FiksiCerita BersambungFiksiCerita BersambungKemana Langkah Itu Pergi

Kemana Langkah Itu Pergi? (Butir Terakhir – Bagian 1)

18 June 2016

Perjuangan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) 

Keluargaku membawaku ke rumah sakit yang lebih besar yang disarankan dokter spesialis saraf untuk pemeriksaan MRI lebih lanjut. Aku menelepon temanku yang suaminya bekerja di rumah sakit itu untuk pertimbangan. Akhirnya, kami keluar rumah sakit sore hari menjelang maghrib menuju rumah sakit rujukan yang terkenal dengan bedah tulangnya. Suasana temaram diliputi hujan deras dan senja yang gelap. Aku kembali menahan sakit yang tak terperi dalam proses mobilisasi ini.

Kami tiba di rumah sakit rujukan sekitar pukul 18.30. Aku dibawa ke UGD yang amat sangat ramai dengan pasien berbagai kondisi serta keluarga pasien yang menunggu. Aku dibaringkan di atas brankar dan dibawa ke ruang triase oleh seorang perawat pria yang ramah. Aku masih harus menunggu dokter sambil menahan nyeri di perutku dan kebasnya kaki karena dokter sedang berbuka puasa. Mama menemaniku sambil mengusap-usap perutku yang kesakitan. Bapak mengurus administrasi dengan adikku. Aku bilang ke Mama untuk berbuka puasa dulu, tapi Mama tidak mau karena khawatir kalau aku ditinggal sendirian. Aku merasa sangat kasihan pada keluargaku yang lebih mementingkan aku dibanding diri mereka sendiri.

Setelah menunggu sekian lama, dokter jaga UGD yang menangani triase mendatangiku. Ia menanyakan perihal keluhan yang aku rasakan, pemeriksaan yang sudah dilakukan, dan hal-hal seperti yang sudah ditanyakan sebelumnya. Aku menjawab mengulang semua yang sudah aku keluhkan ke dokter di rumah sakit sebelumnya. Setelah selesai memeriksaku, dokter UGD itupun pergi meninggalkanku. Aku dan Mama kembali menunggu.

Seorang pasien datang lagi ke UGD dengan kepala dan kaki berlumuran darah. Sepertinya ia baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas. Ia dibaringkan di sebelahku. Aku melihat Mama tampak ngeri melihat darah berlumuran di sisinya. Sang pasien yang ditemani ibunya yang juga berdarah kakinya, terus menerus merintih kesakitan. Perawat datang bersama dokter yang tadi, menanyakan keluhan dan kronologis kejadian, sambil merawat luka pasien tersebut. Dari penuturan pasien yang aku dengar, ia sedang mengantar ibunya untuk berobat mengendarai sepeda motor. Di perjalanan, motor yang mereka kendarai menabrak lubang di jalan sehingga membuat si pasien dan ibunya terpental ke aspal jalanan. Mereka tetap berupaya bangkit dan mengendarai motornya kembali menuju UGD rumah sakit. Sungguh, perjuangan yang begitu besar.

Perawat pria yang ramah tadi datang kembali menghampiriku dan membawaku ke sebuah ruangan yang lebih sepi. Ia mengatakan bahwa aku akan diperiksa kembali. Dua orang dokter laki-laki mendatangiku. Mereka kembali menanyakan hal-hal yang sudah ditanyakan dokter pertama tadi. Aku bilang kalau aku merasa sakit di bagian perut kanan bawah, kaki kebas, tidak bisa buang air kecil dan besar (dan merasa amat sangat kesakitan), dan semua keluhan yang aku rasakan. Mereka melihat hasil rontgenku dan saling berdiskusi. Mereka melakukan pemeriksaan seperti yang dilakukan dokter saraf di rumah sakit sebelumnya. Mereka merabakan kapas di perutku dan menanyakan sampai batas mana aku dapat merasakan sentuhan kapas. Mereka juga menekan ujung-ujung jariku. Setelah selesai aku melihat salah satu dari dokter itu menelepon ke dokter lain (kutebak dua dokter yang memeriksaku ini adalah residen dan sedang menelepon dokter konsulen). Aku sedikit mendengar mereka menyebut tentang Spondylitis Tuberculosis di telepon. Ya Allah, berarti benar perkiraan selama ini. Setelah selesai, mereka menuliskan resep dan memberikannya kepada Bapak untuk ditebus di apotik UGD. Dua orang perawat wanita datang kepadaku dan memasangkan kateter supaya aku bisa buang air kecil. Perawat berhati-hati memasangkan kateter karena aku belum menikah.

