FiksiCerita BersambungFiksiFiksiCerita BersambungNama Siapa yang Harus Kutulis?

Nama Siapa yang Harus Kutulis? -Butir 2: A Thrilling Introduction-

18 July 2017

Tiga minggu sudah berlalu sejak acara lamaran yang sangat membahagiakan itu. Bunga menyibukkan diri dengan pekerjaannya sebagai penerjemah lepas. Ia menyempatkan mencari informasi mengenai pernikahan melalui internet dan sedikit bertanya dari sedikit teman yang dimilikinya. Trauma masa kecil membuat Bunga sulit berteman. Ia bahkan tidak memiliki teman dekat yang bisa diajak bercerita. Maka saat ia bertemu Bambang melalui aplikasi pertemanan di internet, Bunga merasa sangat bahagia. Hanya Bambang yang mampu mengimbangi kemampuannya bersosialisasi. Terlebih lagi saat Bambang melamarnya dan mereka akan segera melakukan pernikahan. Teman lain yang ia temukan di internet tidak ada yang setulus Bambang. Semua hanya mau berteman dengan mengharapkan imbalan materi, atau bahkan fisik.

Hari ini Bunga sedang tidak ada pekerjaan. Tugas terjemahan kemarin sudah ia kirimkan kepada editor penerbit buku. Ia ingin bersantai seharian, sambil kembali menekuni hobi barunya, merancang persiapan pernikahan. Ia duduk di sofa depan televisi di apartemennya, sambil memangku laptop. Ia menelusuri situs-situs pernikahan, membaca blog pengalaman pernikahan orang, dan chat dengan temannya di penerbitan buku.

Bunga mulai membuat daftar kebutuhan yang harus disiapkan menjelang waktu pernikahan yang sudah semakin dekat. Bunga tidak menyangka jika kebutuhan yang diperlukan sangat banyak. Gedung, katering, undangan, suvenir, paket rias, gaun, KUA dan masih banyak lagi. Ia merasa sangat membutuhkan seseorang untuk berbagi. Bambang saat ini sedang sibuk mengurus perusahaan ayahnya yang akan membuka cabang di Australia. Bunga tidak ingin mengganggunya untuk urusan ini. Lagipula, biasanya bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, pesta pernikahan disiapkan oleh keluarga mempelai perempuan. Andai saja ia punya keluarga, pasti ia tidak akan kebingungan sendiri seperti ini.

Bunga tersenyum sendiri. Ia berpikir bahwa ia sebentar lagi akan punya keluarga. Ibunya Bambang akan datang ke Indonesia untuk membantu persiapan pesta pernikahannya. Bunga tak sabar ingin segera bertemu sosok ibu yang akan menjadi bagian dari keluarganya. Walaupun bukan ibu kandung dan banyak rumor buruk mengenai ibu mertua, Bunga yakin ibu kekasihnya itu adalah sosok ibu yang baik. Buktinya, ia melahirkan seorang anak sebaik Bambang.

Drrttt.. Drrrtt… Terdengar samar suara getaran handphone Bunga. Bunga meraih handphonenya dan melihat whatsapp masuk. Ternyata dari Bambang. Jarang sekali Bambang menghubungi Bunga saat sedang sibuk bekerja. Bunga berdegup saat jarinya menyentuh layar handphone-nya untuk membuka kunci.

“Semoga kabar baik.” pikir Bunga dalam hati.

Mas Bambangku: [Bunga, maaf Mas baru hubungi sekarang.]

Mas Bambangku: [Mami ternyata akan sampai di Jakarta karena cutinya dipercepat.]

Mas Bambangku: [Ternyata Mami juga Cuma bisa sekitar 3 atau 4 hari di Jakarta.]

Mas Bambangku: [Jadi besok Mas jemput kamu untuk ke rumah ya ketemu Mami.]

Mas Bambangku: [Jam 8 pagi.]

Mas Bambangku: [Maaf Mas ga bisa telepon, lagi ada pertemuan sama CEO.]

