FiksiCerita BersambungFiksiCerita BersambungKemana Langkah Itu Pergi

Kemana Langkah Itu Pergi? (Butir Tiga)

04 May 2015

Hari  ini hari Sabtu dan bapak tidak masuk kerja lagi karena harus mengantarkan aku ke dokter gigi di rumah sakit. Saat itu pukul 7 pagi dan rumah sakit sudah penuh dengan orang yang akan berobat. Aku minta tolong temanku yang bekerja di rumah sakit tersebut untuk didaftarkan berobat. Alhamdulillah dengan bantuan temanku pendaftaran jadi lebih cepat. Namun aku masih harus mengantri di poli gigi.

Tiba saatnya perawat poli gigi memanggil namaku. Aku masuk ke ruangan poli gigi dan tercium bau khas seperti bau pasta gigi. Saat aku masuk masih ada anak kecil yang sedang dicabut gigi susunya. Ia tampak tidak ketakutan. Mungkin sudah terbiasa datang ke dokter gigi. Aku duduk di depan meja dokter sambil menunggu. Setelah selesai berbicara pada ibu si anak, dokter menghampiriku.

Dokter bertanya seputar masalahku. Kujelaskan bagaimana aku bisa sampai di rujuk kesini. Kuperlihatkan rontgen panoramic. Ku berikan juga obat dari dokter yang merujukku. Dokter menyuruhku duduk atau lebih tepatnya berbaring di kursi khusus pasien gigi. Beliau mengarahkan lampu di atas kepalaku untuk mempermudah melihat ke dalam rongga mulutku. Aku disuruh membuka mulut selebar-lebarnya tapi aku tak bisa. Leherku terasa sakit dan sepertinya itu mempengaruhi otot-otot rahangku. Dokter memasukkan alat seperti sendok yang ujungnya terdapat kaca kecil dan memeriksa mulutku.

Setelah selesai memeriksa, dokter menyuruhku kembali ke bangku di depan mejanya. Aku heran mengapa aku tidak langsung dicabut saja giginya. Supaya sakit kepalaku segera hilang.

“Gigi bungsu kamu harus dicabut ya. Iya benar ternyata gigi bungsu kamu tumbuhnya ga bagus. Jadi ga keluar giginya. Harus dibedah.” Kata dokter gigi itu.

“Kapan dokter di cabutnya?” Tanyaku. Berharap lebih cepat lebih baik.

“Kalau jadwal sama spesialisnya baru ada satu setengah bulan ke depan. Gimana?” Dokter balik bertanya. Loh, jadi dokter ini bukan spesialis bedah mulut?

“Ga bisa lebih cepat, dokter? Kepala saya udah sakit. Saya rasanya ga akan tahan. Belum lagi leher saya kaku dan sakit kalau gerak.” Kataku mengiba.

“Sebenarnya saya juga bisa. Kamu mau sama saya aja? Kalau sama saya sabtu  depan saya jadwalkan. Tapi kamu harus minum obat sebelum operasinya supaya mulut kamu bisa buka lebih lebar.” Kata dokter gigi itu lagi.

Aku menuruti kata dokter. Kuminum obat antibiotik dan antinyeri yang diberikan. Aku pun masuk kerja kembali. Masih dengan rasa sakit yang sama. Seminggu kemudian aku kembali ke dokter gigi itu. Terus terang aku sangat takut menjalani bedah gigi geraham ini. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit aku terus menerus berdoa.

Tiba saatnya aku masuk ke ruang dokter gigi. Dokter memasang rontgen panoramic-ku dan menyuruhku berbaring di kursi khusus pasien. Aku terus berdoa. Dokter mempersiapkan dirinya. Aku disuruh membuka mulut selebar yang aku bisa. Aku memejamkan mata karena silau, dan karena takut. Aku merasa gusiku tertusuk sesuatu dan setelah itu aku bagian gusi belakang sekitar tempat tertusuk itu tidak berasa apa-apa. Aku hanya merakan mulutku penuh dengan cairan. Terasa ketukan-ketukan di bagian mulutku. Rasanya sangat tidak nyaman. Ingin muntah. Tak lama kemudian gigi gerahamku yang cukup besar di cabut. Aku disuruh menahan kapas yang ada di mulutku dan boleh dibuang kalau sudah satu jam. Dokter memberikan aku obat antinyeri yang harus aku minum setelah makan.

Aku dan bapak mengantri obat. Lama kelamaan gusi tempat gigi bungsu dicabut terasa amat sangat nyeri. Aku menangis karena tak tahan rasa sakit. Setelah satu jam dan kapas yang penuh dengan darah dari mulutku dibuang, aku makan dan minum obat.

