FiksiCerita BersambungFiksiFiksiCerita BersambungNama Siapa yang Harus Kutulis?

Nama Siapa yang Harus Kutulis? -Butir 3: How is My Future Mother in Law-

25 July 2017

 

“Mam, ini Bunga sudah datang.” sapa Bambang pada ibunya yang sedang duduk di sofa sambil menggandeng tangan Bunga yang terasa sedingin es. Mereka mendekat ke arah wanita di tengah ruangan dan mulai bersalaman. Bunga mencium tangan “Ratu Elsa” -bayangan Bunga tentang calon ibu mertuanya-, dengan khidmat.

“Oh ini yang namanya Bunga? Wah cantik ya. Kebetulan Mami suka banget sama bunga.” sapa ibu Bambang ramah. Es yang sedari tadi membeku kini telah lumer seketika. Perasaan hangat menjalari tubuh Bunga bagai bongkahan es di dalam gelas yang disiram air panas. Bunga tersipu mendengar pujiannya. Di sisi lain ia merasa bingung ingin bicara apa lagi.

“Makasi, Tante…” akhirnya hanya jawaban itulah yang keluar dari mulut Bunga diiringi senyum yang ia buat senatural mungkin. Bambang menuntunnya duduk di sofa sebelah kiri.

“Cantik kan, Mam pilihan Bam. Selain cantik, Bunga juga baik Mam.” ucap Bambang yang duduk di sebelah Bunga. “Tapi dia agak pemalu, Mam.” lanjutnya.

“Iya Mami percaya sama Bam.” jawab Mami yang tampak mengamati Bunga dari ujung rambut sampai ujung kaki, membuat Bunga rasanya ingin meleleh seperti lilin yang habis dibakar. “Bunga tinggal dimana?”

“Di apartemen Casanova, Tante.” jawab Bunga singkat. Ia mengutuk dirinya sendiri yang tak menemukan kata-kata untuk menjawab lebih panjang supaya dapat mencairkan suasana.

“Oh, tinggal sendiri apa sama orangtua? Emang Bunga asalnya darimana?” tanya Mami seperti seorang HRD mewawancarai calon pekerja.

Bunga tampak kikuk. Ia memikirkan jawaban apa yang pantas. Ia takut kalau kebenaran dari dirinya akan terungkap dan Mami tidak suka. Ia menatap Bambang, mencari bantuan jawaban.

“Aku tinggal sendiri, Tante. Ehm, orangtua aku…” Bunga berpikir keras.

“Bunga yatim piatu, Mam. Sejak kecil dia tinggal di panti asuhan.” potong Bambang membantu.

“Oh…” seketika ekspresi Mami berubah. Ia tampak sangat terkejut. Bunga tertunduk lemas. Ia bertanya dalam hati apakah Mami tidak suka jika ia yatim piatu? Bagaimana jika Mami tidak merestui pernikahannya? Air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Rasanya Bunga ingin masuk kolam ikan di taman dan tak ingin keluar lagi.

Bunga seolah kembali tersadar saat  Bambang meremas tangannya yang bertambah dingin. Bunga memberanikan diri menatap Bambang dan meluncurlah air mata di pipinya. Tatapan Bambang yang meneduhkan seolah menyiratkan bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi Bunga tak yakin. Ia tak berani melihat ke arah Mami.

“Ya ampun.” ucap Mami tiba-tiba membuat Bunga refleks melihat ke arahnya. “Kasihan Bunga, kamu pasti sedih ya karena Mami membicarakan orangtuamu. Maaf ya sayang.” lanjut Mami.

Seketika tubuh Bunga dijalari perasaan hangat kembali yang melelehkan hatinya yang beku. Ia menatap Mami yang tampak samar karena matanya yang masih basah karena air mata.

“Ng.. Nggak apa-apa kok Tante. Bunga yang minta maaf karena tiba-tiba nangis.” jawab Bunga dengan suara serak.

“Iya Mami, Bunga ini merasa kesepian banget karena ga punya orangtua. Makanya dia seneng banget waktu Bam bilang mau nikah sama Bunga, karena Bunga jadi punya ayah dan ibu lagi. Apalagi ibunya secantik dan sebaik Mami. Siapa yang ga seneng coba. Iya kan Bunga?” Bambang mencoba mencairkan suasana dengan merayu Mami. Ia paham betul kalau Mami suka sekali dipuji.

Bunga mencoba tersenyum sambil menyeka airmatanya. Terdengar Mami tertawa nyaring.

“Hahahaha.. Kamu ini Bam dari dulu bisa aja. Pasti ada maunya. Sini Bunga, duduk di sebelah Tante. Jangan mau duduk sama orang yang suka ngerayu kalo ada maunya.” kata Mami sambil mengulurkan tangan ke arah Bunga. Bunga menurut dan duduk pindah di samping Mami. Ia merasakan tangan Mami merangkul pundaknya.

“Bunga jangan sedih lagi ya. Mulai sekarang Bunga juga boleh manggil Mami kok. Bunga udah punya orangtua lagi sekarang. Jangan sungkan ya sama Mami.” ucap Mami lembut sambil mengusap bahu Bunga. “Apalagi Mami suka banget sama bunga-bunga. Dan pas banget punya menantu namanya Bunga.” goda Mami.

Bunga merasakan tubuhnya semakin hangat dan rasanya ia ingin menari karena senangnya. Impiannya dari kecil menjadi kenyataan. Inikah rasanya punya seorang ibu? Rasanya sangat nyaman dan tak ingin lepas. Maka ia merasa heran bila ada orang yang durhaka pada ibunya. Sedangkan di sisi lain, selain dirinya, mungkin banyak orang yang membutuhkan sosok ibu.

“Bunga boleh peluk Mami ya?” pinta Bunga di iringi senyuman manis Mami. Tanpa menjawab, Mami memeluk Bunga. Bunga merasakan kenyamanan dan kehangatan luar biasa. “Makasi banyak ya Mami.” bisiknya.

Di sofa sebelah tampak Bambang tersenyum lega melihat perkenalan Mami dan Bunga berjalan lancar. Apa yang ia takutkan tidak terjadi. Ternyata Mami mau menerima kondisi Bunga yang merupakan yatim piatu.

Suasana haru itu pecah saat Bi Iyem datang membawa nampan minuman dan penganan ringan. Pembicaraan dilanjutkan dengan tema rencana pernikahan Bunga dan Bambang. Mami setuju untuk menggunakan EO untuk mengurus seluruh pesta pernikahan nanti. Tapi sayangnya Mami tidak dapat ikut serta pada acara rapat dengan EO pekan depan, karena Mami harus segera kembali ke luar negeri karena ada kunjungan menteri luar negeri ke sana. Sebagai istri duta besar, Mami harus menemani Papi untuk menyambut rombongan dari Indonesia.

Bunga pulang dengan perasaan lega dan bahagia. Impiannya benar-benar akan menjadi nyata. Ia akan menikah dengan Pangeran pujaan hatinya dan memiliki ibu mertua sebaik Ratu yang bijaksana. Akankah kehidupannya akan seperti dongeng-dongeng kesukaannya, berakhir dengan ‘hidup bahagia selama-lamanya’?

 

 

-Bersambung-

 

Baca kisah sebelumnya di butir 1, butir 2

 

Sumber gambar: di sini

Share To
Leave a Comment