FiksiCerita Pendek

Lebih dari Sekedar Persahabatan

07 July 2017

“Sof, daritadi bengong aja!” panggil Grace sambil mengguncangkan bahu Sofia dengan keras membuat Sofia terdorong cukup keras. Sofia yang kaget hampir saja terjengkang.

“Ih apaan sih Grace ngagetin aja.” balas Sofia sambil mendorong balik Grace dengan keras dan membuatnya telentang di atas bantal.

“Ih ko kamu dorong balik sih Sof. Nih rasain.” timpal Grace mendorong balik Sofia.

“Eh kalian apaan sih dorong-dorongan gitu. Inget umur woy. Mana tugas kalian udah selesai belom?” teriak Fathiya dari seberang meja.

Sofia dan Grace kembali menghadap ke arah laptop di depan wajahnya sambil cekikan. Sofia memberi kode kepada Grace.

“Tuhkan Mami mulai lagi ngomel-ngomelnya.” bisik Sofia pada Grace.

“Kamu sih yang duluan.” ucap Grace sambil menunjuk Sofia.

“Aduhhh ni anak dua ya dari tadi ga kelar-kelar malah bercanda mulu. Cepetan sih ngerjainnya aku mau ada pengajian nih.” Fathiya mengomel sambil menarik layar laptop Grace dan Sofia.

“Ampun kanjeng mami. Segera siap laksanakan.” pekik Grace sambil nyengir. Ia kembali menaikkan layar laptopnya dan pura-pura sibuk mengetik.

“Sofia juga nih. Dari tadi bengong aja. Kenapa sih.” tanya Fathiya. “Kita kan udah janji kalau ada masalah harus saling bilang. Eh iya kamu juga kemaren ga ikut demo. Pulang kuliah langsung ilang aja padahal mau aku ajakin ikut demo yang lagi ramai itu.”

Sofia menarik napas panjang. “Kamu kan tau, Mami, aku ga suka ikut demo. Dari dulu juga ga pernah ikut. Ibuku lagi sakit dan adikku ga mau sekolah. Aku jadi pusing. Aku harus bantuin Ibu jualan sambil jemput si Dio dari sekolah. Belum lagi harus ngajar di bimbel juga.” jawab Sofia panjang lebar.

“Ya Allah, Ibu belum sembuh Sof? Duh maaf ya aku ga tau. Abis seminggu ini kamu ngilang terus. Kalo ga karena tugas kelompok ini juga kita ga bakal ketemuan gini.” kata Fathiya merasa prihatin sambil mengusap bahu kiri Sofia. “Syafakillah ya buat Ibu.”

“Iya Sof aku juga ga tau kalau Ibu sakit. Maaf ya Sof kami jadi belum sempet jengukin. Dan kalau tadi tau kamu lagi banyak pikiran aku ga bakal dorong-dorong kamu.” ucap Grace sambil mengusap bahu kanan Sofia. “Semoga Tuhan segera mengangkat penyakit Ibu.”

“Santai aja kali guys. Aku emang belum sempet bilang sama kalian karena paket internet aku abis belum beli lagi. Hehe.” jawab Sofia sambil merangkul erat kedua sahabatnya. “Oh iya makasih ya doanya kesayangan akoeh.”

“Aduh jangan kenceng-kenceng juga kali Sof jilbab aku ketarik nih.” teriak Fathiya sambil melonggarkan rangkulan Sofia.

Terdengar suara langkah kaki mendekat di belakang mereka. Mereka merasakan aura dingin dan seketika bulu kuduk mereka berdiri. Mereka sudah bisa menerka apa yang akan terjadi dengan suasana seperti ini.

“Hem bagus ya. Ditinggal ke bawah sebentar malah pada peluk-pelukan!” terdengar suara berat Maria di belakang punggung mereka. Spontan ketiga orang yang berpelukan langsung membubarkan diri.

“Ampun Opung. Ini dua orang ini ga konsen-konsen ngerjain tugasnya. Aku mah cuma ngingetin mereka aja.” pekik Mami Fathiya. Sofia dan Grace hanya nyengir sambil mengacungkan dua jari tanda damai.

“Kalian ini ya. Dari SMA kelakuan ga berubah. Bercanda saja yang ada di otak kalian. Mana tugasnya udah selesai belum? Sini kumpulkan biar bisa aku gabung.” cerocos Maria melebihi kecerewetan Fathiya. Ia menaruh sepiring kentang goreng hangat dan semangkuk saus sambal di tengah meja.

“Wah asyikkk Opung emang the best lah ya.” seru Sofia girang. Seketika mereka menyerbu kentang goreng yang ludes dalam satu kedipan mata.

“Fat kemarin kau ikut demo, kah? Aku cari-cari kau di kampus tak ada. Bu Delima kasih makalah individu pekan kemarin yang sudah dinilai.” tanya Maria membuka pembicaraan sambil mengeluarkan makalah dari dalam tasnya.

“Iya kemaren aku ikut demo, Mar. Maaf ya kamu jadi cari-cari aku. Makasi lho makalahnya.” jawab Fathiya sambil membuka makalah yang diberikan Maria untuk melihat nilai yang diberikan Bu Delima.

