FiksiCerita BersambungFiksiCerita BersambungKemana Langkah Itu Pergi

Kemana Langkah Itu Pergi? (Butir Terakhir – Bagian 2) –Kisah Selesai–

19 June 2016

Tindakan Dimulai!

Keesokan harinya, adikku mengambil hasil MRI. Ia kembali dengan sebuah map besar yang tebal berisi film hasil MRI beserta ekspertisenya. Aku membaca hasil ekspertise yang panjang dan sebagian besar tidak kumengerti. Diujung tulisan panjang tersebut terdapat kesimpulan yang intinya menurutku, terdapat fraktur kompresi pada T7 dan T8 akibat spondilitis tuberculosis.

Tiga hari berselang, dokter spesialis ortopedi tulang belakang datang bersama dua orang dokter residen. Dokter spesialis itu melihat hasil MRI ku dan menjelaskan hasilnya. Garis-garis putih yang terdapat pada foto MRI adalah nanah yang ada pada ruas tulang belakang yang patah akibat bakteri tuberkolisis. Dokter memeriksa bagiang punggung dan kakiku. Beliau bilang selama ini untuk kasus seperti ini sembilan puluh persen sembuh dengan operasi. Dokter SPOT itu menjelaskan proses operasi dengan bahasa yang mudah kupahami. Pada proses operasi nanti, nanah yang ada pada ruas tulang belakang itu akan dikeluarkan dan dibersihkan lalu di”bom” dengan obat, kemudian disangga dengan pen sehingga saraf-saraf yang ada di ruas itu tidak terjepit. Dokter menanyakan  apakah aku siap dioperasi. Aku berpaling menatap adik dan bapak yang juga diam seribu bahasa. Aku bilang aku takut. Aku ingat perkataan beberapa orang yang menjengukku kemarin bahwa banyak operasi yang tidak berhasil dan malah jadi lumpuh. Aku menanyakan apa yang terjadi jika aku tidak dioperasi. Dokter bilang kemungkinan aku akan lumpuh seumur hidup. Naudzubillah. Aku menggigit bibir. Aku bertanya lagi apa saja resiko saat dioperasi. Aku lupa dokter menjelaskan apa tapi satu yang paling kuingat adalah kematian di meja operasi. Hatiku mencelos. Aku takut tapi aku juga ingin sembuh. Akhirnya aku memutuskan insya Allah aku mau dioperasi. Dokter spesialis itu mengatakan kemungkinan Rabu atau Jumat aku akan dioperasi. Beliau kemudian berbicara dengan dokter residen yang dengan sigap mencatat semua kata-kata dokter spesialis.

Setelah dokter spesialis pergi, perawat memanggil adikku yang saat itu sedang menjagaku sendirian. Adikku kembali satu jam kemudian dan ia mengatakan bahwa ia disuruh mengurus ke bagian instalasi farmasi. Ia menyerahkan kuitansi padaku dan aku tercengang melihatnya. Aku tidak mengerti nama resepnya tapi sepertinya itu pen dan sesuatu untuk aku operasi  dan tertulis Rp. 44.000.000,-. Adikku bilang ia juga kaget dan berkali-kali menanyakan kepada perawat dan bagian farmasi apakah ini gratis atau keluargaku harus membayar, tetapi perawat dan bagian farmasi bilang itu semua sudah ditanggung program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Ya Allah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Aku tak dapat membayangkan jika harus membayar uang darimana bahkan keluargaku tak punya uang sebanyak itu.  Mungkin harus menjual rumah jika kami harus membayar. Tapi kami tidak dikenakan biaya. Terima kasih JKN dan BPJS Kesehatan.

Keesokan harinya, banyak dokter yang datang untuk memeriksaku. Perawat bilang ini untuk toleransi operasi. Aku di EKG, di ambil darah vena, dan yang paling menyakitkan adalah saat diambil darah untuk pemeriksaan Analisis Gas Darah (AGD) melalui pembuluh darah arteri yang letaknya di dalam. Perawat dan dokter juga memeriksa punggungku dan mengatakan bahwa terdapat gibus, yaitu permukaan yang sedikit menonjol di ruas tulang belakang yang patah. Aku juga merasakannya saat tangan perawat menyentuh permukaan itu.

