My Lifetime StoriesMy Lifetime StoriesSignificant Others

Menjadi Korban Bully, Sebuah Pengalaman

10 August 2017

You, with your words like knives
And swords and weapons that you use against me
You, have knocked me off my feet again,
Got me feeling like a nothing
You, with your voice like nails
On a chalk board, calling me out when I’m wounded
You, picking on the weaker man

~Taylor Swift, Mean

 

Lagu Taylor Swift ini mengingatkan akan maraknya berita mengenai kasus bullying atau perundungan dalam bahasa Indonesia yang dialami oleh anak-anak di Indonesia. Sebut saja kasus perundungan yang dialami oleh mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta dan siswa sekolah dasar di kawasan Thamrin. Kasus tersebut mencuat melalui video yang diunggah oleh pelaku yang entah apapun motivasinya membeberkan perilakunya sendiri. Fenomena bully ini seperti gunung es, dimana yang terlihat hanya sebagian kecil dari keseluruhan kasus yang tidak kita ketahui.

Maraknya kasus ini mengingatkanku pada kejadian yang dialami oleh keluargaku sendiri. Awalnya aku tidak yakin untuk menuliskan kisah ini karena ini merupakan salah satu pengalaman buruk yang dialami keluargaku. Namun, setelah melalui persetujuan keluarga, aku memutuskan untuk menuliskan dengan harapan pembaca bisa mengambil hikmah dari pengalaman ini.

Dulu salah satu anggota keluargaku pernah mengalami bully atau perundungan. Saat itu aku kelas 1 SMP dan saudaraku yang menjadi korban kelas 4 SD. Tiba-tiba saja ia mengalami perubahan yang sangat besar. Sebelumnya saudaraku itu sangat ceria dan aktif namun tiba-tiba saja menjadi pemurung dan pemarah. Biasanya kami sering bermain bersama. Namun belakangan ia sangat tidak bersahabat, mudah marah, dan sering menangis karena hal-hal sepele. Hal itu berdampak pada Ibunya yang juga jadi mudah kesal padanya. Begitupun aku yang jadi sering dimarahi karena disangka aku yang membuat saudaraku seperti itu.

Semakin lama saudaraku semakin menjadi. Ia mulai malas masuk sekolah dengan alasan yang sering dibuat-buat. Ketika ibunya menyuruhnya sekolah ia malah mengamuk dan menangis sampai-sampai ibunya melempar tasnya keluar rumah. Hari berikutnya saat diantar ayahnya ke sekolah, ia tidak mau turun dari mobil dan malah memilih ikut dengan ayahnya ke tempat kerja yang sangat jauh dari rumah. Kontan saja, hal itu membuat panik ibunya karena ditunggu-tunggu saudaraku tidak kunjung pulang ke rumah. Terlebih lagi saat itu belum ada handphone sehingga komunikasi juga jadi sulit.

Keluargaku sudah kehabisan akal membujuknya untuk sekolah. Ketika ditanya apa yang menyebabkan ia tidak mau sekolah, ia tidak pernah mau menjawab justru malah menangis. Ibunya menanyakan apa terjadi sesuatu di sekolah pada temannya yang juga tetangga sebelah rumah tapi ia juga tidak memberikan jawaban memuaskan. Akhirnya keluargaku menyimpulkan ada yang tidak beres di sekolah, ibunya mengajak adiknya (bibi) ke sekolah menemui gurunya. Guru saudaraku bilang tidak mengetahui apa yang terjadi. Dengan nada kesal, bibinya berkata di depan kelas jika ada yang berani macam-macam dengan saudaraku akan mendapat balasan.

Akhir semester pun telah tiba. Alhamdulillah saudaraku naik kelas ke kelas lima. Syukurlah banyaknya absen tidak membuatnya tinggal kelas. Namun peringkat di kelasnya menjadi turun. Sejak kelas 1 sampai kelas 4 semester 1  ia selalu menjadi peringkat pertama, tetapi semester 2 ini peringkatnya menjadi turun menjadi peringkat kedua.

Saudaraku perlahan mulai terbuka mengenai masalahnya di sekolah. Ia mengatakan bahwa ada seorang temannya di kelas yang tidak menyukainya. Temannya itu anak orang yang cukup berada sehingga ia mampu membayar murid lain untuk menjauhinya. Saudaraku dipaksa duduk sebangku dengannya dan diperalat untuk mengerjakan tugas-tugasnya dan menuliskan catatan pelajaran untuknya. Temannya itu juga mengancamnya untuk tidak melaporkan apa yang dilakukannya kepada keluarga dan guru. Ia jadi merasa sendirian dan ketakutan sepanjang semester itu.

Alhamdulillah selama kelas lima, suasana kelas saudaraku sudah mulai kondusif. Teman-temannya yang dulu menjauhinya perlahan mulai mendekat kembali. Mereka justru malah menjauhi teman yang dulu mem-bully-nya. Dengan kuasa Allah, teman pem-bully itu malah mendapat karma tidak naik kelas ke kelas 6. Luar biasa.

Berdasarkan kisah ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa peran orangtua sangat penting dalam mendeteksi lebih dini kasus bully yang di alami oleh anak. Orang tua sebaiknya lebih waspada mengenai tanda-tanda bully yang terjadi pada anak sehingga dapat mencari solusi sedini mungkin. Pendekatan intens kepada anak dimulai dengan bercerita dari hati ke hati dan memberikan rasa aman dan nyaman pada anak agar mau bercerita merupakan hal yang penting. Kesabaran dan ketenangan juga menjadi kunci dalam menghadapi anak korban bully.

Untuk para pelaku bully, ingat selalu bahwa kalian tidak selamanya akan berada di atas. Adakalanya justru keadaan malah berbalik dan membuat kalian menjadi korban. Pembalasan Allah SWT nyata, dan doa orang yang dizalimi insya Allah akan dikabulkan-Nya. Oleh karena itu, STOP BULLY! Kalian tidak akan mendapat keuntungan apapun dari perilaku tercela itu selain karma. Coba lihat Taylor Swift yang dulu pernah jadi korban bully, sekarang bisa sukses kan?

All you are is mean and a liar and pathetic
And alone in life and mean, and mean, and mean, and mean

 

Sumber gambar: gambar 1, gambar 2, gambar 3, gambar 4

Share To
Leave a Comment