Aku dibawa ke ruangan lain yang begitu penuh dengan pasien yang tergolek lemah di atas brankar-brankar. Suasana begitu hiruk pikuk dengan suara monitor, suara rintihan pasien, suara dokter yang menerangkan kondisi pasien kepada keluarga pasien, suara perawat yang mengajak pasien berbincang saat menyuntikkan obat dan berbagai suara lain yang menandakan bahwa ruangan ini amat sangat sibuk. Bau anyir darah dan nanah menyeruak di antara pasien-pasien. Aku ditempatkan di antara pasien yang tidak sadar dengan cairan infuse tergantung di sisinya. Di sisi kiriku tampak pasien yang penuh dengan luka gangrene di kakinya yang menimbulkan bau anyir. Di ruangan ini hanya diperbolehkan satu orang keluarga yang menunggu pasien.

Seorang perawat datang dan mengambil darahku sekaligus memasang infuse. Ia juga menyuntikkan obat yang tadi sudah ditebus Bapak. Setelah itu kami kembali menunggu. Aku merasa sangat tidak nyaman dengan suasana UGD ini. Adikku yang menemaniku juga terlihat mual. Aku melihat urin yang keluar dari selang kateterku berwarna merah dengan endapan. Kakiku terasa amat sangat pegal tetapi tak dapat digerakkan. Setelah beberapa lama, salah satu dari dokter yang memeriksaku tadi datang dan menyuruh adikku memanggil keluargaku yang lain. Mama dan Bapak yang baru saja berbuka puasa kaget dan segera datang ke tempat aku dan dokter menunggu.

Dokter menjelaskan bahwa aku terkena Spondylitis Tuberculosis dan harus dirawat. Penyakit ini tidak menular, karena bakteri tuberculosisnya menyerang ruas-ruas tulang belakangku. Dokter menyarankan agar aku dirawat untuk pemeriksaan dan penatalaksanaan lebih lanjut. Keluargaku menyetujui aku dirawat. Bapak mengurus administrasi rawat inap. Mama dan adikku yang paling kecil pulang ke rumah. Adikku yang kedua kembali menemaniku. Kami menunggu proses pengurusan kamar yang memakan waktu cukup lama. Alhamdulillah di rumah sakit ini bisa menggunakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hak kelas rawatku seharusnya kelas satu, tapi menurut bagian administrasi kelas satu semua penuh, yang ada kelas dua. Suami temanku yang kebetulan dinas malam turut memantau proses pengurusan kamarku.

Menjalani Hari-hari Dirawat dipenghujung Bulan Ramadhan

Aku mendapatkan kamar rawat sekitar pukul 02.00 dini hari. Perawat mendorongku ke kamar rawat bedah tulang di lantai dua. Kami melintasi lorong-lorong rumah sakit yang sangat sepi. Bapak membantu mendorong brankar sedangkan adikku membawa barang-barang. Setibanya di lorong lantai tempat kamar rawat, perawat yang tadi membawaku melakukan operan dengan perawat ruangan. Mereka membawaku ke kamar yang berisi empat bed. Dua bed sudah terisi. Aku ditempatkan di pojok ruangan dan bed depanku kosong. Lantai ruang rawat tampak becek dan terlihat tetesan air dari ac yang tergantung di depan bedku. Perawat dan bapak memindahkanku dari brankar ke tempat tidur. Perutku masih terasa sangat nyeri. Setelah selesai, perawat meninggalkan ruangan. Bapak dan adikku membereskan barang bawaan dan bersiap melakukan santap sahur. Bapak sudah membeli soto untuk sahur, tetapi karena kami tidak membawa mangkok, akhirnya adikku makan soto dengan menggunakan kaleng bekas biscuit. Ya Allah, miris sekali.

