FiksiCerita Pendek

Kenapa Sih Aku Nggak Bisa Seperti Mereka?

28 July 2015

“Selalu begini. Aku selalu menjadi yang terbodoh, terkuper, termiskin, dan ter-tidak up to date.” maki Elis dalam hati.

Elis melempar tasnya dan langsung berbaring di kasur. Pertemuannya tadi dengan teman-teman kuliah sangat membuat dirinya kesal. Bagaimana tidak, secara tidak langsung teman-temannya menyindir perihal barang-barang yang dipakai Elis yang bukan barang mahal dan bermerek terkenal.

“Lis, ini tas kamu merek apa? Kok aku belum pernah lihat ya?” tanya Selena, anak pengusaha yang selalu memakai barang-barang bermerek dari dalam dan luar negeri.

“Elis, ini baju yang kamu pakai baju obral ya? Aku lihat kemarin di toko lho. Warnanya sama persis sama yang kamu pake.” cecar Amira, si cantik adik pengacara yang selalu tampil modis dan trendi.

“Wah Lis, ini bukannya HP kamu dari kuliah ya? Ya ampun udah jadul banget Lis. Ganti HP kenapa sih. Kan kamu udah kerja.” kata Leona, yang setiap bulan ganti handphone keluaran terbaru.

Elis ingat betul saat teman-temannya kemudian berkumpul membicarakan segala sesuatu yang bermerk, berkelas, mahal, dan bagus. Mereka membicarakan tentang baju keluaran desainer terbaru, make up produk terkenal, tas dan aksesoris branded,  handphone keluaran terbaru yang mereka punya dan lain sebagainya. Elis hanya ikut berpartisipasi dengan menjawab seadanya. Elis menitikkan air mata. Ia memang sudah bekerja. Ia punya penghasilan sendiri. Ia ingin sekali bisa seperti teman-temannya. Tapi entah mengapa ia tidak bisa. Ia harus membiayai kehidupan orang tuanya yang tidak lagi punya penghasilan. Adiknya juga masih bersekolah sehingga Elis harus membiayainya.

“Lagipula apa yang salah dengan baju di toko obral itu?” pikir Elis dalam hati. “Yang penting kan bajunya masih layak dikenakan. Dan tas yang aku pakai, walaupun tidak bermerk tapi masih bisa menjalankan fungsinya untuk membawa barang-barang. HP ku juga belum rusak. Masih bisa digunakan walau kadang lemot, tapi aplikasi yang dibutuhkan untuk komunikasi masih dapat dipakai. Asal mereka tau, siapa sih yang ga pingin kayak mereka? Aku juga ingin kayak mereka. Aku ingin pake barang-barang mahal, pake hp baru. Aku mau. Tapi apakah aku harus?”

Elis memikirkan itu semua sampai tertidur. Ia bermimpi menjadi orang kaya dan memakai semua barang-barang bermerk terkenal dan cantik dengan mode dan gaya terbaru.

Keesokan harinya, Elis pergi ke toko buku untuk membelikan buku tulis adiknya yang akan masuk sekolah besok. Ia juga membeli alat tulis serta perlengkapan sekolah lain. Ia baru saja selesai membayar saat mendengar seseorang memanggil namanya.

“Elis, Elis… Daritadi aku panggil juga.” seru Fela, teman kuliahnya yang terkenal suka gosip dan selalu tahu berbagai macam informasi di kampus.

“Maaf, aku ga denger tadi. Kamu sendirian? Mau beli buku atau udah beli buku?” tanya Elis.

“Tadi sih janjian mau ketemu sama Amira dan Leona mau shopping. Tapi Amira ga jadi dateng. Kalo Leona ga tau nih belum ada kabar lagi. Jadi mending nunggu di toko buku.” kata Fela panjang lebar.

“Kenapa si Amira ga jadi dateng? Bukannya dia selalu semangat kalo shopping?” tanya Elis.

“Dia lagi berantem sama kakaknya. Soalnya kakaknya ga kasih uang buat dia shopping. Si Amira kan belum kerja. Jadi buat belanja dia selalu minta dari kakaknya. Biasanya kakaknya selalu kasih karena disuruh orang tuanya. Amira kan anak bungsu kesayangan. Tapi sekarang kakaknya udah nikah. Jadi mungkin jatahnya Amira dikurangin. Si Amira marah-marah sama kakaknya. Akhirnya  kakaknya pindah rumah dan ga mau kasih uang lagi buat Amira.” cerita Fela panjang lebar.

“Kok kamu tau itu semua? Emang rumah kamu deket sama Amira?” tanya Elis.

“Amira sendiri yang cerita ke aku. Tapi ya cerita yang tadi versi aku. Kalau versi Amira, pasti dia yang merasa kalau dirinya yang benar.” jawab Fela.