Aku kembali bekerja. Saat ini sudah masuk bulan Ramadhan. Entah bagaimana apakah pengaruh gigi di cabut atau obat antinyeri yang keras tapi sakit kepalaku berangsur mereda. Aku tidak sakit kepala ketika pindah posisi dari berbaring menjadi tegak. Aku sangat senang dengan kemajuan ini walau leherku masih kaku dan sakit. Aku ikut menjalani puasa Ramadhan. Aku masih tetap minum obat antinyeri karena gigiku kadang masih nyeri dan aku takut sakit kepalaku kambuh. Begitu pula kakiku yang masih terasa seperti mengambang.

Hari ketiga puasa, aku merasa perutku sakit lagi. Kupikir karena puasa dan maagku kambuh. Aku membeli obat maag di apotek. Mudah-mudahan perutku sudah sembuh karena besok pagi aku bertugas piket sahur. Aku dan teman-teman kos membuat jadwal piket untuk membeli makan sahur di warung dekat kosan di luar. Saat dibangunkan temanku untuk piket, aku merasa perutku sakit sekali. Tapi aku tahan sekuat tenaga. Mungkin karena belum makan, pikirku. Aku memakai jaket dan pergi ke warung bersama seorang temanku.

Seharian aku menahan rasa sakit di tempat bekerja. Aku berusaha tidak menunjukkan rasa sakitku dan memperlihatkan kondisi aku-baik-baik saja. Baru ketika berbuka puasa, aku merasa sangat lemah dan sakit. Aku hanya berbaring di kamar. Hanya dengan berbaring nyeri di seluruh perutku berkurang.

“Ikaa, ikaaa.. Bangun.. Ini makan sahurnya di atas kulkas ya.” Teriak temanku sambil mengetuk pintu. Aku tersentak kaget. Aku melihat jam dan jarum jam menunjukkan angka 3. Aku pasti tertidur setelah sholat isya tadi.

Aku merasa kandung kemihku penuh dan aku segera berjalan menuju kamar mandi. Perutku terasa amat sangat sakit. Keadaan di luar kamar sudah sepi karena teman-teman makan sahur di kamar. Setelah buang air kecil aku langsung berbaring lagi di tempat tidur meredakan nyeri perutku. Bukannya reda sakit di perutku malah makin menjadi-jadi. Menjelang subuh aku sudah tak tahan lagi. Aku menelepon bapak. Satu jam kemudian bapak datang dan membawaku ke rumah sakit.

Aku masuk ke rumah sakit umum, ke ruang UGD. Aku masih dapat berjalan sambil menahan sakit. Perawat menyuruhku berbaring di brankar. Ia mewawancaraiku tentang keluhan yang aku alami. Dokter kemudian memeriksaku. Setelah itu, perawat menyuruh bapak menebus obat. Tak lama kemudian aku disuntik di lengan atas di otot dan di pembuluh vena. Lima belas menit kemudian sakit perutku mereda sedikit.

Dokter menyuruhku istirahat di rumah, tapi aku tidak mau. Aku memilih masuk kerja karena aku takut dimarahi atasanku. Sudah sering aku tidak bekerja dan aku takut dikeluarkan dari pekerjaanku. Aku kembali ke kosan, berganti pakaian, dan diantar bapak lagi ke tempat kerja. Dokter melarangku berpuasa karena kondisi lambungku yang sedang luka.

Aku memaksakan diri sekuat tenaga untuk bekerja. Beruntung besok libur jadi aku bisa pulang ke rumah. Teman-temanku juga sangat baik padaku sehingga memberikan toleransi agar aku beristirahat saja. Tapi aku bersikeras untuk dapat menyelesaikan tunggakan pekerjaanku di rumah. Aku di antar pulang ke rumah oleh kak Dean dengan membawa setumpuk berkas.

Setibanya di rumah, aku berjalan sangat sempoyongan. Kakiku makin terasa kebas sehingga membuatku tak seimbang. Aku juga menahan perutku yang sakit sepanjang jalan karena takut kak Dean khawatir. Rasanya aku sudah tidak kuat menanggung apa yang aku derita ini. Ya Allah, sakit apa aku ini?  Mengapa sakit kepalaku sembuh tetapi Engkau turunkan penyakit lain?

-Bersambung-

Sumber gambar: di sini

Share To
Leave a Comment
  1. Akhirnya rilis juga bagian ke tiga, hihihi
    Bagus siska, gw penasaran kelanjutannya

    • ayuuu makasi ya udah komen :*

      iya yu, gw mau bikin ceritanya disingkat tapi ga bisa kayaknya bakal panjang ni.. hoho