Perawat juga mengatakan bahwa aku memerlukan persiapan darah untuk operasi nanti. Aku diwajibkan membawa empat orang pendonor darah, dua diantaranya bergolongan darah yang sama denganku, dua lagi golongan darah bebas. Keluargaku tidak ada yang dapat mendonor karena tidak sesuai criteria. Adikku membawa tiga orang temannya untuk berdonor tapi hanya satu yang lolos criteria. Sore harinya, tiga orang temanku datang menjenguk dan bersedia mendonor darah, tapi hanya satu yang lolos. Kami memerlukan dua pendonor lagi. Temanku meminta nomor hp adikku dan mengatakan akan membantu mencarikan pendonor. Malam harinya, hp adikku tidak henti-hentinya bordering oleh sms orang-orang yang bersedia mendonorkan darah. Banyak diantaranya teman-teman yang aku kenal, tetapi banyak pula yang aku tidak kenal. Ada yang bilang teman temannya temanku. Ya ampun aku terharu. Ternyata temanku yang tadi datang membuat jarkom (jaringan komunikasi) ke semua teman-temannya yang meneruskan ke teman-temannya yang lain, bahkan sampai ke twitter. Keluargaku juga banyak yang bersedia mendonor.

Keesokan harinya, adikku sibuk mengurus administrasi orang-orang yang bersedia mendonorkan darahnya untukku. Teman-temanku banyak juga yang datang sambil menjengukku. Keluargaku juga banyak yang datang untuk mendonor. Dari sekian banyak, hanya tiga yang lolos criteria. Satu orang adik kelasku waktu SMA, satu orang dari fakultas lain di kampusku yang aku tidak kenal, dan satu lagi teman kampusku dari UKM yang aku ikuti dulu di kampus. Jadi total ada lima pendonor (lebih satu dari yang diminta PMI). Bahkan saat permintaan pendonor sudah mencukupi, masih banyak saja yang sms adikku menanyakan apakah masih butuh pendonor.  Subhanallah walhamdulillah. Allah menurunkan begitu banyak bantuan untukku. Aku sangat berterima kasih pada adikku yang kerepotan, temanku yang membuatkan jarkom, para pendonor darah yang lolos criteria, keluarga, semua teman dan semua orang yang sudah datang ke rumah sakit untuk mendonor walau tidak lolos criteria dan yang sudah berniat mendonorkan darahnya untukku.

Hari Operasi Telah Tiba

Inilah hari operasi yang telah ditetapkan. Persiapan operasi sudah dijalankan sejak semalam. Perawat sudah membersihkan kotoran dari saluran cernaku. Aku diharuskan berpuasa tidak makan dan minum sejak semalam. Semalaman aku berusaha untuk tidur dengan cukup tapi rasanya sangat sulit. Aku sangat gugup dan takut. Tak henti-hentinya aku berdoa memohon keselamatan di ambang batas hidup dan mati saat operasi nanti.

Sekira pukul sepuluh, aku dibawa oleh perawat ke ruangan operasi. Keluargaku menemaniku sambil terus menyemangatiku sepanjang perjalanan ke ruang operasi. Aku begitu gugup dan takut tapi aku selalu berdoa dalam hati. Jika mungkin ini adalah saat terakhir aku hidup di dunia, aku ingin mati dalam keaadaan husnul khotimah. Rasanya ingin menangis saat berpisah dengan keluargaku yang menunggu di pintu depan instalasi operasi.