“Terus, kenapa kamu ceritain ke aku? Itu kan rahasia si Amira.” tanya Elis lagi.

“Biarin aja. Aku kadang sebel sama Amira. Sukanya komentarin penampilan orang lain seolah dia yang paling perfect. Ga taunya, dia juga maksa-maksa kakaknya buat kasih uang belanja.” jawab Fela.

Elis terdiam. Ia baru tahu rahasia Amira. Semua baju-baju mahal yang ia pakai selama ini ternyata adalah dari uang hasil jerih payah kakaknya. Ia merasa beruntung karena selama lulus kuliah ia sudah mampu membeli baju dan barang-barang lain dengan uang hasil bekerja sendiri, bukan dari meminta pada orang lain.

“Asal kamu tau ya Lis, temen-temen kita itu gayanya aja yang pada selangit. Padahal mereka ga punya duit. Kayak si Leona tuh. Sering banget ganti hp. Pas aku cari tau, ternyata dia kredit. Gaji dia kan kecil. Cuma cukup buat kredit hp kali.” kata Fela.

“Ih Fela jangan bilang gitu. Paling nggak ya, Leona udah kerja.” kata Elis.

“Tetep aja ga usah sok gaya gitu. Kalau aku sih bisa belanja ini itu, pake barang-barang branded karena aku udah kerja dan gaji aku besar. Lagipula aku kan harus selalu terlihat cantik. Kalau mereka, cuma gaya aja.” ujar Fela sombong.

Elis ber-istighfar dalam hati. Fela sangat cocok dengan pekerjaannya sebagai presenter acara gosip. Ia memang suka sekali bergosip dan memamerkan kelebihannya sendiri. Elis akui memang Fela sudah memiliki gaji besar sendiri. Tapi sikapnya yang sombong sangat menyebalkan. Beruntung Elis sudah mengenal Fela dari kuliah sehingga tidak kaget dengan sikapnya tersebut.

“Oh iya Elis, kamu ditanyain lho sama temen-temen cowokku.” kata Fela bernada menggoda.

“Ditanyain bagaimana?” tanya Elis.

“Kemarin selesai ketemu sama kalian, aku lanjut jalan bareng temen-temenku. Terus aku upload foto kita. Aku tanya mana yang paling cantik, selain aku pastinya. Terus mereka serempak nunjuk foto kamu. Katanya kamu yang paling cantik. Mereka jadi nanya-nanyain nomor hp kamu dan nanya tentang kamu gitu. Ciyee Eliss.” kata Fela.

“Apaan sih Fela. Mungkin karena udah malem mereka salah lihat. Mungkin maksudnya mau nunjuk Selena atau Amira. Tapi karena aku ada diantara mereka fotonya jadi mereka salah tunjuk.”kata Elis membela diri.

“Nggak kok aku yakin mereka nunjuk kamu. Nanti aku kenalin ya kamu sama mereka. Kamu tuh cantik Elis. Jangan suka merendah sama diri kamu. Aku aja pengen bisa kayak kamu. Cantik, kalem, manis, dan humble. Menurut aku kamu perfect.” kata Fela. Jarang-jarang Fela memuji orang lain selain dirinya. Atau mungkin ia hanya berusaha menghibur Elis.

“Makasi ya Fela, aku terharu dengan pujiannya.” jawab Elis sambil bercanda. “Aku harus cepat pulang ni, adikku udah nunggu soalnya. Aku duluan ya. Dadah.” lanjut Elis sambil berjalan meninggalkan Fela.

“Oke, sampai ketemu lagi ya Lis.” kata Fela sambil melambaikan tangan.

Elis membalas lambaian tangan Fela sambil berkata, “Oh iya Fela, jangan kasih nomor hp aku ke temen-temen cowokmu ya.”

Selama perjalanan pulang, Elis berpikir dalam hati. Semua cerita tentang teman-temannya membuat ia sadar bahwa ia harus bersyukur dengan apa yang ia punya. Ia patut bersyukur karena ia membeli semua barang yang ia punya (walau barang murah dan tidak bermerk) dengan uang hasil bekerja keras sendiri. Elis juga menyadari bahwa kecantikan yang sebenarnya tidak dapat diukur dengan barang mewah dan mahal. Kecantikan sejati terpancar dari aura keindahan dalam diri setiap perempuan. Tapi satu hal yang pasti, bukan berarti orang yang memakai barang mewah itu salah atau tidak cantik. Justru mereka pastinya lebih hebat dan luar biasa karena mereka dapat meraih apa yang diinginkan. Tapi buat yang belum beruntung seperti mereka lebih baik dapat menempatkan diri sesuai kemampuan, bukan memaksakan diri dan senantiasa bersyukur atas semua karunia yang Allah SWT berikan.

“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (Al Fushilat: 51)

 

Sumber gambar: disini

Share To
Leave a Comment