My Lifetime StoriesStory of My Life

Menulis Mimpi: The Magical of Masterplan

06 May 2015

Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia.. ~Nidji

Apakah kau percaya pada keajaiban?

Ya, aku percaya.

Cerita ini berawal saat aku kelas dua SMA. Saat itu sekolahku mengadakan motivation training bagi siswa-siswanya. Seperti motivation training pada umumya, sang trainer dengan semangat berapi-api membakar semangat kami para siswa untuk meraih kesuksesan. Beberapa siswa tampak mendengarkan dengan seksama. Sebagian lain ada yang asyik memainkan handphone. Ada pula yang mengobrol dan bercanda. Aku termasuk yang mendengarkan, tapi tidak dengan seksama.

Trainer membahas tentang visi misi kehidupan. Beliau berpesan bahwa jangan biarkan hidup kita seperti air yang mengalir tanpa tujuan. Klita harus punya tujuan. Untuk mencapai tujuan itu kita harus membuat rencana. Salah satu cara membuat rencana adalah melalui masterplan.

Aku tertarik saat trainer membicarakan tentang lifetime masterplan. Menurut beliau, membuat planning tentang hidup kita sangat perlu. Tidak perlu plan yang muluk-muluk, cukup dengan plan setiap bulan mengenai apa yang akan kita lakukan setiap harinya. Kemudian dilanjut dengan plan tahunan, yaitu target yang harus kita capai setiap bulannya. Selanjutnya adalah lifetime masterplan, yaitu rencana kehidupan kita mau seperti apa. Sang trainer mencontohkan untuk masterplan harian dan bulanan. Contohnya untuk para siswa kelas 12 yang akan menjalani UN. Buat rencana harian misal minggu pertama mengulang pelajaran biologi kelas X semester 1, kemudian akhir pekan mengadakan tes mandiri. Begitu pula minggu berikutnya untuk pelajaran yang lain. Setiap bulan direncanakan untuk belajar sampai menjelang UN.

Meskipun tertarik, aku menganggap motivation training itu hanya angin lalu saja. Aku baru membuat masterplanku saat kelas tiga. Saat itu beredar kabar bahwa angkatanku akan menjalani UN pertama dengan 6 mata pelajaran. Aku begitu khawatir karena aku tidak bisa seperti teman-temanku yang mengikuti les tambahan di bimbel. Saat itu kondisi finansial orang tuaku sedang kacau.

Aku mengingat-ingat apa yang diucapkan trainer. Aku mulai membuat masterplan bulanan tentang mata pelajaran apa yang akan kuulang. Aku membuat target tahunan setiap bulannya sampai menjelang UN. Aku pun membuat lifetime masterplan yang saat itu aku pikir hanyalah sebuah gurauan. Aku berpikir masterplan itu terlalu muluk untuk dicapai anak seperti aku. Lifetime masterplanku kurang lebih seperti ini:

DSC_0261[1]Gambar 1: Lifetime masterplan buatanku πŸ˜€

Keajaiban demi keajaiban terjadi. Setidaknya menurut orang seperti aku, ini merupakan keajaiban. Alhamdulillah, seiring berlalunya tahun aku di kelas tiga, aku lulus UN. Hal yang paling membuatku bangga adalah aku lulus pula dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia. Hal yang selama ini menjadi mimpiku untuk bisa kuliah dan menjadi generasi pertama di keluargaku dan lingkunganku yang dapat mengenyam pendidikan tinggi. Maklum, stigma masyarakat di lingkunganku adalah hanya orang kaya yang bisa kuliah. Tapi alhamdulillah, dengan ijin Allah, aku bisa membuktikan bahwa itu tidak benar.

Masalah lain muncul karena aku harus membayar biaya awal di universitas. Walaupun sudah memperoleh keringanan dengan biaya yang rendah, tapi tetap saja bagi keluargaku mustahil tiba-tiba mendapatkan uang. Tapi Allah membukakan jalan melalui Om Hari, bos bapak, yang memberikan bantuan biaya pendidikan untuk awal kuliah. Alhamdulillahi rabbil alamin.

