FiksiCerita BersambungFiksiFiksiCerita BersambungNama Siapa yang Harus Kutulis?

Nama Siapa yang Harus Kutulis? -Butir 1: Will You Marry Me?-

11 July 2017

Hari ini ada yang berbeda dari pemandangan biasanya. Suasana D’coffee begitu indah dengan dekorasi warna warni bunga menghiasi sudut ruangan. Bunga mawar merah menghiasi vas bunga yang diletakkan tepat di tengah meja. Alunan musik lembut dari band pengiring menyanyikan irama bernada cinta yang menenangkan.

“Bunga, maukah kau menikah denganku?” ucap Bambang sambil mengusap lembut jemari tangan kiri Bunga, sepasang kekasih pengunjung tetap kafe, yang setiap bulannya tak pernah absen berkunjung ke D’coffee. Jelas saja mereka tidak pernah absen karena Bambang sendirilah pemilik kafe bertema klasik itu.

Bunga terkesiap mendengar kalimat yang meluncur dari mulut kekasihnya itu. Ia menghentikan perjalanan cangkir kopi yang hampir mendarat di bibirnya. Apakah ia tidak salah mendengar? Mereka baru lima bulan berpacaran dan selama ini tidak ada tanda-tanda Bambang akan melamarnya.

“Mas serius?” tanya Bunga ragu. Ia meletakkan cangkir kopi kembali di atas alasnya. Ia menatap Bambang yang dibalas dengan mata berbinar kekasihnya itu. Seketika ia menundukkan kembali pandangannya, menyibukkan diri dengan mengaduk kopi hingga muncul buih kecil di atasnya.

Entah mengapa Bunga tak pernah kuasa beradu pandang dengan Bambang. Sorot matanya yang lembut justru membuat jantungnya berdebar kencang. “Kita kan baru pacaran lima bulan. Aku juga belum dikenalkan ke keluarga Mas.” ujar Bunga lirih.

Ia memalingkan pandangan keluar jendela kafe. Tampak jalan raya masih dipenuhi lalu lalang kendaraan. Begitu pun hilir mudik orang yang melintasi trotar di depan kafe.

Alunan musik berganti menjadi nada akustik lagu “Akhirnya Ku Menemukanmu” yang dipopulerkan oleh band Naff. Suara lembut irama musik ini seolah menjadi jawaban tersendiri bagi Bunga. Hati kecilnya berkata bahwa sepertinya kekasihnya itu telah menyiapkan momen spesial ini untuk melamarnya.

Bunga memberanikan diri untuk menatap Bambang. Bambang tersenyum manis dan melepaskan genggaman tangannya. Ia kemudian sibuk mengaduk isi tasnya dan mengeluarkan sebuah wadah cincin berbentuk hati berwarna merah. Ia menaruh wadah itu di atas meja dan membukanya perlahan.

“Ya, sayang. Aku serius.” jawab Bambang singkat. Ia mengeluarkan cincin yang tersemat di dalam wadah hati itu. “Bolehkah aku?”

Bunga tak dapat membendung airmata yang seketika mengalir deras di pipinya. Ia mengangguk sambil mencoba tersenyum dan menahan laju airmata yang semakin deras. Impiannya selama ini akan segera menjadi kenyataan. Ia akan segera memiliki keluarga. Keluarganya sendiri.

Bambang mengusap lembut jemari Bunga,mencoba menenangkannya. Ia mengangkat tangan Bunga dan mencium punggung tangannya sebelum memakaikan cincin di jemarinya. Bunga menggenggam erat tangan Bambang selesai ia memakaikan cincin.

“Makasih ya, Mas. Makasiiiiih banget udah mewujudkan harapan terbesarku dalam hidup ini.” ucap Bunga dengan mata berkaca-kaca. Bambang tersenyum sangat manis. “Malaikatkah dia?” pikir Bunga dalam hati. Tanpa terasa air mata yang terbendung di pelupuk matanya tumpah ruah menganak sungai di pipinya. Bunga merasa beban yang selama ini membebani dadanya lepas seiring dengan derasnya air matanya.

