FiksiCerita BersambungFiksiCerita BersambungKemana Langkah Itu Pergi

Kemana Langkah Itu Pergi (Butir Lima)

10 November 2015

“Aku pulang dengan kondisi masih menahan nyeri di perut kanan dan kiri, kaki dan tubuh lemas, rasa sedih dan putus asa karena belum bisa sembuh dengan cepat, dan kehabisan uang.”

Penggalan kalimat di cerita kisahku sebelumnya sangat menggambarkan kondisiku saat ini. Aku senang bisa pulang ke rumah, tapi kemudian apa? Aku masih harus dipapah saat turun dari mobil karena kakiku terasa amat sangat lemas. Perutku masih terasa amat sangat sakit. Aku tak yakin apakah pulang dari rumah sakit aku telah sembuh atau malah bertambah sakit.

Aku tak tega melihat orangtuaku yang terlihat sangat lelah menjagaku di rumah sakit. Jadi, aku putuskan untuk menampakkan kondisi baik-baik saja. Aku menerima beberapa tetangga yang datang menjengukku di rumah karena tak sempat menjengukku saat di rumah sakit. Aku mencoba menahan segala perih dan nyeri serta keterbatasan tubuhku yang lain.

Aku duduk di tepi tempat tidur, menjawab pertanyaan-pertanyaan beberapa tetangga perihal kondisiku. Aku tak dapat berkonsentrasi pada obrolan kami karena aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku. Aku merasa kakiku kiriku selasa melayang tapi berat. Aku ingin menggeser tubuhku agar bisa bersandar di kepala tempat tidur tapi pinggulku juga terasa amat sangat berat. Tetanggaku membantu mengangkat tubuhku dan menyenderkanku. Oh, mengapa aku tidak merasakan kakiku dan badanku terasa amat sangat berat? Apakah aku bertambah gemuk selama berada di rumah sakit?

Aku beristirahat di rumah seharian. Aku berbaring terus karena aku tak kuat menahan sakit jika harus duduk. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Semua kebutuhan dasarku dilakukan di atas tempat tidur. Selain itu, aku merasa kekuatan kakiku semakin lama semakin hilang. Sekarang kaki kananku pun terasa lemas dan berat. Rasanya seperti kesemutan, tapi biasanya kesemutan hanya terasa di telapak kaki. Kesemutan pada kakiku terasa menjalar sampai dengan paha. Kakiku terasa amat sangat kebas dan berat. Sekarang aku hanya kuat menggerakkan kakiku sedikit demi sedikit.

Akhir-akhir ini emosiku juga amat sangat labil. Aku sering menangis sendiri, meratapi penyakitku yang tak kunjung sembuh. Banyak yang bilang penyakitku ini karena ujian dari Allah SWT. Ada juga yang bilang mungkin aku pernah melakukan kesalahan dan dosa sehingga aku mendapat hukuman. Aku mohon ampun kepada Allah atas segala dosa yang telah kuperbuat. Bapak memanggil ustadz yang kemudian menceramahiku dan mengaji untukku. Aku menangis sejadi-jadinya, entah karena sedih atau menahan sakit.

Tiba waktunya kami harus kontrol ke rumah sakit. Bapak meminjam mobil untuk membawaku ke rumah sakit. Aku berjuang sekuat tenaga untuk berjalan (atau lebih tepatnya menggeser kakiku) menuju mobil sambil dipapah kedua orangtuaku. Aku berbaring di dalam mobil menahan sakit di perutku karena perubahan posisi dan akibat guncangan-guncangan di perjalanan. Sesampainya di rumah sakit, Bapak mengambil kursi roda dan mendorongku ke rumah sakit. Aku harus ke laboraturium dulu untuk dicek darah, hasilnya baru bisa diambil setelah satu jam. Tapi aku hanya bisa bertahan duduk di kursi roda selama 15 menit. Setelah itu, Bapak membawaku kembali ke mobil dan aku berbaring disana sementara Mama mengurus administrasi.

Satu jam kemudian Mama memberitahu kalau hasil lab sudah ada dan giliranku untuk masuk ke ruang dokter. Dokter menyambutku dengan menanyakan kondisiku saat ini.

