola ya apa yang kutulis ini. Tapi memang itu yang kurasakan. Jika digambarkan skala 1 – 10, nyeri itu bisa sampai 9-10. Sakit sekali. Terutama jika aku bangun dari posisi tidur. Oh rasanya aku tidak ingin bangun. Tapi aku tetap harus bekerja. Ku akali rasa sakit itu dengan posisi “nungging” sehingga posisi kepala lebih rendah dari badan. Rasa nyeri itu hilang dengan posisi itu. Tapi jika aku bangkit rasa nyeri akan muncul lagi menggerogoti kepalaku. Setiap bangun pagi aku harus merasakan penderitaan ini. Kukeramasi kepalaku dengan air dingin sambil merasa nyeri di kepala yang amat sangat. Kupaksakan diriku bangun dan beraktivitas. Aku harus duduk dulu selama satu jam sambil merasakan sakit kepala yang semakin menyiksa. Setelah duduk sejam itu berangsur-angsur sakit kepala hilang dan aku bisa masuk kerja mengedarai motor sendiri.

Aku berobat ke rumah sakit yang terkenal di daerahku dengan fasilitas yang bagus. Dokter disana menyarankan aku untuk rontgen tulang leher 4 sisi. Setelah melihat hasilnya. Dokter menyarankan aku untuk menjalani fisioterapi. Fisioterapi yang dilakukan adalah dengan TENS (Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation) dimana aku ditempelkan alat di punggung yang menghantarkan aliran listrik lembut yang terasa seperti dikelitiki semut. Kemudian fisioterapis memijat punggung dan leher aku. Terakhir aku disuruh meregangkan leher, pundak dan lengan (excercise) dibantu oleh fisioterapis. Jadwal fisioterapi aku 6 kali. Fisioterapi pertama berhasil dan lancar dan aku merasa badanku lebih enak serta nyeri berkurang di leher. Minggu berikutnya aku menjalani fisioterapi lagi. Setelah fisioterapi aku malah merasakan sakit kepala hebat yang membuat aku harus berbaring di tempat tidur ruang fisioterapi sampai sakit kepalanya reda.

Aku tersentak dari lamunanku saat merasakan ada cairan hangat keluar dari hidungku. Kuambil tisu dan ku lap hidungku. Betapa terkejutnya aku saat melihat cairan kuning kental keluar dari hidungku.

“Mba Des, Mba Des, hidungku keluar cairan. Mba Des, kenapa ini?” jeritku histeris.

Sejurus kemudian, semua gelap dan aku tidak ingat apa-apa.

-bersambung…

 

Sumber gambar: di sini

Share To
Leave a Comment
  1. Siskaa….. makasih udh share ceritanya.. Huhuuu… jd bs ngebayangin sedikit gmn wktu itu…
    Alhamdulillah siska udh sehat. nikmat sehat itu emg ga trganti dgn apapun ya… :’)

    • iya liaaaa,, makasi juga udah komen :*

      alhamdulillah lia, mudah2an kita dan keluarga kita semua diberi nikmat sehat selalu.. aamiiinn… 🙂