Perawat yang membawaku melakukan operan dengan perawat ruang operasi. Setelah selesai, ia membantuku berganti baju operasi dan memasang penutup kepala di rambutku. Perawat ruang operasi kemudian menarik brankarku ke ruangan yang lebih dalam. Di kiri dan kanan lorong yang aku lewati terdapat ruangan dengan pintu tertutup dan lampu menyala. Perawat kemudian memasukkanku ke ruangan paling ujung lorong.

operasi 1

Aku melihat tiga orang berpakaian biru berada di ruang operasi. Aku tidak dapat melihat wajah mereka karena mereka semua memakai masker. Dadaku semakin berdebar saat memasuki ruangan yang sangat dingin dan melihat meja operasi terletak di tengah ruangan. Berbagai peralatan tersedia di meja di ujung ruangan tempat tiga orang tadi berdiri. Aku yakin mereka adalah tim operasi yang akan melakukan operasi padaku. Salah satu dari mereka menghampiriku, menanyakan nama dan tanggal lahirku, memeriksa gelang identitasku, dan menanyakan keluhan-keluhanku. Aku sedikit kesal karena aku jadi tidak bisa berdoa menjelang operasi karena ia terus menerus bertanya dan aku harus menjawab. Sambil bertanya ia menyuntikkan cairan dengan keras ke aboket infuse di tanganku. Spontan aku menarik tanganku karena sakit. Ia memegangi tanganku dan terus menerus bertanya sudah berapa lama aku sakit, berapa lama aku tidak bisa berjalan, dan pertanyaan lain. Ia kembali menyuntikkan cairan dengan keras. Aku berteriak sakit tapi ia terus menyuntik lagi. Pada suntikan ketiga, aku tiba-tiba seperti merasa terhipnotis dan semua gelap seperti saat sedang tidur. Aku tidak ingat apa-apa lagi.

Aku tidur tanpa bermimpi. Apakah aku benar-benar tidur atau inikah yang dinamakan bius. Aku tidak tau apa-apa lagi. Semua gelap dan hitam.

Sedetik kemudian aku mendengar suara seseorang yang seperti meneriakkan namaku berulang-ulang sambil mengguncang-guncang bahuku. Aku mencoba membuka mata tapi rasanya sangat lengket. Aku seperti dibangunkan dari tidur yang sangat lelap sehingga sulit membuka mata. Saat berhasil membuka mata aku tidak dapat melihat dengan jelas. Pandanganku kabur, seolah di depan mataku dipasang sebuah plastik bening yang sudah keruh. Semua samar. Aku tak dapat melihat dengan jelas. Aku merasakan sakit yang amat sangat di punggungku. Aku mendapati tubuhku terbaring dan merasa kakiku sakit dan kram karena tertekuk. Aku juga merasakan sakit pada tanganku dan tampak samar cairan merah dan selang-selang berisi cairan lain masuk ke pembuluh darahku.

Tanpa sadar aku berteriak-teriak kesakitan. Aku bilang kepada perawat kalau aku merasa sangat sakit. Punggungku sangat sakit. Aku berteriak kepada perawat untuk meluruskan kakiku karena sangat sakit ditekuk. Perawat tadi bilang kalau kaki aku tidak ditekuk. Aku ngotot sambil menangis  bahwa kakiku ditekuk dan sangat sakit dan aku mau diluruskan. Perawat tadi bilang kalau kakiku sudah lurus. Aku berteriak-teriak lagi karena aku merasa sangat kedinginan. Tubuhku menggigil. Aku tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Aku terus berteriak-teriak kedinginan sampai perawat datang membawa selimut tebal. Aku berteriak-teriak lagi karena aku merasa mual. Aku mau muntah. Aku tidak dapat bergerak. Aku terus berteriak sampai aku merasa ada seseorang yang memiringkan kepalaku dan kemudian aku muntah pada handuk yang ia letakkan di sampingku. Perawat bilang itu dokter yang tadi mengoperasiku. Aku tidak tahu karena aku tidak dapat melihat dengan jelas. Perawat juga menyuruhku untuk tidak berteriak-teriak tapi aku tanpa sadar tetap melakukannya. Seolah mulut ini tak mau diam menahan sakit seorang diri. Seolah yang berbicara bukan diriku, tetapi sisi primitif lain dalam diriku yang sedang diusik.

