My Lifetime StoriesStory of My Life

Minul, oh.. Minul, oh.. Minul I love you..

20 April 2015

How to draw a goat

Sumber gambar: http://www.how-to-draw-funny-cartoons.com/how-to-draw-a-goat.html

Hallo starlova. 🙂

Pasti kalian sudah ga asing lagi kan sama lagu itu. Yup, lagu itu berasal dari lagu Om Sule yang berjudul “Mimin I love you. Tapi liriknya aku ganti jadi Minul. Kenapa Minul? Karena Minul adalah seorang wanita. Hehehe.

Jadi gini starlova. Dulu aku punya hewan peliharaan. Namanya Minul. Dia adalah seekor kambing kacang berbulu hitam legam yang eksotis. Tubuhnya langsing waktu pertama kali pindah ke wilayah rumahku. Secara umum penampilan minul mirip kambing lainnya. Tapi tingkah minul sangat centil. Pernah suatu ketika ada teman pria bapak yang berkunjung ke rumah. Ia mengira minul adalah seekor anjing. Ia langsung lari begitu melihat minul. Bukannya bertingkah tak peduli seperti kambing umumnya, minul malah mengejar-ngejar teman bapak itu. Kami semua malah tertawa dan tak ada yang tergerak menolong teman bapak itu. Jahat ya :p

Minul dibeli bapak dari seorang kakek yang tinggal di depan rumahku. Kami biasa memanggil kakek itu dengan sebutan O’. Awal dibeli, Minul diberi Menel oleh O’. Tapi mama merasa nama itu kurang catchy. Terinspirasi dari nama seorang pembantu yang centil di sebuah sinetron, akhirnya mama mengganti nama menel menjadi minul.

Aku dulu bingung juga sih, kenapa bapak mau pelihara kambing. Mungkin karena menurut bapak dulu pekarangan rumahku cukup luas sehingga dipikir kambing bisa cari makan sendiri. Tapi ternyata rumput di sekitar rumahku tidak cukup buat minul yang doyan makan. Akhirnya terpaksa aku dan ibuku yang mencari rumput di sekitar lapangan golf dekat rumah. Awalnya aku malu, apalagi kalau sampai ada temanku yang melihat aku “ngarit” (mencari rumput). Setiap ada temanku yang lewat, aku langsung bersembunyi di balik pepohonan.

Kami sekeluarga sangat sayang minul. Aku dan adikku sering bermain dengan minul. Kami sering bermain kejar-kejaran, bermain rumah-rumahan, dan mendandani minul dengan mahkota daun-daun. Minul sangat penurut dan menjadi teman yang baik. Aku sering bercerita dengam minul, kalau aku sedang sedih sehabis dimarahi mama. Aku suka memberi minum minul air garam kesukaannya. Kata O’, kambing suka sekali air garam.
Momen yang sangat aku tidak suka adalah saat harus memberikan makan minul pada waktu magrib. Kandang minul terletak di pekarangan belakang rumah dekat kebun yang gelap sehingga membuat aku takut. Belum lagi harus membakar sampah di bawah kandang sehingga asapnya bisa mengusir nyamuk di kandang. Biasanya aku melakukan tugas itu dengan terburu-buru karena perasaan merinding dan langsung lari ke dalam rumah saat tugas itu selesai.
Suatu hari, minul terlihat resah. Ia terus menerus mengembik sepanjang hari. Diberi makan ia tak mau, begitupun minum, hanya diminum sedikit saja. Diajak bermain minul tetap tidak mau dan tak henti-henti mengembik. Kami bingung harus diapakan lagi minul. Akhirnya mama berkonsultasi dengan tetangga sebelah rumah yang juga punya kambing. Katanya kemungkinan minul ingin kawin. Ia membantu mama mengantarkan minul ke tempat kambing jantan berbulu putih yang gagah perkasa. Kambing itu kepunyaan Pak Haji, yang akan dijadikan kambing kurban untuk Idul Adha. Sebelum dipotong, kambing itu dikawinkan dengan minul.

Tak lama setelah menginap di tempat kambing putih itu, minul pun hamil. Perutnya semakin hari semakin besar dan makannya semakin banyak. Tapi minul masih tetap agresif dan aktif. Kami masih tetap bermain bersama.

Pada suatu malam, minul terus menerus mengembik. Ia terlihat menahan sakit. Ia seperti tidak kuat berdiri. Kami tidak tega melihat minul sendirian di kandang. Akhirnya mama membawa minul ke ruang tamu disertai dedaunan makanannya. Minul tetap tidak mau makan dan hanya mengembik pilu. Tengah malam minul bersusah payah melahirkan anak kembarnya pertama kali dibantu oleh dukun beranak kambing tidak profesional, yaitu mama, aku, dan adikku. Jenis kelamin anaknya jantan dan betina. Setelah anaknya lahir dan masih dibungkus selaput berlendir, minul menjilati anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Tak berapa lama, anak-anak kambing itu sudah bisa berdiri, berjalan, dan menyusu pada induknya. Subhanallah.
Anak-anak minul kami beri nama Kiki dan Koko. Bulu kiki  dan koko berwarna putih belang hitam. Kiki memiliki bulu yang dominan putih mengikuti ayahnya sedangkan koko sebaliknya. Kami sangat sayang pada keluarga kambing ini terutama kiki dan koko karena mereka masih kecil dan sangat menggemaskan. Setiap hari kami selalu bermain bersama sampai mereka tumbuh besar.

Minul kemudian dikawinkan dengan kambing berbulu cokelat milik tetangga. Ia melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan berbulu cokelat. Kami beri nama miki dan miko. Kemudian minul kawin lagi dengan koko (anaknya sendiri). Sangat tidak sopan ya kelakuan ya. Tapi wajar saja mereka kan binatang. Hehe. Anak minul dan koko hanya satu dengan tubuh yang sangat besar saat baru lahir sehingga minul kesulitan mengejannya. mama memberi nama anak kambing itu si montok. Perkawinan berikutnya minul dengan koko berikutnya menghasilkan anak kembar laki-laki yang kami beri nama riki dan riko.

Kami harus merelakan perpisahan dengan kambing-kambing kesayangan kami karena jumlahnya yang semakin banyak sehingga kami tidak kuat mencari makannya lagi. Belum lagi ibuku hamil dan kami pindah rumah yang tidak ada pekarangannya. Kambing-kambing pun di jual, kecuali riko yang sakit dan dipotong untuk makan bersama. Aku dan adikku menangis sedih karena harus berpisah dengan sahabat-sahabat kami. Tapi kenangan tentang mereka tak akan pernah terlupakan.

I love you minul ^^

Love, love, love :*

*nb: aku ga punya foto minul karena dulu ga punya kamera 🙁

Share To
Leave a Comment