FiksiCerita BersambungFiksiCerita BersambungKemana Langkah Itu Pergi

Kemana Langkah Itu Pergi? (Butir Empat)

24 July 2015

 

Aku berbaring di tempat tidur sepanjang hari. Rasanya lebih nyaman daripada aku harus duduk atau berdiri. Posisi duduk dan berdiri hanya memicu rasa sakit yang tak tertahankan. Aku hanya keluar jika ingin buang air.

“Mama anterin aku ke rumah sakit yuk Ma. Kok sakit perut aku ga sembuh-sembuh ya. Padahal obat yang dari rumah sakit sebelumnya aku minum terus.” rintihku pada Mama.

“Yaudah ayo kita siap-siap dulu.” kata Mama.

Kami berangkat ke rumah sakit. Karena hari ini hari Sabtu, maka yang buka hanya IGD. Kejadian yang sama seperti terulang saat aku berada di IGD sebelumnya. Mungkin SOP-nya seperti itu. Aku ditensi, diperiksa lab, diperiksa perutnya. Hasilnya? Sama. Dokter hanya bilang kalau itu sakit maag. Aku diberi suntikan pereda nyeri. Sesaat kemudian aku disuruh pulang dengan diberi resep tambahan selain meneruskan obat sebelumnya.

Setelah efek obat hilang, aku mulai merasa sakit kembali. Seolah-olah ada jari dengan kuku yang panjang yang mencakar dan menggaruk perut kanan dan kiriku tanpa ampun. Anehnya, saat aku berbaring telentang, nyerinya sedikit mereda. Tapi saat aku duduk, berdiri, bahkan hanya miring kanan kiri pun si jari pencakar bekerja lagi membuat ku menangis. Tapi dengan kondisi leher yang kaku dan sakit, aku merasa pegal luar biasa jika harus telentang saja. Sungguh ironi di atas ironi.

Tibalah hari yang aku takutkan, hari Senin. Aku bersusah payah bangun dari tempat tidur untuk berangkat bekerja. Saat aku mencoba berdiri tempat tidur, dadaku terasa sesak luar biasa. Aku bahkan sulit sekali bernapas.

“Mamaaaaaaa… Bapaaaakkkkk.. Aku ga bisa napas.. Dadaku sesakkk…” teriakku disela-sela tarikan napas. Semakin aku menarik napas semakin sesak dadaku. Aku merasa lemas sekali. Aku berpikir apakah mungkin aku akan mati sekarang? Ya Allah, aku takut. Aku belum siap.

Mama yang saat itu sedang menyapu lantai tergopoh-gopoh menghampiriku. Begitu pula Bapak yang tiba-tiba sudah menahan tubuhku agar tidak ambruk.

“Istighfar Ka, istighfar!” seru Mama tak kalah panik. Orangtuaku membaringkan ku ditempat tidur.

“Aku kayak mau mati, Ma.” ucapku asal sambil menangis. Makin sesak rasanya dadaku.

“Jangan ngomong gitu.” kata Mama tajam. “Istighfar coba istighfar.”

Aku berusaha sekuat tenaga mengatur napas yang tak menentu ini. Kutarik napas perlahan sambil istighfar dalam hati. Aku belum mau mati sekarang. Aku harus tenang. Sedikit demi sedikit udara mulai memasuki rongga dadaku. Beberapa saat kemudian aku dapat bernapas normal lagi. Air mataku tak henti-hentinya terurai.

“Udah ga usah masuk kerja aja.”kata Bapak. “Kondisinya lagi kayak gini.”

“Aku takut diomelin Pak. Kemarin kan udah banyak ga masuk.” ujarku sambil menangis.

“Ya kondisinya lagi kayak gini. Udah telepon aja atasannya.” kata bapak lagi.

Setelah berdebat dengan Bapak, aku memberanikan diri menelepon atasanku. Syukurlah beliau memberikan aku ijin dengan syarat aku harus segera berobat. Sore itu aku segera berangkat ke rumah sakit.

Kami berangkat ke rumah sakit mengendarai motor. Aku tak kuat sekali harus duduk cukup lama di motor. Akhirnya Bapak memutuskan untuk masuk ke rumah sakit terdekat, karena rumah sakit yang mengcover BPJS Kesehatan jaraknya cukup jauh. Perutku rasanya semakin terasa di tusuk-tusuk. Siksaan ini tak kunjung berakhir karena aku masih harus mengantri ke dokter spesialis penyakit dalam. Ya, aku memutuskan langsung berobat ke dokter penyakit dalam karena masuk UGD pun aku tak ada perbaikan.

Aku ditangani oleh dokter muda yang baik. Ia begitu ramah menangani aku yang terus menerus merintih karena kesakitan. Ia merekomendasikan aku untuk dirawat saat itu juga. Tapi aku harus menjalani serangkaian tes sebelum masuk ke ruang rawat.

Pertama aku menjalani tes laboratorium dimana darah venaku diambil. Selanjutnya aku dibawa masuk ke ruang radiologi untuk rontgen. Aku meronta saat disuruh berbaring karena tidak kuat berdiri saat aku akan difoto rontgen.

“Mbak, saya ga kuat tiduran Mbak. Huhuhu. Sakit banget.” Jeritku sambil menangis. Aku sudah tak memikirkan rasa malu berteriak-teriak di tempat umum.

“Sebentar aja ko Mbak. Coba dilurusin dulu badannya.” kata petugas radiologi mencoba sabar.