“Guys menurut kalian demo kemarin gimana? Menurutku sih demonya lumayan oke. Secara siangnya demonya damai. Om aku lewat tempat demo juga aman-aman aja. Padahal ada yang bilang demonya mengancam agama dan etnis aku. ” kata Grace sambil menjilati saus sambal di tangannya.

“Ya kalo aku kemarin ikut demo karena tujuannya murni untuk membela agamaku. Kami hanya merasa terhina dengan ucapan yang menghina kitab suci kami. Ga ada niatan sedikitpun untuk menyerang etnis atau agama tertentu. Iya kan, Sof?” jawab Fathiya mengalihkan pandangan ke Sofia.

“Iya aku setuju sama Fathiya. Walaupun aku ga ikut demo karena emang ga suka demo, tapi terus terang aku juga merasa marah saat kitab suci agamaku, yang aku pelajari setiap hari, yang aku baca setiap hari dihina orang. Aku emang cenderung pasif dan diam aja baik di dunia nyata maupun di dunia maya karena aku tipikal orang yang ga suka konfrontasi. Tapi aku tetep merasa marah dan berdoa semoga orang yang melecehkan agama segera diproses hukum.” jawab Sofia.

“Iya sih, aku pun marah pula kalau ada yang menghina agamaku atau rasku. Cuma yang aku ga suka setiap demo pasti ricuh. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Semuanya saling ejek, saling perang pendapat. Bikin panas mataku ini lihat berita dan media sosial.” ucap Maria.

“Sebenernya menurutku ya, karena aku ada sendiri di tempat demo, yang rusuh itu bukan pendemo tapi adanya oknum provokator. Buktinya sedari siang kami masih damai aja kan?” jawab Fathiya.

“Iya aku tau itu. Makanya aku bilang aku apresiasi demo kalian itu pas siang. Sebagai pecinta lingkungan hidup, aku senang banget waktu lihat pendemo peduli sama lingkungan, mungutin sampah, jagain taman. Yah walaupun pas malemnya kotor lagi. Haha.” Grace menimpali.

“Iya sayang banget ya. Aksi yang udah dibuat damai jadi rusuh malemnya gara-gara provokator. Pasti yang demo sedih banget, kayak Fathiya gini yang niat demonya emang untuk damai malah dirusak oknum jahat itu. Pasti si provokator niatnya mau mecah belah kita deh.” ucap Sofia lirih. “Belum lagi saling perang di media sosial, duh sedih banget lihat temen-temen kita banyak yang jadi perang dan saling ngotot begitu.”

“Untungnya kita nggak yah. Walaupun kita beda agama tapi kita ga perang. Tetep damai sentosa. Hahaha.” jawab Maria.

“Iya kita kan best friend forever. Dari SMA sampai kapanpun harus tetep bareng. Ga boleh jadi berantem parah dalam hal apapun. Apalagi kalau soal SARA. Duh jangan sampe deh. Kalau soal agama kan kita masing-masing. Tapi kalau soal persahabatan kita harus tetep bareng terus. Walau nanti udah lulus udah beda tempat kerja udah nikah udah tua tetep jadi sahabat ya.” ucap Grace panjang lebar.

“Wah tumben Grace omongannya bener. Mami bangga sama kamu nak. Kamu ternyata sudah dewasa.” goda Fathiya sambil mendekati Grace dan merangkulnya. Sofia dan Maria menyusul memeluk mereka.

Tiba-tiba Maria melepas pelukannya dan mendorong ketiga sahabatnya sampai terguling di bantal besar.

“Bah! Apa pulak kita ni. Sok sok sentimentil. Berpelukan macam teletubies sajalah kita ni.” maki Maria sambil berjalan kembali ke laptop.

Spontan mereka semua tertawa mendengar ucapan Maria. Mereka saling melempar bantal sementara Maria menyelesaikan makalah mereka. Setelah Maria selesai, mereka pun membereskan kamar Maria yang berantakan setelah kerja kelompok.

“Kami pulang duluan yah, Mar. Mau ke mushola dulu untuk sholat. Suruh Grace aja yang cuci piring. Hehe. Jangan lupa ntar abis Maghrib kita ke rumah Sofia ya untuk jenguk Ibu.” pamit Fathiya.

“Terus aja aku deh yang disuruh cuci piring. Aku kan mau hang out sama Frans”.  Grace menggerutu.

“Kau ga ikut perkumpulan agama kah?” tanya Maria bersiap mencubit Grace

“Hehe. Lain kali aja ya opung. Hihi.” Grace kabur ke belakang Fathiya dan Sofia.

“Grace emang pemalas. Huh. Yaudah ya Maria kami pergi dulu. Dadah.” Pamit Sofia sambil melambaikan tangan.

Mereka pun berpisah di gerbang rumah Maria dan berjalan bergandengan tangan, bersama.

 

Written by Yuanita Fransiska

 

Sumber gambar: Gambar 1 dan Gambar 2

 

Share To
Leave a Comment