“Dok kenapa sakit perut saya ga hilang-hilang ya? Malah tambah sakit. Udah gitu kaki saya lemas banget. Susah digerakkan.” kataku.

“Kan saya sudah bilang, kalau penyakit kayak kamu ini ga bisa sembuh dalam waktu singkat. Bisa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-bertahun. Sekarang coba gerakkin kakinya.” jawab dokter.

Aku mencoba mengangkat kakiku yang berpijak pada pijakan kursi roda. Berat sekali rasanya.

“Hmm, saya curiga kalau kuman di tubuh kamu sudah menjalar. Tapi saya belum berani ambil kesimpulan. Tapi mudah-mudahan saja tidak ya.” Kata dokternya kemudian sambil mengangkat kakiku.

“Curiga apa Dok?” Tanyaku panik. Sebenarnya mungkin aku tahu jawabannya, tapi aku juga tidak berani menghadapi kenyataan jika kecurigaanku dan kecurigaan dokter sama dan benar

“Saya belum berani ambil kesimpulan. Tapi mudah-mudahan kecurigaan saya tidak benar.” jawab dokternya yang tidak “menjawab” pertanyaanku.

Aku sudah sangat lelah karena harus duduk terlalu lama dan kesal karena dokter seperti menyembunyikan penyakitku. Mama memberondong dokter dengan pertanyaan serupa tapi tetap tidak ada jawaban.

“Oh iya Dok saya bisa minta surat ijin sakit lagi ga Dok kalau misal hari Selasa saya masih belum bisa masuk kerja?” Tanyaku diakhir kunjungan.

“Saya ga bisa kasih surat ijin sakit lebih dari tiga hari. Kalau rawat inap baru bisa sampai pulang dari rumah sakit.”

“Lalu saya gimana Dok? Kata dokter penyakit saya ga bisa sembuh dalam waktu singkat. Tapi kalau perut saya masih sakit banget gini gimana saya bisa kerja Dok?”

“Kalau menurut saya, kamu fokus dulu aja sama penyembuhan kamu. Kemungkinan kamu harus keluar dari kerjaan kamu ya.” jawab dokter itu.

Aku sudah tidak sanggup berkata-kata. Terlalu sesak dada ini memahan air mata yang sudah menggenangi pelupuk mata. Separah itukah penyakitku? Atau dokternya saja yang tidak kompeten sehingga menggantungkan diagnosa penyakitku. Kalau begini bagaimana aku bisa sembuh?

Keesokan harinya, kakiku makin terasa amat sangat kebas. Aku hanya berbaring di tempat tidur saja. Semua kebutuhanku dibantu oleh keluargaku. Risti dan Liana merangsang kakiku dengan menyuruhku untuk menekankan kakiku pada papan yang ia tekankan di telapak kakiku. Katanya supaya kakiku kuat lagi. Tapi apa daya kakiku bahkan meluncur turun sebelum sempat memijakkannya di papan.

“Mbak Ika, ko betisnya lembeknya banget, kayak ga ada isinya?” Tanya Liana sambil menusukkan jarinya ke betisku. Rasanya seperti disetrum.

“Oh iya ya ko betis aku kopong.” Ujarku. Aku selama ini tidak menyadarinya. Hanya terlihat seperti kulit membalut tulang. Aku seperti tak percaya. Mungkin ini karena aku kebanyakan berbaring dan tidak menggunakan kakiku untuk berjalan. Aku harus bangun!

“Bule, tolong anterin aku ke kamar mandi dong.” Kataku kepada Bule Ni yang sedang duduk di dekatku. Hari ini saudaraku datang ke rumah menjengukku. “Dede, panggilin Mama bantuin Mbak Ika ke kamar mandi.” Kataku kepada Liana. Aku ingin mencoba berjalan ke kamar mandi. Aku tak mau terus-terusan buang air di diapers.