Aku merasakan lama kelamaan tempat tidur bagian kaki yang aku tempati turun. Bapak mencoba membetulkan posisi tempat tidur tapi malah tempat tidurnya bertambah turun. Kami menimbulkan suara bising sehingga membuat pasien di sebelah kami kesal. Bapak memanggil perawat yang tadi untuk membetulkan tempat tidur. Dengan wajah bangun tidur dan kesal, perawat tadi memarahi bapak agar tidak sembarang mengutak atik tempat tidur. Ia mengamati tempat tidurku dan sepertinya ia juga tidak bisa mengembalikannya ke posisi semula. Ia bilang kalau aku harus dipindahkan ke tempat tidur lain dan itu akan menyulitkan. Aku mengalah dan bilang aku tidak apa-apa tidur dengan posisi tidur seperti ini. Aku tak tega melihat Bapak dimarah-marahi seperti itu. Aku mencoba tidur menahan sakit, kesal, dan sedih dengan kondisiku yang membuat keluargaku jadi susah.

Aku dibangunkan oleh suara lembut perawat yang berbeda dari perawat semalam yang membawa alat mengukur tensi. Ia menanyakan mengapa posisi tempat tidur jadi seperti ini. Bapak menjelaskan kejadian semalam. Perawat itu meminta bantuan Bapak mengangkat tempat tidur dan perawat itu membetulkan posisinya. Setelah selesai ia mengukur tekanan darahku dan menjelaskan mengenai ruang rawat, posisi kamar mandi, posisi nurse station dan sebagainya. Perawat ini sangat baik dan jauh berbeda dengan perawat semalam.

Aku menjalani hari-hari terakhir bulan Ramadhan di ruang rawat. Mama dan Bapak bergantian menjagaku di rumah sakit. Aku merasa sangat sedih. Karena aku, keluargaku jadi tidak bisa menikmati ibadah bulan Ramadhan seperti biasanya. Mereka harus bolak-balik ke rumah sakit. Adikku yang kecil tidak bisa ikut menjengukku karena anak dibawah 11 tahun tidak diperbolehkan naik ke atas. Pasien di bed sebelah sepertinya kurang senang dengan kehadiranku  dan keluargaku yang mereka anggap berisik.

Aku diperiksa oleh dokter residen jaga. Saat ini sepertinya dokter konsulen sedang cuti bersama menjelang lebaran. Beberapa dokter memeriksaku. Perawat memberikan obat yang membuatku merasa nyeri dan kepanasan. Ditambah lagi kondisi AC yang rusak membuat kamar rawat terasa amat panas. Aku mencoba bersabar demi kesembuhan diriku. Peralahan ujung jari kakiku mulai terasa dengan sentuhan.

Merayakan Idul Fitri di Rumah Sakit Sebagai Pasien

Aku menghabiskan malam Idul Fitri sendirian di ruang rawat. Bapak sedang keluar mencari makanan berbuka puasa. Pasien di sebelahku sudah pulang. Mama dan adikku baru saja pulang dari rumah sakit dan saat ini giliran Bapak yang menjagaku. Aku memasang headset untuk mengusir rasa sepi dan takut, menatap keluar jendela. Tampak kembang api menghiasi langit di malam takbiran. Suara takbir menggema dari masjid-masjid di sekitar rumah sakit. Tak terasa air mataku menetes. Biasanya malam takbiran seperti ini, aku dan adikku akan main kembang api di teras rumah. Berkumpul bersama keluarga memang menjadi momen yang tak dapat ditukar dengan apapun di malam yang fitri ini. Tapi karena aku, keluargaku jadi terpencar-pencar di jalan pulang dari rumah sakit, dan mencari makanan di sekitar rumah sakit. Aku merasa sangat sedih dan tidak berguna.