Mas Bambangku: [Love you, my flower <3]

Seketika jantung bunga berdegup kencang. Pesan singkat Bambang lebih mendebarkan dibanding acara lamaran yang membuatnya menangis haru itu. Ia akan segera bertemu dengan calon ibu mertuanya. Perasaan ini mirip saat ia akan menjalani ujian praktik di sekolah dulu. Ia merasa takut berhadapan dengan guru penguji, takut dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, takut tidak bisa menjawab dengan benar. Berbeda dengan ujian tulis dimana ia bisa berpikir sebelum menjawab, dan tidak perlu tertekan dengan tatapan tajam sang penguji. Itulah sebab dia membenci ujian praktik. Ia benci dengan tatapan tajam orang lain, dengan pertanyaan yang harus ia jawab, karena mau tak mau ia harus bicara. Dan Bunga tidak terlalu suka bicara.

Tapi pertemuan pertama dengan calon mertua ini tentunya memiliki kadar menakutkan dengan intensitas yang lebih besar. Pada saat seperti inilah dirinya akan dinilai oleh calon mertuanya kelak, apakah ia layak untuk anak semata wayang mereka. Bagaimana jika orang tua Bambang tidak menyukainya? Bagaimana kalau ia terlihat bodoh saat berbicara. Bagaimana kalau ia tak dapat menjawab pertanyaannya. Bagaimana kalau ia gugup atau tergagap? Bagaimana kalau…

Bunga mendesah. ‘Bagaimana kalau…’ itu tidak akan pernah berujung sampai ia menjalani sendiri ‘ujian praktik’ itu. Ini baru permulaan. Jika ia lolos pada tahap ini pun, masih panjang perjalanan untuk berinteraksi dengan mertuanya nanti. Yang lebih penting sekarang adalah mempersiapkan diri untuk menciptakan kesan pertama yang memikat.

Bunga bergegas berdiri menuju ke arah cermin. Ia akan berlatih berbicara dan tersenyum. Sebelum itu, ia teringat akan satu hal dan kembali mengambil handphone-nya untuk membalas pesan Bambang.

Me    :        [Oke Mas.]

Me    :        [Semangat ya kerjanya…]

Me    :        [Love you too, Mas sayang <3]

Keesokan harinya, Bunga sudah menunggu Bambang di halte bus depan apartemennya. Ia mengenakan gaun berwarna pastel yang senada dengan sepatu wedges dan tasnya. Rambut hitam bergelombangnya ia gerai, dihiasi dengan jepit rambut bunga berwarna pastel. Riasannya tidak terlalu mencolok, untuk menciptakan kesan natural namun tetap terlihat manis.

Lima menit kemudian Bambang datang mengendarai mobilnya. Ia membuka kaca depan dan  melambaikan tangan ke Bunga yang dibalas dengan senyum merekah Bunga. Ia berjalan menuju mobil dan masuk ke dalamnya. Bunga tak dapat menahan rasa rindu yang selama ini ia pendam kepada kekasihnya itu.

“Masss. Aku kangennnn.” Sapa Bunga tanpa basa basi setelah masuk ke mobil. Ia segera merangkul lengan Bambang.

“Mas juga kangen Bunga bangettt. Maaf ya Mas sibuk banget akhir-akhir ini. Menjelang grand opening cabang baru di Aussie.”  ucap Bambang dengan suara penuh penyesalan. Ia mulai menjalankan mobil menuju rumahnya. Suasana jalan lengang karena libur akhir pekan.

“Iya aku ngerti kok. Tapi Mas ga lupa kan dengan rencana pernikahan kita?” Tanya Bunga. “Aku udah bikin daftar keperluannya lho.” Kata Bunga bangga sambil menunjukkan daftar persiapan pernikahan di handphone-nya.

Bambang melirik handphone yang ditunjukkan Bunga. Ekspresi wajahnya terlihat berubah. Ia kembali memalingkan wajah ke depan stir mobil. “Bunga, maaf ya Mas lupa bilang kalau Mas sudah sewa Event Organizer untuk nikahan kita. Jadi kita ga perlu repot-repot nyiapin segala sesuatunya. Tapi Bunga keren kok udah antusias bikin list itu.”

“Oh…” desah Bunga. Mas Bambang selalu selangkah di depannya dan ia tak pernah bisa mengimbanginya.

“Bunga jangan marah ya, nanti konsep pernikahannya tetep sesuai sama kemauan Bunga. Semua ide pernikahan akan sesuai sama impian Bunga. Tapi yang nyiapin EO-nya. Kita tinggal duduk santai di singgasana aja ya.” rayu Bambang.

