FiksiCerita BersambungFiksiCerita BersambungKemana Langkah Itu Pergi

Kemana Langkah Itu Pergi (Butir Enam)

21 February 2016

 

Keesokan harinya orangtuaku kembali membawaku ke rumah sakit, tapi rumah sakit yang berbeda dengan sebelumnya. Aku digotong karena benar-benar tidak mampu menahan rasa sakit. Di taksi aku terus menerus menangis karena rasa sakit di perutku yang amat sangat tak tertahankan. Kesabaranku terus diuji dengan macetnya jalanan menjelang waktu berbuka puasa. Setibanya di IGD rumah sakit, aku langsung di gotong ke atas brankar. Aku berteriak-teriak karena perawat yang menggotongku menyenggol bagian tubuhku yang sakit.

Beberapa saat kemudian, dokter IGD datang memeriksaku. Ia menanyakan perihal keluhan yang kualami. Kuceritakan semuanya, mulai dari aku dirawat sebelumnya, kakiku yang tak bisa digerakkan, sulit buang air kecil, nyeri perut kanan atas, leher sakit, BAB juga kadang sulit. Hanya keluh kesah yang tidak kuceritakan pada dokter itu. Dokter itu meminta hasil rontgen dan lab dari RS sebelumnya dan beliau meninggalkan tempatku.

Dokter tadi kembali lagi bersama seorang dokter lain. Beliau menanyakan beberapa hal yang sudah ditanyakan sebelumnya. Ia memeriksa kakiku dan memencet jari-jari kakiku. Aku hanya bisa merasakan sentuhannya. Tapi jika tidak melihat, aku tidak tahu jari mana yang dipencet. Dokter yang baru datang kemudian memberitahukan kalau aku harus dirawat. Kemudian orangtuaku mengurus administrasi dan jaminan. Untung di rumah sakit ini bisa menggunakan JKN-BPJS Kesehatan.

Aku dipasang kateter urin sehingga aku tidak merasakan sakit untuk buang air kecil. Tapi tetap saja badanku terasa kaku dan sakit karena aku tidak bisa membalikkan badan sendiri. Aku hanya bisa telentang. Jika ingin miring kiri atau kanan, orangtuaku memindahkan posisiku karena aku tak dapat mengangkat kakiku. Aku merasa amat sangat tidak berdaya. Seperti patung hidup. Dokter spesialis saraf datang mengunjungiku. Ia melakukan serangkaian tes dengan menggunakan jarum dan kapas yang dioleskan bergantian di kaki, perut, dan wajahku. Aneh sekali aku tidak dapat merasakan kapas di kaki dan perut bagian bawahku, tapi kapas itu terasa jelas saat diusapkan di wajahku. Namun saat jarum yang disentuhkan di kakiku, aku hanya merasa seperti tersetrum aliran listrik ringan. Kemudian ia mengulami tes yang sudah dilakukan dokter IGD sebelumnya. Hasilnya pun sama. Aku salah menjawab semua pertanyaan jari kaki mana yang dipencet oleh dokter. Samar-samar kudengar dokter spesialis saraf itu menggumamkan kata “tetraplegia” kepada perawat dan ia berkata bahwa aku harus dirontgen tulang belakang.

Keesokan harinya, aku menjalani pemeriksaan radiologi tulang belakang. Perawat yang agak jutek yang membantuku. Mereka agak sedikit kasar saat membantu membuka bajuku dan memindahkanku dari tempat tidur ke tempat tidur rontgen. Tapi pekerjaannya cepat sehingga aku tidak terlalu lama merasa sakit. Malam harinya dokter spesialis saraf visit untuk membaca hasil rontgenku. Beliau memanggil Bapak untuk berbicara. Sebenarnya aku ingin tau apa yang dibicarakan. Kenapa dokter tidak langsung memberitahu sakit apa aku ini di depanku? Aku menanti Bapak dengan perasaan cemas.

Bermacam pikiran negatif berkecamuk di otakku. Mungkinkah apa yang dikatakan teman fisioterapisku itu benar? Bahwa bakteri TB sudah menjalar ke tulang belakangku sehingga menyebabkan aku lumpuh seperti ini. Aku mulai mencari di internet dengan kata kunci “Tuberkulosis Tulang Belakang”. Aku tercengang saat membaca bahwa semua gejala-gejala yang ada di artikel, aku alami. Diagnosa yang ada di artikel itu Spondylitis Tuberculosis. Tapi, aku butuh informasi lebih. Pengalaman-pengalaman orang lain yang mengidap penyakit yang sama denganku. Apakah penyakit ini bisa disembuhkan? Ya Allah, kepalaku seperti mau pecah memikirkan ini semua. Di sela kesibukanku berspekulasi sendiri, Mas Doni yang baru saja pulang kerja dating untuk menemaniku.