Sebuah kepiluan aku merasakan hari raya Idul Fitri di rumah sakit. Bapak tidak ikut sholat Id. Beberapa perawat yang dinas malam berkeliling ruang rawat memohon maaf lahir dan batin. Menu sarapan pagi yang dihidangkan ketupat serta opor ayam. Mama dan adikku datang ke rumah sakit beserta keluarga yang lain. Mereka membawa ketupat, rendang daging dan makanan lain untuk dimakan bersama. Aku merasa sangat terharu.

Saudara-saudara dekat dan jauh datang menjengukku. Banyak yang rumahnya jauh tapi menyempatkan diri bersilaturahmi di rumah sakit. Beruntung ruangan kelas dua ini hanya aku yang menempati sehingga tidak ada yang merasa terganggu. Aku merasa senang dikunjungi sehingga aku tidak sendirian dan tetap merasakan Idul Fitri bersilaturahmi dengan keluarga dan saudara. Tetapi ada perasaan sedih jika aku mengingat kenyataan bahwa mereka datang kemari karena aku yang tergolek lumpuh tak berdaya.

Teman-temanku juga banyak yang menyempatkan diri datang menjengukku di sela-sela kegiatan lebaran mereka. Mereka datang bersama keluarga mereka yang sebagian besar sudah kukenal. Aku bahagia sekali akan kenyataan bahwa aku memiliki teman-teman yang amat sangat baik dan bersedia menemani tidak hanya di saat senang tetapi di saat susah seperti ini.

Menjalani Pemeriksaan Magnetic Resolution Imaging (MRI)

Seminggu kemudian, aku mendapat kabar dari perawat bahwa ruang kelas 1 ada yang kosong. Mama dan adikku mengurus proses perpindahan kamar. Akhirnya aku dapat merasakan ruang rawat kelas satu yang hanya diisi dua orang. Aku belum mendapat penatalaksanaan apapun selama seminggu kemarin. Beberapa residen bedah mengunjungi setiap pagi menanyakan keluhan-keluhanku. Baru kemudian pada minggu ini aku dijadwalkan untuk MRI. Namun karena alat MRI di rumah sakit ini rusak, aku dirujuk ke rumah sakit lain untuk melakukan pemeriksaan MRI.

Aku dibawa menggunakan ambulans ke rumah sakit swasta yang lokasinya dekat dengan rumah sakit tempat aku dirawat, namun rumah sakit ini tidak menerima JKN. Suasana rumah sakit yang begitu tenang dan sepi serta bagus tampak seperti mall. Aku dibawa ke ruangan MRI yang dari luar sekilas mirip dengan lounge hotel. Aku dipindahkan dari brankar rumah sakit pertama ke brankar untuk MRI rumah sakit rujukan.

Setelah proses administrasi dan anamnesa petugas, aku dibawa masuk ke sebuah ruangan dengan suasana remang-remang dan suhu yang amat dingin. Petugas kemudian menjelaskan mengenai prosedur MRI yang akan dilakukan. Ia menjelaskan bahwa tubuhku akan dimasukkan ke dalam sebuah alat yang berbentuk seperti lorong putih. Aku tidak diperbolehkan bergerak selama proses pemeriksaan. Jika aku merasa butuh bantuan petugas, aku boleh memencet bel yang ada ditanganku. Proses ini memakan waktu satu jam. Setelah selesai menjelaskan, petugas memasang headphone ditelingaku. Ia menanyakan lagu apa yang suka didengarkan. Aku bingung apa hubungannya dengan lagu? Akhirnya aku menjawab “lagu pop” secara asal. Kemudian petugas itu memasangkan selimut di atas tubuhku.