Setelah beberapa saat kesadaranku mulai pulih. Aku sedikit mampu mengontrol teriakanku dan mengekspresikan rasa sakit yang bertambah parah dengan mengeluh dan beristighfar. Tapi saat merasa sakit bertambah parah, aku kembali berteriak. Selain sakit, menggigil, kedinginan, dan mual, aku juga merasakan tenggorokanku sangat perih dan kering. Aku merasa kehausan. Aku mau minum. Tapi perawat tidak membawakanku air. Aku dibawa keluar ruangan dengan brankar. Saat keluar ke ruang tunggu, keluargaku menghampiriku. Aku tidak dapat melihat wajah mereka tapi aku tahu siapa mereka karena aku tahu bentuk tubuhnya. Aku masih merintih kesakitan. Aku berharap aku segera dibawa ke ruang rawat karena aku merasa punggungku sangat sakit saat brankar didorong. Tapi aku salah, ternyata aku dibawa ke ruang radiologi untuk di rontgen. Aku masih saja merintih kesakitan.

Selesai di rontgen, aku dibawa kembali ke ruang rawat. Aku terus menerus meracau dan merintih. Tanganku sangat sakit saat darah mengalir melalui pembuluh darahku. Tangan kiriku diinfus beberapa gantungan cairan yang samar-samar kulihat. Aku masih menggigil kedinginan. Keluargaku mengerumuniku dan mengajakku untuk beristighfar.

Beberapa saat kemudian perawat dan dokter datang dan menanyakan keadaanku. Aku bilang kalau aku sakit dan semua keluhan yang aku rasakan aku tumpahkan semuanya. Dokter bilang aku boleh minum dan makan. Aku merasa sangat haus dan lapar. ‘Kakak’ku menyuapiku makan. Ia bercerita kalau aku masuk ruang operasi jam 10 pagi dan baru keluar ruang operasi pukul 5 sore. Ia terus menenangkanku dan membantu membuatku merasa nyaman. Perawat kemudian datang untuk mengambil darahku saat kantung darah sudah habis.Keluargaku pulang saat malam semakin larut. Adikku dan ‘kakak’ku yang menjagaku. Adikku tampak sangat lelah karena ia langsung terlelap. ‘Kakak’ku terjaga sepanjang malam. Aku mencoba tidur tapi sebentar kemudian terbangun karena haus. Tenggorokanku masih saja kering dan sakit walau aku sudah minum. Aku tidur tidak bergerak karena punggungku terasa sangat sakit.

Masa Pemulihan

Keesokan paginya, aku terbangun dan saat membuka mata aku dapat melihat sedikit lebih jelas. Masih ada bayangan samar tapi aku sudah dapat melihat satu struktur wajah secara utuh. Ibarat melihat melalui plastic bening yang tidak keruh. Dokter residen kembali datang untuk memeriksaku. Hasil hemoglobin darahku sudah naik sehingga aku tidak perlu ditransfusi lagi. Syukurlah. Aku masih merasa sakit pada punggungku, tetapi kakiku sedikit bisa digerakkan. Aku sudah tidak menggigil lagi.

Hari demi hari pada masa pemulihan aku mengalami kemajuan. Kateter di lepas setelah aku tidak mengalami kesulitan buang air kecil. Infus juga dilepas karena asupan nutrisiku sudah cukup baik. Aku masih disuntikkan obat  tiga kali sehari. Beberapa hari sekali perawat membersihkan luka operasiku. Aku harus diuap karena aku merasa tenggorokanku sakit dan sulit mengeluarkan dahak. Dokter rehabilitasi medik memeriksaku dan merencakan fisioterapi untukku. Setiap sore fisioterapis datang dan membantuku melakukan peregangan agar sirkulasi di daerah operasi cepat sembuh dan kekuatan otot kakiku bertambah. Kakiku sudah dapat digerakkan ke atas dan kebawah serta kekiri dan kanan walau terasa sangat berat. Tapi aku tetap berupaya menggerakkan kakiku. Aku diperbolehkan bangun dari tidur setelah terpasang brace. Seorang petugas pembuatan brace datang dan mengukur ukuran tubuhku. Aku masih dirawat sampai brace selesai dibuat. Beberapa hari kemudian, brace sudah jadi dan dipasangkan ke sekitar perut dan punggungku. Bentuknya seperti korset tapi sepertinya didalam lapisannya terbuat dari bahan yang keras. Di bagian dada terdapat sebuah besi menjulang yang sangat keras. Di kiri kanannya terdapat mur yang harus dibongkar pasang saat memakai atau melepas.