Tak lama kemudian Mama datang. Mama dan Bule Ni memapahku ke kamar mandi. Rasanya sangat aneh merasakan kakiku memijak ubin. Kebas, tebal, seperti tersetrum. Aku terus berusaha menyeret kakiku menuju kamar mandi sambil menahan sakit. Ketika tiba di tangga menuju kamar mandi, kakiku mendadak kehilangan daya topangnya. Mama dan Bule Ni yang tidak siap, tidak kuat menahanku berdiri. Kami semua panik. Aku terus berpegangan pada Mama dan Bule Ni yang menahanku sehingga aku tidak jatuh terbentur dengan keras. Aku terduduk perlahan dengan kaki terlipat. Aku tidak bisa menggerakkan kakiku sama sekali. Aku panik. Aku menangis dan berteriak-teriak kesakitan. Mama dan Bule Ni juga panik. Mereka tidak kuat mengangkatku karena kakiku sama sekali kehilangan kekuatan untuk melawan gaya gravitasi. Mama menyuruh Liana memanggil Bule Mi dan Pak Nan yang duduk di depan rumah. Sesaat kemudian Mama, Bule Ni, Bule Mi, dan Pak Nan mengangkat tubuhku untuk dibawa ke tempat tidur. Aku berteriak-teriak dan marah-marah ketika Pak Nan menyentuh perut bagian kanan atas yang terasa amat sakit. Aku berteriak pula saat Bule Ni menyentuh leherku yang kaku. Setiap sentimeter tubuhku terasa sakit semua. Aku masih berteriak-teriak sepanjang jalan menuju kamar yang terasa seperti seabad. Aku menangis kehilangan kewarasan. Sesampainya di tempat tidur aku berbaring telentang, menenangkan diri sambil menunggu rasa sakit di tubuhku mereda. Keluargaku menenangkanku. Yang lebih menyakitkan lagi adalah aku menyadari kenyataan bahwa aku lumpuh.

AKU LUMPUH?

Ya Allah. Perasaanku campur aduk. Aku kehilangan kendali. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku berteriak. Aku marah. Aku sedih. Aku kesal. Aku takut. Aku terus berusaha menggerakkan kakiku tapi hasilnya nihil. Bahkan jari-jari kakiku pun tak bisa bergerak. Hanya jempol kaki yang bisa bergerak sedikit. Itupun membutuhkan konsentrasi yang amat menguras tenaga.

Aku menghubungi temanku yang seorang fisioterapis. Ia datang malam harinya dan memeriksa kakiku. Ia menduga -seperti dugaanku, dan mungkin dugaan dokter di rumah sakit-, kalau bakteri TB di tubuhku sudah menjalar ke tulang belakang. Efeknya bisa timbul jadi kelemahan di kaki. Aku sebenarnya sudah punya feeling ke arah ini tapi aku tak berani berspekulasi, apalagi menghadapi kenyataannya. Temanku ini menyarankanku untuk kembali berobat ke rumah sakit. Aku dan orangtuaku pun menyetujui dan kami akan berangkat ke rumah sakit keesokan harinya.

Aku mencoba untuk tidur walau aku masih diliputi keletihan fisik dan rohani yang luar biasa. Berat rasanya menerima kenyataan ini. Bagaimana bila aku lumpuh selamanya? Bagaimana bila aku tak bisa berjalan lagi? Kemana langkah ini pergi? Semua pikiran berkecamuk dalam benakku seolah semua ingin dimuntahkan dari otakku. Ya Allah, aku tak sanggup.

Aku tersentak, terbangun dari tidurku saat tengah malam. Aku merasa ingin buang air kecil, tapi urin dari kandung kemihku seperti terkunci rapat tak bisa keluar. Rasanya amat sangat sakit. Sudah beberapa hari ini aku kesulitan buang air kecil. Ibarat air dalam pipa yang sudah penuh dan terus mendesak untuk keluar, tapi kerannya tak kunjung terbuka. Aku menangis dan berteriak memanggil Mama dan Bapak. Mereka tergopoh-gopoh mendatangiku. Dari wajah mereka aku tahu kalau mereka baru saja terlelap tidur dan kaget terbangun karena teriakanku. Oh, anak macam apa aku ini. Sangat menyusahkan orangtua. Orangtuaku sudah hapal kebiasaanku jika ingin buang air kecil pasti kesakitan. Dengan sabar Mama mengelus-elus perutku sambil membacakan doa dengan terkantuk-kantuk. Setelah beberapa saat menahan sakit yang begitu berat, aku bisa buang air kecil.

Tak sabar rasanya ingin segera esok hari, melanjutkan ikhtiar mencari kesembuhan.

 

(Bersambung)

 

Sumber gambarĀ disini

Share To
Leave a Comment