Perawat mendorong brankar yang aku tiduri ke dalam lorong alat MRI. Tiba-tiba aku merasa takut dan panik berada di lorong yang sempit dan remang-remang sendirian. Belum lagi udara yang sangat dingin walau sudah pakai selimut membuat dadaku semakin berdebar-debar. Aku mencoba tenang dengan membaca doa dan memejamkan mata. Aku mulai berpikir bahwa mungkin seperti ini rasanya berada di dalam kubur. Sendiran dan sempit. .Aku hampir menangis membayangkan bahwa mungkin saja malaikat Munkar dan Nakir datang untuk menanyakan amalan di dunia. Astaghfirullah aladzim. Aku mulai melantur.

Tak lama kemudian suara music terdengar melalui headphone.  Aku kembali ke dalam lorong MRI. Mesin mulai bergetar hebat dan menimbulkan suara bising. Mungkin inilah gunanya headphone untuk mengurangi kebisingan pada telinga. Tapi tetap saja suara bisingnya terdengar. Aku menarik napas panjang menenangkan diri dan membayangkan hal yang indah-indah. Satu jam terasa sangat lama dan aku merasa sangat bosan. Beda dengan saat melakukan hal-hal yang menyenangkan. Satu jam terasa sangat cepat. Mungkin inilah yang disebut teori relativitas (seperti kata koki di film jadul Deep Blue Sea).

Beberapa lama kemudian kakiku terasa sangat kram. Kakiku yang memang tidak dapat digerakkan bertambah sakit dan kram kaku. Aku mencoba menahan sekuat tenaga sampai meringis. Memang biasanya kakiku yang tidak dapat digerakkan ini akan merasa kram jika dalam posisi lama. Tapi ini semakin parah karena suhu dingin sehingga seolah-olah kakiku membeku. Akhirnya aku menyerah dan menekan tombol di ibu jariku. Sesaat kemudian suara mesin hilang dan getaran mesin berhenti. Aku merasa brankarku ditarik dan aku keluar dari lorong. Aku mengatakan pada petugas yang tadi menarikku bahwa kakiku kram dan sakit. Ia kemudian memijat-mijat kakiku dan meregangkannya. Rasanya lega sekali. Tapi disisi lain aku merasa sangat sedih akan keterbatasanku yang bahkan tak mampu menggerakkan kaki sendiri. Setelah hilang kram di kakiku, perawat mengatakan bahwa tinggal sebentar lagi prosesnya jadi aku harus tetap tenang supaya cepat selesai. Kemudian ia kembali memasukkanku ke dalam alat.

Aku sepertinya tertidur di dalam alat MRI sampai tiba-tiba merasa brankarku ditarik. Petugas tadi kembali datang dengan membawa spuit berisi cairan biru dan memasukkannya lewat infus di tanganku. Ia mengatakan prosesnya sebentar lagi akan selesai. Aku kembali dimasukkan ke dalam lorong. Aku tak bisa tidur lagi sehingga aku berkhayal. Berkhayal apakah suatu saat nanti aku bisa berjalan dan menjadi manusia normal lagi. Saat timbul pikiran-pikiran negatif, aku segera menyingkirkannya dengan berdoa memohon kesembuhan pada Allah SWT yang Maha Perkasa.

Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba. Pemeriksaan MRI selesai. Perawat rumah sakit asal tempatku dirawat dibantu dengan petugas memindahkanku ke brankar awal. Bapak dan adikku mengurus administrasi dan diberitahukan bahwa hasilnya dapat diambil keesokan harinya. Setelah selesai, kami kembali ke rumah sakit tempat aku dirawat.

MRI

Gambaran mesin MRI

Bersambung, bagian dua (habis)

Sumber gambar: Gambar 1 ; Gambar 2

Share To
Leave a Comment