“Gimana Ka? Udah ada keputusan? Bapak udah selesai ketemu dokter spesialis sarafnya?” tanya Mas Doni setibanya di sisiku.

“Belum. Mas, aku takut. Coba baca ini.” Kataku sambal memberikan artikel tentang tuberculosis tulang belakang yang ada di telepon genggamku.

Mas Doni membaca artikel yang kuberikan. Setelah selesai membaca, ia berpaling ke arahku.

“Udah jangan terlalu dipikirin. Ini kan baru hasil kamu browsing. Belum diagnosa dari dokternya.” kata Mas Doni menenangkanku.

“Aku takut. Aku takut ga bisa sembuh. Aku takut lumpuh selamanya. Mas Doni pasti ga mau kan, punya pacar lumpuh kayak aku?” ratapku sambil menahan air mata yang sudah bergelayut di pelupuk mata.

“Kamu jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Kita berdoa aja semoga bisa sembuh dan usaha terus berobat. Ini kan lagi diobatin.” jawab Mas Doni sambil mengusap rambutku.

Seketika itu terdengar pintu dibuka. Bapak masuk sambil membawa hasil rontgen tadi siang. Aku langsung memberondong Bapak dengan berbagai pertanyaan.

“Bapak gimana tadi kata dokternya? Ika sakit apa? Bisa diobatin ga? Hasil rontgennya gimana? Ada kelainan ya? Ika bisa sembuh ga?”

Bapak menghela napas. Beliau terlihat bingung menjawab pertanyaanku. Atau mungkin bingung dengan penjelasan dokter tadi. Ah, kenapa tadi dokternya tidak langsung menjelaskan di hadapanku sih.

“Kata dokter, tulang belakang Ika ada yang patah.” jawab Bapak sambil mengeluarkan hasil rontgen dari bungkusnya. “Ni, kalo ga salah yang ini yang patah tadi, apa gimana ya Bapak juga ga ngerti. Katanya seharusnya jarak ruas tulang yang satu lebar-lebar kayak yang lain tapi yang ini kecil. Ah gataulah Bapak juga bingung.”

Aku memegang hasil rontgen tulang belakangku. Memang benar yang dikatakan Bapak. Terlihat dua ruas tulang belakang yang jaraknya berdekatan dibandingkan yang lain.

“Terus rencananya bagaimana Om?” tanya Mas Doni.

“Kata dokternya disuruh pemeriksaan em er i apa ya? Tapi disini ga bisa, ga ada alatnya. Jadi harus ke rumah sakit lain. Nanti kesini lagi untuk operasi.” Jawab Bapak terbata-bata.

Aku dan Mas Doni terkesiap mendengar kata “operasi”. Kami saling bertatapan. Kulihat wajah Mas Doni memucat. Bapak tertunduk lesu.

“OPERASI PAK? Beneran operasi? Astaghfirullah aladzim.” raungku sambil menangis. Aku tak menyangka kalau sakitku demikian parahnya hingga harus operasi. Aku begitu takut sampai suaraku terdengar membentak.

Mas Doni mulai menguasai keadaan. “Tadi kata dokternya disuruh pemeriksaan apa Pak? Em Er i?” Ia mengalihkan pertanyaan lain pada Bapak. Ia memang tipe orang yang tidak cepat panik seperti aku.

“Iya kalo ga salah pemeriksaan itu. Kata dokternya lebih bagus pemeriksaan itu. Tapi Bapak juga gatau dimana yang bisa. Kata dokternya di rumah sakit besar.” Jawab Bapak kepada Mas Doni. “Bapak juga ga mau kamu dioperasi tapi kalau ga ada jalan lain ya mau gimana lagi.” Kata bapak kepadaku yang masih menangis.

“Kalau operasinya ga berhasil gimana? Kalau aku mati pas operasi? Ya Allah. Astaghfirullah aladzim.” Aku makin lepas kendali.

“Kalau memang udah takdirnya meninggal, ga harus lagi operasi juga bisa meninggal. Di tempat tidur aja bisa meninggal. Itu Pak Salim, paginya berangkat ke kebun kayak biasa mau nyangkul, siangnya ditemuin meninggal di kebunnya. Kalau udah ajalnya ga bisa ditawar lagi. Dimanapun, siapapun pasti meninggal.” Kata Bapak menceramahiku.

Benar juga kata Bapak.

Tapi aku masih tetap takut.

 

-Bersambung-

 

Sumber gambar : disini

Share To
Leave a Comment