FiksiCerita BersambungFiksiFiksiCerita BersambungNama Siapa yang Harus Kutulis?

Nama Siapa yang Harus Kutulis? -Butir 4: Unpredictable Preparation-

08 August 2017

Pekan ini juga Mami dan Bambang tidak banyak berada di rumah karena harus ke Yogyakarta menemui keluarga besar Mami dan Papi. Setelah itu, Mami akan kembali ke luar negeri. Untuk acara pernikahan nanti, Mami hanya berpesan untuk dikirimkan sampel undangan, suvenir, dan foto-foto gedung serta konsep acaranya. Mami percaya dan menyerahkan semua urusan kepada Bambang dan Bunga. Satu syarat lainnya dari Mami adalah dekorasi gedung pernikahan harus banyak bunga-bunga.

Tak terasa satu pekan telah berlalu. Seminggu penuh Bunga membayangkan konsep pernikahan impiannya. Hari ini, ia dan Bambang bertemu dengan EO, yang ternyata adalah milik teman Bambang. Mereka membahas tema dan konsep pernikahan. Bunga mengusulkan tema pernikahan negeri dongeng, sesuai keinginannya sejak kecil menjadi seorang princess. Konsep dekorasi gedung berupa istana yang dikelilingi taman bunga. Awalnya Bunga ingin pesta diadakan outdoor, tetapi pertimbangan cuaca yang tidak menentu membuat mereka memutuskan pesta tetap dilaksanakan di gedung. Sesuai dengan tema, seorang desainer pembuat gaun pengantin yang juga hadir dalam rapat ini mengajukan konsep gaun ala Princess Aurora yang merupakan salah satu karakter Disney Princess favorit Bunga.

Suvenir dan undangan yang ditawarkan adalah salah satu keluaran terbaru dari vendor yang bekerja sama dengan EO. Suvenir tersebut adalah sebuah hiasan berupa lampu meja kecil berbentuk bunga dari kristal dengan sumber energi dari baterai. Adapun undangan berbentuk seperti perkamen berwarna merah muda yang digunakan pengawal kerajaan saat memberikan maklumat atau undangan pesta dansa di dongeng-dongeng. Perkamen tersebut dimasukkan ke dalam sebuah tabung bercorak batik berwarna merah muda yang senada dengan perkamen. Semua sudah disediakan lengkap sehingga Bambang dan Bunga hanya tinggal menyusun apa saja yang perlu dituliskan di undangan dan suvenir.

Selepas istirahat, kru EO meninggalkan Bambang dan Bunga di sebuah ruangan untuk menyusun draft undangan dan souvenir yang akan dicetak. Bunga merasa kebingungan untuk menulis nama orangtua di bawah namanya. Ia bertanya kepada Bambang apakah boleh mengosongkan bagian itu? Ternyata Bambang setuju.

“Maaf ni Mas Bambang dan Mbak Bunga, ini ada yang kurang di undangannya.” kata Tio, asisten yang mengurusi bagian undangan dan suvenir.

“Yang mana yang kurang Tio?” tanya Bambang.

“Ini Mas, yang bagian orangtua mempelai perempuan belum diisi.” ujar Tio sambil menunjuk draft yang dibuat Bambang dan Bunga.

“Ehm, ini boleh dikosongin aja ga Mas Tio?” tanya Bunga. Ia sudah mendiskusikan dengan Bambang untuk mengosongkan nama orangtua di bawah namanya dan Bambang pun menyetujui.

“Biasanya sih diisi Mbak, nanti orangtua Mbak Bunga gapapa kalo ini ga diisi?” Tio balik bertanya. Ia tidak pernah menemukan mempelai perempuan yang tidak mengisi nama orangtuanya di undangan pernikahan.

“Gapapa kok, aku emang ga punya orangtua dan nggak ada yang mau aku tulis juga disitu.” jawab Bunga datar.

“Oh gitu, yaudah nanti saya buatin desainnya dulu ya, lusa kalau udah selesai saya kirim ke email Mas Bambang.” ujar Tio sambil tersenyum.

“Oke, makasi ya Tio.” jawab Bambang diiringi anggukan Tio yang kemudian meninggalkan Bambang dan Bunga di ruangan.

“Mas, beneran gapapa ni aku ga nyantumin nama orangtua? Nanti Mami sama Papi gapapa? Emang beneran aneh ya ga nyantumin nama orangtua? Kok tadi Mas Tio nanyanya gitu?” tanya Bunga panik.

“Udah gapapa. Bunga ga usah mikirin hal kayak gitu. Itukan bukan masalah besar. Mending mikirin hal-hal lain kayak rencana honeymoon di Australia. Hehe.” kata Mas Bambang mencoba menenangkan Bunga.

Bunga menghela napas panjang. Ia berharap apa yang dikatakan Bambang benar. Mungkin kesibukan ini membuatnya lebih sensitif dan lebih cepat panik.

“Bunga, yuk kita mulai pengukuran buat gaun pengantinnya.” terdengar suara desainer yang menjulurkan kepala dari balik pintu. Bunga meletakkan tasnya dan mengikuti arah desainer berjalan.

