FiksiCerita Pendek

Kotak Imajinasi

14 July 2015

 

“Assalamualaikum…” Terdengar salam dari suara yang akrab di telinga Nisa. Gadis kecil itu berlari menyambut ayahnya.

“Waalaikumsalam.. Ayah bawa apa?” Tanyanya spontan sambil naik di gendongan ayahnya. Ritual ini selalu terjadi setiap ayah Nisa pulang kerja. Ia selalu membawakan Nisa oleh-oleh setiap pulang bekerja.

“Ayah nggak bawa apa-apa sayang.” Kata ayah Nisa. Terlihat wajah kecewa Nisa yang langsung tertunduk lesu. Ayahnya tersenyum. Ia menurunkan Nisa dari gendongannya. “Kamu lanjutin aja nonton spongebob ya.” Sambung ayahnya sambil mengecup kening Nisa. Nisa mengangguk.

Lima belas menit kemudian terdengar suara mobil di depan rumah. Ayah dan ibu Nisa keluar rumah melihat siapa yang datang. Nisa masih tetap menonton tv yang gambarnya berwarna merah karena rusak.

“Kejutannnnn” teriak ibu dan ayah Nisa berbarengan. Dibelakangnya, dua orang sedang menggotong sebuah kotak besar. Orang itu menaruh kotak di depan tv. Mereka membuka dan mengeluarkan isinya.

“Wah asyik tv baru. Horeeee.” Ujar Nisa girang. Tv lama dipindahkan ke kamar belakang. Tv baru dipasang menggantikan tv lama yang sudah rusak. Akhirnya keluarga ini bisa menonton tv yang tidak cuma berwarna merah saja.

Sepulang sekolah keesokan harinya, Nisa mengajak Nesha, tetangga sekaligus teman mainnya untuk melihat tv barunya. Nesha terkagum-kagum karena ukuran tv Nisa yang besar. Nisa menyalakan tv dan mereka menonton acara kesukaan mereka, Laptop si Unyil, Dunia Air, dan Dunia Binatang. Setelah acara selesai, mereka bermain di luar.

Mereka menemukan kotak bekas televisi baru Nisa. Kotak itu sangat besar sehingga Nisa dan Nesya bisa masuk ke dalamnya. Mereka kemudian saling menatap. Sebuah ide muncul di kepala mereka.

“Kotak imajinasi.” Kata mereka berbarengan. Mereka tertawa bersama. “Iya seperti di film spongebob. Imajinasiii.” Kata Nisa sambil menirukan gerakan spongebob, menggerakkan tangan membentuk pelangi.

Tiba-tiba, hal yang tak terduga terjadi. Semua imajinasi berubah menjadi nyata. Putri Nisa menatap dirinya di cermin. Wajahnya terlihat cantik sekali. Rambutnya pirang menjuntai panjang di punggungnya. Ia memakai gaun merah muda yang membuatnya terlihat sangat manis. Di kepalanya terpasang tiara yang berkilau. Setelah selesai mematut-matut diri, ia keluar dari kamarnya menuju ruang pesta.

Sebuah pesta dansa yang indah digelar di istana. Banyak sekali tamu yang datang. Ada yang berdansa, ada yang berdiri bergerombol, ada yang berbincang. Semua tampak bahagia.

Putri Nisa melihat sekelilingnya. Ia menemukan sosok yang sudah akrab di matanya. Ia pun menghampiri sosok tersebut.

“Putri Nesya, kau datang juga. Lama tak berjumpa denganmu.” sapa Putri Nisa sambil berjabat tangan dan mencium pipi kanan dan kiri sahabatnya.

“Aku pasti datang pada pesta yang diadakan sahabatku.” jawab Nesya sambil tersenyum. “Cukup lama ya kita tidak bertemu. Terakhir saat pesta wisuda sekolah putri.” sambungnya.

“Iya. Saat kau menginjak gaunku sehingga aku tersandung dan menabrak pelayan pembawa baki minuman.” jawab Nisa.

“Dan semua gelasnya jatuh ke lantai. Airnya tumpah ke gaunku. Gelasnya pecah berhamburan. Bunyinya memecah nuansa sendu penobatan Putri Alika. Kasihan dia. Semua mata jadi tertuju pada kita, bukan kepadanya.” kenang Nesya.

“Kau membuat kegaduhan disaat yang tepat.” puji Nisa. “Aku tak suka pada putri Alika yang selalu meremehkan kita. Biar saja dia. Yang aku khawatirkan adalah kalau sampai kepala sekolah menghukum kita.” lanjut Nisa.

“Paling tidak ia hanya memeloti kita. Hahaha.” jawab Nesya diiringi tawa Nisa.

Kedua putri terus bercerita tentang kenangan saat mereka sekolah keputrian. Selain itu, mereka juga menceritakan kehidupan masing-masing setelah kembali ke kerajaan. Mereka sangat menikmati pertemuan itu. Saat musik berubah menjadi instrumen tarian gembira, mereka maju ke lantai dansa dan menari bersama.

Tiba-tiba bumi terguncang dengan keras. Semua yang hadir dalam pesta begitu panik dan takut. Semua berhamburan tak tentu arah. Terdengar suara berteriak-teriak memanggil Nisa.

“Nisa, nisaaaaa! Ayo keluar cepat! Sudah sore! Ayo pulang!”teriak suara dari luar.

Atap istana terbelah. Terlihat langit sudah berubah warna menjadi jingga. Wajah Ibu terlihat di sisi lain atap istana seperti raksasa yang sedang mengguncang istana.

“Iya Bu.” jawab Nisa sambil cekikan. “Besok kita main lagi ya Nesya.” pinta Nisa.

“Oke. Besok kita buat cerita lain lagi ya”. jawab Nesya. Mereka pulang ke rumah masing-masing. Istana yang indah sudah berubah kembali menjadi kotak bekas TV. Tapi imajinasi tak akan pernah hilang ditelan waktu.

Written by Siska Yuanita

Sumber gambar: disini

Share To
Leave a Comment