“Ga bisa Mbak! Sakit banget! Ga tahan saya Mbak! Udah saya mau miring aja saya ga kuat!” teriakku makin parah. Rasa sakit makin menggerogoti seluruh rongga perutku tatkala aku disuruh berbaring telentang di atas alas rontgen yang keras. Tubuhku yang menahan sakit tak kuasa dan selalu membelok mencari posisi yang lebih nyaman.

Petugas radiologi yang kuwalahan memanggil satpam untuk membantu memegangiku yang terus saja meronta. Setelah berjuang sekuat tenaga, akhirnya sesi foto yang sangat tidak menyenangkan itu berakhir juga. Aku diantar satpam ke ruang rawat dan aku bisa sedikit bernapas lega karena aku bisa berbaring.

Hari demi hari di bulan Ramadhan terlewati di rumah sakit ini. Aku kasihan pada Mama, Bapak, adikku (Risti dan Liana) yang terpaksa harus menjalani ibadah puasa di rumah sakit. Setiap hari keluargaku bergantian menjagaku. Begitu pula Mas Doni yang setiap akhir pekan mengunjungiku. Juga nenek Nuni, tetanggaku yang kerap kali datang menjagaku, walaupun ia sudah tua. Beberapa teman juga datang menjengukku. Hanya itulah hiburanku selama di rumah sakit ini.

Perkembangan penyakitku juga masih belum jelas. Dokter ramah itu setiap hari datang, bahkan saat hari libur. Ia menjadwalkan aku menjalani USG. Dokter yang melakukan USG mengatakan bahwa organ dalam perutku normal. Kemudian aku dirontgen. Ternyata hasilnya menurut dokter aku mengalami pleuritis tuberkulosis. Itulah yang menyebabkan perut bagian bawahku terasa sangat nyeri. Kuman tuberkulosis ini menyerang rongga diantara lapisan penutup paru kananku. Aku takut setengah mati. Bagaimana bisa aku kena penyakit ini? Tapi setelah dilakukan tes BTA dan tes mantoux hasilnya negatif. Aku juga tidak mengalami gejala-gejala seperti orang tuberkulosis paru. Aku tidak mengalami sesak dan keringat dingin di malam hari. Berat badanku turun karena lambungku yang sakit tapi tidak terlalu banyak turun. Tapi aku tetap takut. Takut akan kenyataan aku mengalami tuberkulosis. Akhirnya aku menjalani pengobatan OAT (Obat Anti Tuberkulosis). Dokter penyakit dalam itu bilang bahwa pleuritis tuberkulosis tidak menular karena termasuk ekstra (diluar) paru. Tapi aku harus tetap waspada. Aku selalu memakai masker dan tidak berani bertemu dengan orang lain.

Aku merasa tubuhku semakin hari semakin lemah. Selain itu aku terus menerus merasa ingin buang air kecil. Aku juga sulit BAB. Mungkin pengaruh karena aku terlalu banyak berbaring. Orang tuaku bergantian mengantarkan aku ke kamar mandi. Tapi beberapa kali aku terjatuh saat berjalan dari dan ke kamar mandi. Kakiku seolah berubah menjadi agar-agar sehingga tak mampu menopang berat tubuhku. Berikut rincian proses aku terjatuh.

1. Aku terjatuh saat tengah malam. Aku baru saja keluar dari kamar mandi dan saat akan melangkah keluar, kakiku tiba-tiba lemas tak bisa diangkat. Aku menangis berteriak-teriak karena sakit, kaget, dan lemas sampai penjaga pasien di sebelahku panik dan memanggil perawat. Aku takut sekali karena tiba-tiba saja kakiku amat sangat lemas. Akhirnya dengan bantuan perawat, bapak mengangkatku ke tempat tidur.

2. Aku terjatuh saat siang hari, saat hanya Mama yang menjaga. Aku langsung terduduk di kaki mama yang dengan sekuat tenaga menahanku agar tidak jatuh dengan keras. Kakiku amat sangat lemas dan aku hanya bisa menangis sedih karena beberapa lama aku dan mama dalam posisi itu. Aku melihat sekeliling dan tak ada satupun orang. Bel terletak cukup jauh dari jangkauan aku dan mama. Akhirnya dengan kekuatan seorang ibu yang panik, mama berhasil memapahku kembali ke tempat tidur.

3. Aku terjatuh lagi saat malam hari. Sama seperti sebelumnya aku terjatuh duduk dengan dentuman yang cukup keras saat akan ke kamar mandi. Setelah itu kakiku benar-benar amat sangat lemas.

Aku diijinkan pulang setelah sepuluh hari dirawat di rumah sakit. Dokter mengatakan untuk mengatasi penyakitku butuh waktu yang lama sehingga tidak mungkin aku dirawat terus menerus. Lagipula biaya yang harus aku dan keluargaku tanggung cukup besar karena rumah sakit itu tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan sehingga menguras tabungan dan semua pemasukan. Aku pulang dengan kondisi masih menahan nyeri di perut kanan dan kiri, kaki dan tubuh lemas, rasa sedih dan putus asa karena belum bisa sembuh dengan cepat, dan kehabisan uang. Aku kira ini adalah akhir dari episode penyakitku. Tapi ternyata aku salah besar. Ini semua belum apa-apa dibanding apa yang akan terjadi kemudian.

-Bersambung-

Sumber gambar: di sini

Share To
Leave a Comment
  1. Ditunggu kelanjutannya

    • siap aji… hehe.. makasih udah mampir 😀