Empat hari telah berlalu sejak rapat pertemuan persiapan pernikahan. Bunga menghabiskan waktu dengan berbelanja keperluan untuk persiapan ia pindah ke Australia nanti setelah pernikahan. Setelah berbelanja, ia menyempatkan diri untuk mengunjungi toko buku di mall tersebut. Ia merasa handphone-nya bergetar saat ia sedang melihat-lihat novel di rak. Nomor tak dikenal yang meneleponnya. Ia bimbang apakah akan mengangkat teleponnya atau mengacuhkan saja. Maraknya kasus penipuan membuatnya terkadang malas menerima nomor tak dikenal.

“Halo.” Bunga akhirnya memutuskan menjawab panggilan masuk itu.

“Halo, Bunga. Ini Maminya Bambang. Kamu lagi sibuk ga?” sahut suara di seberang sana.

Hati Bunga mencelos. Bagaimana bisa Mami meneleponnya dengan nomor Indonesia. Apakah ia sedang berada di Jakarta? Tapi mengapa Bambang tidak memberitahunya?

“Nggak kok Mami. Bunga lagi di toko buku. Ada apa ya Mami?” tanya Bunga penasaran.

“Mami mau ketemu kamu segera. Penting. Mami tunggu sekarang di restoran Djava ya. Kamu tau kan? Deket apartemenmu.” jawab Mami terburu-buru.

“Iya Mami. Bunga segera kesana.” sahut Bunga sambil berjalan keluar dari toko buku. Jantungnya berdegup kencang karena penasaran ada apa Mami tiba-tiba telepon dan mendesaknya untuk segera bertemu.

“Oke. Mami tunggu.” Panggilan telepon pun terputus.

Bunga bergegas keluar dari mall dan segera memanggil taksi. Jarak mall dan restoran sebenarnya cukup dekat tapi Bunga meminta supir untuk memacu kendaraan lebih cepat. Lima belas menit kemudian ia tiba di restoran yang di bilang Mami di telepon tadi. Bunga segera masuk dan mendapati Mami duduk di kursi ujung dekat taman, sedang menatap layar handphone. Bunga segera menghampirinya.

“Mami?” sapa Bunga saat tiba di hadapan Mami. Mami mengangkat wajah dari handphone-nya. Wajahnya tampak datar dan tanpa ekspresi. Ia terlihat lelah. Tak ada senyum seperti awal ia bertemu dulu. Bunga semakin khawatir ada hal buruk. Bunga mengulurkan tangan untuk bersalaman.

“Oh, Bunga. Ayo duduk.” sapa Mami sambil mengulurkan tangan menyambut tangan Bunga. Bunga mencium tangan Mami dengan khidmat. “Kamu mau pesan apa?” tanya Mami sambil menyodorkan menu restoran.

“Ehm, aku pesan minuman aja Mami.” kata Bunga cepat. “Mbak, pesan orange juice satu ya.” panggil Bunga pada pelayan yang kebetulan lewat dekat meja mereka. Pelayan perempuan itu segera mencatat pesanan Bunga dan bergegas meninggalkan Bunga dan Mami yang saling diam.

Suasana hening terasa begitu mencekam. Bunga yang diliputi rasa penasaran namun tidak berani bertanya lebih dulu kepada Mami. Dengan sabar, ia menunggu Mami berbicara.

“Bunga, maaf ya Mami mendadak minta kamu kemari. Mami juga baru semalam sampai di Jakarta.” kata Mami sambil menghela napas panjang. “Ini soal undangan pernikahan kamu dan Bambang. Kemarin lusa Bambang kirim desain undangannya ke email Mami. Mami kasih lihat ke Papi karena dia termasuk orang yang perfeksionis kalau soal undangan. Maklumlah, relasi Papi kan orang-orang penting. Nah, dia tanya kok nama orangtua kamu kosong, emang Bunga nggak punya orangtua? Mami jelasin kalo Bunga anak yatim piatu, dari bayi udah tinggal di panti asuhan.”

Penjelasan Mami terpotong saat pelayan datang membawakan orange juice pesanan Bunga. Bunga mengucapkan terima kasih kepada pelayan dan kembali menunggu kelanjutan cerita Mami yang sedang menyeruput kopinya. Selesai meletakkan kembali kopinya di atas tatakan, Mami melanjutkan ceritanya.

“Sampai mana tadi, panti asuhan ya. Nah terus Papi bilang ke Mami kalau undangan pernikahan itu ga boleh dikosongkan seperti itu. Bagaimana tanggapan orang lain nanti? Apalagi kerabat Papi dan Mami pasti bertanya, bagaimana bibit bebet dan bobot calon menantu kami? Masa kami mau menerima menantu yang nggak jelas asal usulnya. Sedangkan belum lama ini, duta besar Taiwan yang anak gadisnya belum menikah, berniat menjodohkan Bambang dengan anaknya. Bambang sudah pernah ditawarkan mau atau tidak menikah sama anak dubes Taiwan itu, tapi Bambang nggak mau karena udah sama kamu. Akhirnya dengan perasaan tak enak, Papi menolak permintaan dubes Taiwan itu dengan alasan Bambang sudah punya pasangan. Yah, walau akibat kejadian itu, sempat ada perdebatan dan hubungan Papi dan Bambang jadi agak renggang.”