Dulu aku pikir, karena kebanyakan nonton sinetron, pekerjaan sambilan anak-anak kuliah adalah menjadi pelayan part time di sebuah restoran -ditambah bumbu bertemu dengan pangeran pujaan hati yang makan di restoran tersebut- :p . Tapi alhamdulillah, Allah membukakan jalan lain. Aku diterima mengajar part time di sebuah bimbingan belajar. Aku mengajar anak-anak SD, SMP, dan SMA. Melalui pekerjaan ini aku menemukan passion ku yang selama ini aku cari. Aku suka mengajar, berbagi pengetahuan dan berbagi cerita dengan adik murid. Aku juga menemukan teman-teman yang baik dan menyenangkan.

562129_2051223376041_813614183_nGambar 2: Bersama murid-murid di bimbingan belajar πŸ˜‰

Setiap selesai kuliah, aku melewati koridor kampus yang penuh dengan mading. Biasanya ada info-info tentang beasiswa. Aku rajin mengecek bagian mading ini. Suatu hari, ada info tentang beasiswa dari Yayasan Karya Salemba Empat (KSE). Aku pun mengumpulkan persyaratan yang diminta. Untuk bisa mendapatkan beasiswa ini sangat ketat, perlu tes administrasi dan wawancara. Alhamdulillah, Allah memberikan aku kesempatan berharga, yaitu mendapatkan beasiswa ini. Selain mendapat beasiswa, yayasan ini juga mendirikan paguyuban di lingkungan universitas untuk sesama penerima beasiswa. Banyak kegiatan paguyuban tersebut, seperti bakti sosial, seminar, rumah pintar dll. Tapi sayang sekali aku tidak bisa ikut kegiatan-kegiatannya karena aku masih harus mencukupi kebutuhan hidup lain dengan mengajar dan membantu ibuku berjualan. Maafkan aku ya teman-teman paguyuban. Terima kasih yang sebesar-besarnya buat yayasan KSE yang sudah membuat mimpiku jadi nyata.

Akhirnya aku lulus kuliah. Sesuai mimpiku yang dikabulkan Allah, aku mendapat predikat cum laude. Aku sangat bangga bisa mengajak orang tua dan keluargaku menghadiri acara wisuda. Momen ini membuatku terharu karena berkat ijin Allah,Β  perjuanganku, dan dukungan orang tua, keluarga, orang-orang sekitar, dan alam semesta, aku bisa berada diantara wisudawan-wisudawan lain dengan memakai toga.

1157582_10201354778544101_690108099_nGambar 3: Graduation day πŸ™‚

Aku percaya keajaiban, tapi bukan keajaiban negeri dongeng seperti film Barbie dan princess yang aku suka. Aku percaya bahwa keajaiban adalah bentuk dikabulkannya doa, mimpi, harapan, dan perjuangan yang selalu kita lantunkan kepada Allah SWT. Aku juga percaya bahwa apa yang aku tulis di masterplan-ku bukanlah obsesiku, melainkan bentuk doa yang kuukir, hingga setiap kali aku membacanya, aku pun terus berdoa.

Cerita ini bukanlah suatu bentuk kesombongan bahwa aku bisa berhasil. Aku hanya ingin berbagi, ingin memotivasi. Aku selalu menceritakan kisah ini pada adik-adik kandungku serta adik-adik muridku di bimbel bahwa tak ada yang tak mungkin jika kita mau berusaha dan jangan lupa berdoa. Walaupun terkadang apa yang kita tulis di masterplan tidak seperti kenyataan yang terjadi, tapi aku yakin itu semua karena Allah sudah memilihkan jalan yang lebih baik untuk kita.

β€œBoleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Sekarang, apakah kau percaya keajaiban? πŸ™‚

Share To
Leave a Comment
  1. Kereen siskaaa!

    • Makasi liaaaa :*

  2. Terharu,,semangat siska,, semangat untuk mewujudkan masterplan berikutnya yg lebih besar yaitu kebermanfaatan ilmu yg sudah didapat agar berguna bagi org lain, bangsa, negara, dan agama. Sayang siskaa :-*

    • Aamiin Ya Rabbal Alamin.. Makasi ya nda sayang udah komen.. aku terharu.. πŸ˜€