Setelah dipasangkan brace, petugas fisioterapi membantuku untuk duduk. Ya Allah, ternyata sulit sekali untuk duduk tanpa bersandar. Setelah tiga bulan berbaring, aku bahkan lupa caranya duduk. Badanku terasa tidak seimbang dan rasanya tubuhku akan ambruk ke belakang. Fisioterapis menjaga agar aku tidak terjatuh. Aku juga merasakan kepalaku sangat pusing saat pertama kali duduk. Karena pusing yang semakin bertambah, aku dibaringkan lagi. Setelah rasa pusing itu hilang, aku kembali dibantu duduk. Aku mencoba beradaptasi untuk perubahan posisi ini. Aku duduk beberapa lama sampai rasa pusing di kepalaku hilang. Setelah itu, fisioterapis menggeser kakiku ke pinggir tempat tidur sehingga menggantung di tepinya. Aku merasa sangat tidak seimbang. Badanku berulang kali ambruk tetapi di tahan oleh fisioterapis. Kakiku seperti melayang. Setelah berhasil beradaptasi dengan posisi itu, fisioterapis membantuku untuk berdiri.

Hatiku berdebar-debar saat fisioterapis membantuku mengangkat tubuh ke posisi berdiri. Sudah lama rasanya aku tidak berdiri. Aku pasti bisa berdiri kemudian berjalan. Aku ingin ke kamar mandi sendiri. Baru sebentar aku berdiri sambil dipegangi fisioterapis dan bapak, aku limbung karena kakiku tak kuat menahan beban tubuhku sendiri. Aku sangat takut terjatuh. Fisioterapis membantu menahan tubuhku. Kepalaku mulai terasa pusing dan aku bilang ke fisioterapis. Akhirnya aku dibantu duduk dan berbaring lagi. Fisioterapis berpesan jika aku ingin duduk atau berdiri, aku harus memakai brace. Sebenarnya sangat menyulitkan memasang brace karena posisinya harus pas dan murnya agak sulit dipasang. Jika tidak pas, maka brace akan terasa menekan tubuh dan sangat sakit.

Aku menjalani latihan berdiri yang terakhir karena sorenya aku sudah diperintahkan pulang. Aku belum bertemu dokter rehabilitasi medik lagi. Aku sudah mulai dapat berdiri lebih lama kira-kira satu menit tanpa merasa pusing. Aku mencoba duduk lebih lama. Setelah selesai latihan berdiri, keluargaku mengurus proses pulang. Aku menunggu cukup lama di kursi roda. Punggungku terasa sakit dan lelah. Rasa pusing menjalariku.

Akhirnya aku kembali ke rumah setelah dua bulan tidak pulang. Senang rasanya bisa kembali berbaring di kasur di rumah sendiri. Teman bapak meminjamkan walker dan kursi roda agar aku bisa mobilisasi. Aku berlatih berdiri sebentar-bentar dan saat tidak kuat aku kembali berbaring. Tubuh bagian bawahku masih terasa berat.

Aku kembali ke rumah sakit untuk kontrol ke dokter spesialis ortopedi dan rehabilitasi medik. Dokter rehabilitasi medik bilang sebenarnya aku belum boleh pulang karena belum dapat berdiri. Aku bilang aku sudah mendapat perintah pulang jadi aku pulang. Oleh karena itu, aku harus menjalani fisioterapi setiap hari agar otot-otot kakiku kembali pulih. Aku juga terkendala surat ijin sakit yang hanya berlaku dua minggu. Pada kondisi seperti ini aku masih saja memikirkan pekerjaan.