Mami berhenti sebentar untuk menelan ludah. Bunga menatap nanar ke arah Mami. Bambang tidak pernah cerita masalah ini kepada dirinya. Ia selalu terlihat ceria dan tak pernah terlihat memiliki masalah jika bertemu dengan Bunga.

“Sebenarnya ya Bunga, Mami dan Papi nggak masalah kok Bambang sama kamu. Mami juga anak yatim sejak kecil, nggak punya ayah lagi. Tapi kamu tau sendiri kan gimana pandangan orang lain, terutama kepada pejabat. Pasti mereka akan menimbulkan desas desus yang nggak enak. Mami udah bicara ke Bambang tapi dia tetep kekeuh juga kalo Mami dan Papi nggak usah mikirin masalah itu karena hal itu bukan hal penting dan cuma adat istiadat yang nggak jelas. Di luar negeri aja nggak pake tulisan nama orang tua seperti itu. Tapi kan kita orang Indonesia, jadi gimana kata orang kalo kita nggak ngikutin adat istiadat di negara kita. Iya kan? Lagipula, Bambang kan anak semata wayang Mami dan Papi, jadi kami ingin yang terbaik buat Bambang.” jelas Mami panjang lebar.

Tubuh Bunga dijalari perasaan dingin yang membuat ia tak mampu bergerak. Seolah Dementor di film Harry Potter menyerap seluruh kebahagiaannya. Jangan-jangan Mami dan Papi mau menjodohkan Bambang dengan wanita lain. Akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka mulutnya.

“Mami, maaf ya. Aku sama sekali ga tau kalau masalahnya akan serumit ini. Mas Bambang ga pernah cerita sama aku.” ucap Bunga setelah berhasil menyerap lagi kesadarannya.

“Iya, Mami tau kamu nggak salah. Mami lihat Bambang itu sayang banget sama kamu, jadi mungkin dia ga mau cerita takut kamu terbebani. Mami dan Papi juga nggak mau ngerebut kebahagiaan Bambang dengan menikahkannya dengan perempuan yang dia nggak suka.” sahut Mami.

“Terus Bunga harus gimana ya Mami?” tanya Bunga sambil memainkan ujung sedotan orange juice. Ia merasa sangat bingung. Berbagai pikiran berkecamuk di otaknya.

“Kamu bener-bener nggak tau orangtua kamu siapa? Atau sekedar ga mau nulis nama mereka?” Mami balik bertanya.

“Aku bener-bener nggak tau. Kata ibu pemilik panti, Bunga diserahkan oleh polisi. Ibu pemilik panti asuhan ga pernah cerita lebih lengkap mengenai asal usul Bunga.” jawab Bunga sedih.

“Gini aja, kamu tulis aja siapa gitu kerabat kamu atau ibu panti atau siapapun yang kira-kira kamu anggap orangtua. Ga mungkin kan ga ada sama sekali. Dan kalau bisa dia juga datang di pernikahan kamu nanti.” tukas Mami tak sabar.

Bunga menangkap nada bicara Mami yang mulai tak enak. Ia segera menjawab seadanya. “Baik Mami, nanti Bunga tulis nama orangtua di undangan.”

“Oke. Nanti kamu bilang aja ke Bambang kalau kamu mau nulis nama orangtua kamu. Jangan bilang ke Bambang ya kalau kamu ketemu Mami. Kalau bisa undangannya harus udah jadi maksimal tiga minggu lagi karena harus disebar ke seluruh dunia.” tegas Mami diiringi anggukan Bunga. “Oh iya, maaf ya bukannya Mami mau keras ke kamu, tapi ini demi kebaikan kita semua. Supaya Papi dan Bambang juga akur lagi. Mami percaya kamu anak baik-baik walaupun kita sama-sama nggak tau orang tua kandung kamu seperti apa. Tolong jaga kepercayaan Mami ya.”

“Iya Mami, terima kasih ya udah mau percaya sama Bunga. Terima kasih juga buat Papi yang mau nerima Bunga. Bunga janji nggak akan ngecewain Mami, Papi dan Mas Bambang.” janji Bunga dengan bersungguh-sungguh.

“Oke kalau begitu, Mami pulang dulu. Mami tunggu kabar baiknya ya.” pamit Mami. Bunga kembali mencium tangan Mami layaknya ibu kandung sendiri. Kemudian Mami meninggalkan Bunga yang masih tertegun tak percaya dengan apa yang ia hadapi hari ini.

“Nama siapa yang harus kutulis?” gumam Bunga lirih.

 

~Bersambung

 

Baca kisah sebelumnya di butir 1, butir 2, butir 3

Share To
Leave a Comment