Bambang tak kuasa menyaksikan Bunga menangis haru. Ia pindah duduk ke kursi di sebelah Bunga dan merangkul pundaknya. Tangannya menyentuh kepala Bunga untuk disandarkan di bahu kekarnya. Ia membiarkan Bunga melampiaskan beban yang selama ini ia tanggung karena hidup sebatang kara. Kini ia ada disini, siap untuk menjadi pendamping setianya. Dengan lembut jemarinya membelai rambut Bunga. Aroma mawar khas Bunga menembus hidungnya membuatnya merasa harus melindungi wanita rapuh yang mencoba untuk terlihat tegar di sampingnya ini.

Anything for you, my flower.” jawab Bambang sambil mengecup puncak kepala Bunga. Tangan Bunga melingkari dadanya dan ia merasakan isakan Bunga mulai berkurang. Sejurus kemudian dengan tiba-tiba Bunga melepaskan pelukannya dan duduk tegak berhadapan dengan Bambang. Sisa-sisa air mata masih menggenangi pipinya yang merona merah.

“Duh, aku minta maaf ya Mas. Maaf banget. Aku bikin suasana malam ini jadi kacau. Harusnya nggak gini kan? Masa aku malah nangis. Maaf banget ya Mas.” ujar Bunga dengan suara serak.

“Loh kenapa minta maaf, Sayang?” Bambang masih saja kebingungan melihat reaksi Bunga yang spontan berubah-ubah ini.

“Ya harusnya kan ini momen spesial yang diliputi perasaan bahagia, tawa, senyum, ceria. Tapi malah jadi drama gini karena aku nangis.” ucap Bunga sambil menarik tisu dan mengusap pipinya dengan hati-hati agar make up nya tidak terlalu luntur. Inilah alasan ia tidak pernah mau memakai maskara, karena ia seringkali mudah terharu dan menangis.

“Gapapa sayang, itu bukan masalah. Mas malah seneng kalo Bunga mau ngungkapin perasaan Bunga ke Mas, jangan dipendam sendiri. Itulah gunanya Mas punya pundak kan, untuk selalu jadi tempat bersandar buat Bunga. Seperti tanah yang selalu memberikan senyawa kehidupan untuk bunga yang indah, begitu pula Mas yang akan selalu memberikan cinta untuk Bunga yang indah.” jawab Bambang yang membuat hati Bunga berbunga-bunga.

Bunga tak mampu berkata-kata. Ia tak pernah mampu menandingi pujian yang Bambang selalu lontarkan untuk dirinya. Mungkin karena ia merasa ia tak pantas menerima pujian itu. Selain itu, ia juga merasa tak pernah bisa membalas kebaikan Bambang. Bunga kembali bersandar di bahu Bambang yang seolah mengatakan disinilah tempat ternyaman di dunia.

“Oh iya, bulan depan Mami dan Papi pulang ke Jakarta. Mas mau kenalin Bunga ke Mami sama Papi. Sementara itu, kita persiapkan apa yang bisa kita persiapkan untuk pernikahan kita. Kamu tahu kan, empat bulan lagi Mas bakal ditugaskan di Aussie. Jadi kita harus menikah sebelum Mas berangkat. Waktu kita ga banyak. Nanti Mami bakal stay di Jakarta sampai hari H pernikahan kita. Gimana? Kamu setuju, kan?” urai Bambang panjang lebar. Tampaknya ia sudah memikirkan rencana ini dengan matang.

Bunga kembali terlonjak dari pelukan Bambang yang tampak kaget. Mata Bunga berbinar-binar. Ia mengangguk dengan antusias. Jantungnya terasa berdebar keras karena ia terlalu bersemangat.

“Iya, Mas. Aku setuju semua rencana Mas. Besok aku akan browsing dan cari info dari internet untuk penyelenggaraan pernikahan. Kita harus bergerak cepat. Hehe.” ujar Bunga berapi-api.

“Haha. Kamu ini.” Bambang mencubit pipi Bunga membuat pipi Bunga bersemu merah. Entah mengapa Bunga selalu cepat berubah keadaan emosinya. Baru saja ia menangis tersedu-sedu dan sekarang ia tampak lebih bersemangat dari suporter sepak bola. Tapi bagi Bambang itulah yang membuat Bunga terasa sangat menggemaskan sekaligus menyenangkan. Ia merasa tak sabar ingin memiliki gadis luar biasa ini seutuhnya untuk menjaganya, menemaninya, membimbingnya, dan yang pasti mencintainya.

 

-Bersambung-

 

 

Sumber gambar: di sini

Share To
Leave a Comment