Aku melakukan fisioterapi dengan mengangkat beban pada kaki, mendorong beban, sepeda statis, dan latihan berjalan dengan dua buah pegangan di kiri dan kanan. Aku juga dilatih menggunakan walker sehingga bisa berjalan sendiri tanpa kursi roda. Berhari-hari aku bolak balik ke rumah sakit yang jaraknya cukup jauh dari rumah untuk fisioterapi. Aku juga melakukan latihan di rumah. Aku ingin cepat bisa berjalan. Setelah itu, dokter menyarankan agar aku pindah fisioterapi yang lebih dekat dengan rumah. Aku kembali ke rumah sakit tempat sebelumnya aku dirawat. Disana fisioterapi yang dilakukan dengan latihan, heat therapy, dan latihan keseimbangan. Dokter rehabilitasi medik meresepkan tongkat kaki satu (armcrutch) dan aku berlatih menggunakannya. Awalnya aku merasa kesulitan dan tidak seimbang. Tapi lama-lama aku mulai terbiasa.

Atasanku di kantor menelopon dan mengatakan aku harus segera masuk kerja karena akan ada pendidikan dan penilaian. Jika aku tidak masuk kerja, maka kemungkinan aku akan dikeluarkan dari tempat kerja. Aku dipindah ke bagian yang tidak terlalu susah untuk memfasilitasi pemulihanku. Akhirnya aku masuk kerja dengan menggunakan tongkat.

Jarak tempat kerja yang jauh menjadi kendala bagiku jika harus pulang pergi ke rumah. Akhirnya aku mengontrak sendiri di dekat tempat kerja. Aku dibantu satpam yang dekat dengan tempat kontrakanku. Keluargaku tidak ada yang bisa menemani karena harus bekerja. Akhirnya aku tinggal sendiri di kontrakan dekat tempat kerja. Beruntung ada teman yang bersedia mengantarku ke tempat kerja menggunakan motor. Pulangnya, aku di antar oleh rekan kerjaku di kantor menuju kontrakan. Kebutuhan makanku di kantor juga dibantu satu-satunya temanku ditempat kerja itu dan pak satpam kantor. Aku tidak melakukan pekerjaan yang berat. Ia membelikanku makan siang karena aku tidak kuat berjalan sendiri ke tempat makan. Seminggu sekali di akhir pekan, bapak menjemputku agar aku bisa beristirahat di rumah.

Beberapa minggu kemudian, temanku yang mengantar tidak dapat lagi melakukan rutinitas itu karena ia diterima di tempat kerja yang jauh dari tempat sekarang. Akhirnya aku belajar naik angkot sendiri dan selalu duduk di depan di samping supir. Aku merasakan tatapan tajam orang-orang yang melihatku berjalan menggunakan tongkat. Aku tak tahu mengapa mereka begitu sinis menatapku seperti itu seolah aku punya salah ke mereka. Aku mencoba mengacuhkannya tapi kadang aku merasa sedih juga. Mungkin mereka berpikir aku orang cacat.

Aku mencoba berangkat ke kantor tanpa menggunakan tongkat. Aku kadang merasa tidak seimbang dan takut terjatuh, tapi kupaksakan. Orang-orang tidak menatapku lagi tapi aku juga tidak mendapat keistimewaan dan bantuan dari saat aku menggunakan tongkat. Aku agak takut saat menuruni tangga yang tidak ada pegangannya, tapi kuyakinkan diriku bahwa aku bisa. Sehari dua hari aku menyerah dan membawa tongkat lagi. Tapi kemudian aku berlatih lagi berjalan tanpa tongkat hingga akhirnya aku dapat berjalan tanpa tongkat sambil berupaya menjaga keseimbangan. Alhamdulillah wa syukurilah.

Dan langkah yang pergi kini telah kembali.

untuk klip 7 bag 2

— T A M A T —

Sumber: Gambar 1 ; Gambar 2 ; Gambar 3

Share To
Leave a Comment