“Aku ga marah ko Mas. Malah aku seneng kalo semuanya udah beres. Tapi aku pengennya Mas kabarin aku kalo ada perkembangan.” jawab Bunga datar. Matanya memandang lurus ke depan jalan raya.

“Iya sayang tenang aja. Maaf ya. Nanti minggu depan kita ketemuan sama EO-nya untuk bicarain konsep nikahan kita. Oke?” Bambang berkata sambil mengusap rambut Bunga yang dibalas dengan anggukan mengiyakan.

Tak terasa mereka sudah tiba di rumah Bambang. Bunga baru dua kali mengunjungi rumah itu dan selalu takjub akan kemegahannya. Rumah Bambang tampak seperti istana di tengah taman dengan warna-warni bunga yang tersusun rapi. Tapi sayangnya, rumah sebesar itu jarang ditinggali oleh penghuninya. Ketika ia berjalan memasuki pintu depan rumahnya bersama Bambang di sisinya, ia merasa seperti seorang puteri yang berjalan diiringi oleh pangeran. Tapi kali ini berbeda. Pasalnya, jantungnya tidak berhenti berdebar dengan keras menciptakan atmosfir ketegangan yang mengancam.

“Neng Bunga, sudah lama ga kesini.” sapa seseorang sambil membukakan pintu depan, mendistraksi Bunga dari ketegangannya. Ternyata Bi Iyem, asisten rumah tangga Bambang yang sudah mengurus Bambang dari kecil.

“Iya Bi, baru sempat lagi. Bibi gimana kabarnya? Sehat, kan?” sapa Bunga ramah.

“Alhamdulillah sehat, neng. Neng Bunga sama Mas Bambang udah ditunggu Nyonya di ruang tengah ya. Bibi mau ambil minum dulu.” Bi Iyem mengantarkan mereka sampai ruang tamu, kemudian meninggalkan mereka menuju dapur.

Bunga belum pernah masuk lebih dalam ke rumah Bambang. Ia hanya duduk di ruang tamu ketika berkunjung kesana. Bambang merasa tak enak jika mengajak seorang gadis masuk ke rumahnya, walaupun ada Bi Iyem tapi ia tetap merasa harus menjaga nama baik keluarga. Akhirnya mereka lebih sering bertemu di D’coffee dan menjadi pelanggan tetap disana.

Rumah keluarga Bambang terlihat sangat indah dan nyaman. Berbagai perabot mahal tertata apik di sana. Nuansa etnik begitu terasa saat melihat ukiran Jepara di setiap perabot, dipernis rapi dan anggun. Lukisan indah tergantung di dinding, menciptakan suasana artistik yang mengagumkan. Beberapa vas bunga tampak berisi bunga-bunga segar yang baru dipetik dari taman di depan rumah.

Mereka tiba di ruang tengah yang sangat nyaman dan luas. Sebuah televisi layar 42 inch tergantung di salah satu dinding ruangan. Di sisi lain ruangan dibatasi oleh kaca tembus pandang yang menampilkan pemandangan taman yang dipenuhi bunga serta kolam ikan dengan batu alam sebagai latar air mancur. Sebuah sofa panjang melintang di tengah ruangan, di apit oleh dua sofa ukuran sedang di kanan dan kirinya. Sebuah meja kopi di pojok ruangan, dihiasi dengan sebuah vas bunga. Sebuah permadani terhampar luas di tengah ruangan menampilkan kesan nyaman dan hangat.

Seorang wanita paruh baya duduk di sofa yang berada di tengah ruangan sedang membaca majalah. Matanya terbingkai oleh kacamata bergagang emas. Rambutnya ditata model era 70’an. Tubuhnya padat berisi, menandakan bahwa ia wanita yang rajin berolah raga. Wajahnya terlihat serius dengan rahang lancip dan terlihat seperti wanita bangsawan. Tegas namun tetap menimbulkan kesan anggun dan bersahaja.

Kaki Bunga mendadak lemas seperti agar-agar. Ia menarik napas panjang mempersiapkan diri menemui wanita yang terlihat seperti Ratu Elsa dari film Frozen  yang sedang duduk di singgasana. Dingin dan menegangkan.

“Akankah ia menyukaiku? Akankah ia menerimaku?” batin Bunga.

 

-Bersambung-

 

 

Baca kisah sebelumnya di butir 1

Sumber gambar: di sini

Share To
Leave a Comment