My Lifetime StoriesSignificant Others

Untuk Hari Bahagia Sahabatku: Niken

30 July 2015

Waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Kami sudah berkumpul di lapangan sekolah untuk menjalani MOS SMA hari pertama.  Suasana begitu tegang karena kami berhadapan dengan senior yang baru pertama kali kami temui. Mereka memeriksa atribut kami satu persatu. Aku merupakan salah satu siswa dengan kesalahan atribut terbanyak, karena saat persiapan MOS di sekolah aku sedang sakit sehingga tidak datang. Alhasil, aku malah membawa perlengkapan dengan warna untuk kelas lain.

Setelah selesai aktivitas di lapangan, kami masuk ke kelas. Aku duduk sendirian karena aku tidak punya teman dari SMP. Rata-rata teman-teman lain berasal dari sekolah yang sama sehingga mereka sudah mempunyai teman. Sifatku yang tidak terlalu mudah berteman dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru membuatku hanya duduk sendiri selama MOS ini, di bangku baris kedua dari belakang.

sama niken

Aku tidak ingat bagaimana aku bisa berkenalan dengan siswi yang duduk bangku di sebelah kananku, bersama temannya dari SMP yang sama. Aku ingat nama kerennya adalah “Imago” (nama yang berhubungan dengan biologi sebagai nama panggilan saat MOS). Nama aslinya Niken. Menurutku, ia terlihat pendiam saat itu dan jarang bergabung dengan teman-teman SMPnya. Padahal sebagian besar siswa dan siswi di sekolah ini salah satunya dari SMP tersebut.

Aku dan Niken duduk satu meja setelah selesai MOS. Kami mengikuti ekstrakulikuler (ekskul) yang sama, yaitu ekskul jurnalistik dan koperasi. Kami membuat majalah dinding, mencari artikel, dan yang paling keren, menjadi panitia pembuatan buku tahunan untuk siswa kelas 3. Aku dan Niken menjadi panitia yang berasal dari kelas X. Kami senang sekali karena kami diperkenankan mendapat buku tahunan eksklusif itu. Selain itu, kami jadi lebih banyak  tahu tentang senior. Hehe.

sama niken 2

Kelas X diakhiri dengan pentas seni untuk pengambilan nilai kesenian. Aku dan Niken, bersama Tiara, Kartika, dan dua siswa lain membuat parodi yang unik, seperti acara “Extravaganza” yang terkenal waktu itu. Kami “memelesetkan” (aku tidak tau bahasa Indonesia yang benarnya) nama-nama kakak kelas yang terkenal menjadi sesuatu yang lucu, tapi tetap sopan. Kami kira kakak kelas yang disebut akan marah. Tapi ternyata mereka malah tertawa. Mungkin dengan disebut dalam parodi kami, mereka merasa terkenal. Hahaha.

Aku dan Niken berpisah saat kami naik kelas XI. Niken mengambil jurusan IPS sedangkan aku mengambil jurusan IPA. Tetapi kami masih tetap bersama-sama. Aku sering ke kelas Niken, begitu juga Niken sering ke kelas aku. Kami juga pulang sekolah bersama, karena rumah kami satu arah. Niken yang sudah memperkenalkan aku pada internet, yaitu membuat email, membuat Friendster (yang saat itu sangat terkenal), mencari data dan lain sebagainya.

Aku dan Niken memiliki banyak perbedaan. Salah satunya adalah Niken berasal dari keluarga berada dan aku berasal dari keluarga yang biasa saja. Tapi Niken tidak pernah sombong. Ia sering mentraktirku makan makanan enak, mengajakku ke Dufan, dan berjalan-jalan di mall. Kami sering melakukan aktifitas bersama walau berbeda kelas. Bahkan ada teman kami yang bilang dimana ada aku, disitu ada Niken. Beberapa teman juga salah memanggil aku dengan nama Niken, dan sebaliknya.

niken

Kami lulus SMA dan masuk kuliah di universitas yang sama, namun berbeda jurusan. Kami masih sering bertemu walau tidak rutin seperti dulu. Hubungan kami sempat merenggang karena aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Sebenarnya secara tidak langsung, Niken sudah mengingatkanku, tapi aku tidak mau menuruti. Ternyata Niken benar dan aku sangat menyesal telah melakukan kesalahan itu. Aku sangat bersyukur karena setelah masalah itu selesai, hubungan kami menjadi baik kembali.

wisudaniken

Tak terasa perjalanan sampai dengan saat ini, saat dimana Niken akan memasuki suatu periode baru dalam hidup. Niken akan menikah dengan seorang kakak kelas kami di SMA dan Insya Allah aku juga. Rasa haru membuncah di dadaku, karena aku sadar bahwa usia kami sudah dewasa. Sudah sekian lama kami menjalin persahabatan, dan aku harap persahabatan ini tidak akan pernah berakhir. Aku juga selalu berharap semoga Niken selalu bahagia dan sehat sentosa selamanya.

sama niken lagi

“The greatest gift of life is friendship and I have received it.” Hubert H. Humphrey

Share To
Leave a Comment