FiksiCerita BersambungFiksiFiksiCerita BersambungNama Siapa yang Harus Kutulis?

Nama Siapa yang Harus Kutulis? -Butir 5: Seeking-

15 August 2017

Perihal nama dalam undangan mungkin sepele bagi sebagian orang, tetapi tidak bagi Bunga. Ia tidak mau sembarangan menuliskan nama spesial yang akan menjadi “orangtua” nya pada pernikahan ini. Sejujurnya, ia tidak pernah sekalipun terpikir untuk mengetahui siapa orangtua kandungnya, tidak seperti kebanyakan anak-anak lain di panti asuhan dulu. Ia benar-benar tidak peduli siapa orangtuanya, karena mereka pasti orang jahat yang telah tega membuang dia. Atau mungkin orangtuanya sudah meninggal dan siapapun yang bertugas untuk mengurusnya tidak bersedia mengemban tanggung jawab itu, sehingga menyerahkan ia ke panti asuhan. Atau lebih parah lagi, mungkin ia anak hasil perzinahan yang dibuang karena merupakan aib dari orangtuanya. Kenyataan itulah yang tak berani Bunga terima ketika ia mengetahui siapa orangtuanya.

Ia mempertimbangkan apakah sebaiknya ia bertanya pada Bunda Lia, pengurus panti asuhan yang dulu merawatnya saat masih kecil. Tidak, Bunda Lia juga tidak sayang padanya. Ia hanya berpura-pura baik kepadanya saat ada tamu calon-calon orangtua yang mencari anak untuk diadopsi. Jika tidak, ia tak segan-segan untuk memarahi bahkan memukulnya jika ia melakukan kesalahan sekecil apapun. Ia tak pernah membiarkan dirinya muncul saat ada orangtua yang akan mengadopsi. Pasti ia selalu diberi tugas mengerjakan pekerjaan dapur atau membersihkan kamar mandi. Ia berpikir dalam hati sebenarnya apa kesalahannya? Apa karena tidak seperti anak-anak lain ia tidak bisa mengambil hati Bunda Lia?

Orang tua angkat yang mengadopsinya ketika ia kelas dua SMP juga sama buruknya. Ayah pemabuk dan Ibu depresi yang nyaris membuatnya gila. Entah bagaimana Bunda Lia  menyerahkan dirinya untuk diadopsi orangtua seperti itu. Dulu memang tidak ada tanda-tanda kalau keluarga ini bakal hancur seperti ini. Kalau saja ia tidak kabur dari rumah saat kelas satu SMA, mungkin saja ia akan melahirkan seorang anak yang bernasib seperti dirinya. Percobaan pemerkosaan yang dilakukan ayah angkat dan adiknya yang juga tinggal serumah dengannya membuatnya muak. Untung saja ia selalu berhasil meloloskan diri dengan berbagai macam cara. Mulai dari mengunci diri dalam gudang, naik ke langit-langit rumah, bersembunyi di semak-semak kebun belakang rumah, bahkan lompat dari lantai dua ke kolam ikan di belakang rumah. Akhirnya ia memutuskan kabur dan hidup sendiri bermodalkan uang bantuan dari pemerintah untuk masyarakat tidak mampu seperti dia dan beasiswa.

Lalu siapa lagi yang bisa ia jadikan orangtua untuk pernikahan ini? Tak ada lagi yang dekat dengannya. Guru? Atasan di tempat kerja? Tak ada yang baik dan dekat dengannya. Siapa lagi?

Bunga mengutuk orangtuanya yang membuang dirinya ke kantor polisi. Mengapa mereka melakukan itu? Apa salahnya? Jika memang ia anak haram, mengapa mereka tak membunuh saja dirinya? Daripada mereka mempersulit hidupnya seperti ini. Bahkan disaat-saat terakhir ia menghadapi kesepian untuk menyongsong kebahagiaan, tetap saja mereka membuatnya tersiksa seperti ini. Seandainya pun ia mengetahui siapa orang tua kandungnya, ia tak akan rela membiarkan mereka mengisi nama di undangan dan buku nikahnya nanti sebagai wali dari dirinya.

Bunga tidak akan ikhlas jika yang menjadi walinya di undangan dan buku nikahnya adalah orangtua kandungnya jika ia memang menemukan mereka. Tapi mau bagaimana lagi? Ia harus tetap mencari tahu. Mungkin polisi tahu, karena Bunda Lia mengatakan polisi yang mengantarnya ke panti asuhan. Berarti ia harus ke kantor polisi. Tapi kantor polisi yang mana? Hanya Bunda Lia yang tahu kepolisian dari kantor mana yang menyelamatkan dirinya.

Bunga memutuskan untuk kembali ke panti asuhan tempat ia dirawat dulu. Ia ingin mendengar kisah lengkap dirinya Bunda Lia. Setelah dua puluh empat tahun ia hidup di dunia ini, baru kali ini ia merasa ingin mengetahui kisahnya. Ia ingin mengetahui siapa orangtuanya kandungnya? Ia harus tahu.

Satu jam kemudian, Bunga mendapati dirinya sudah berada di gerbang panti asuhan tempat ia dibesarkan dulu. Tulisan “Bunda Piara” dari kayu di papan depan pagar tampak sudah rapuh dimakan usia. Bangunan gedung panti asuhan juga sama tuanya, namun masih cukup bersih dan terawat. Tampak anak-anak sedang bermain di halaman depan panti asuhan, tertawa riang bercanda satu sama lain. Di pojok halaman masih terdapat bangku yang sama saat dulu ia berada disana, duduk sendiri mengamati teman-teman seusianya yang sedang berlarian kian kemari. Tak ada yang mengajaknya main, entah mengapa. Deretan bunga bougenvile berwarna warni masih tumbuh rimbun di belakang kursi yang membuat Bunga betah berlama-lama duduk disana.

Bunga masuk ke pintu depan panti dan tampaklah seorang wanita duduk disana. Ia menanyakan keperluan Bunga datang ke panti asuhan. Bunga tak mengenal wanita ini, mungkin pegawai baru, pikir Bunga. Ia menjelaskan kalau ia ingin bertemu dengan Bunda Lia.

“Bunda Lia sekarang sudah tidak mengurus panti asuhan lagi, Mbak. Sekarang sudah digantikan dengan Bunda Ariana.” jelas wanita muda itu.

“Saya dulu pernah tinggal disini, Mbak. Dan saya ada keperluan sama Bunda Lia. Bunda Lia sekarang tinggal dimana ya, Mbak?” tanya Bunga. Ia berharap semoga Bunda Lia tinggal tidak jauh dari sana.

“Bunda Lia tinggal di rumah di belakang panti ini, Mbak. Masih dalam lingkungan panti sih, kalau Mbak mau boleh saya antar.” kata wanita itu ramah.

“Wah boleh Mbak. Terima kasih ya Mbak.” jawab Bunga. Mereka pun berjalan beriringan menuju rumah Bunda Lia. Di perjalanan, mereka berkenalan. Bunga mengetahui kalau wanita itu bernama Mira, sudah dua tahun bekerja di panti. Ia bercerita tentang kondisi panti saat ini, juga tentang kondisi Bunda Lia yang sudah tidak aktif di panti sejak lima tahun yang lalu. Bunda Lia mengidap penyakit hipertensi dan jantung, sehingga sudah tidak boleh terlalu lelah saat bekerja. Dalam hati Bunga berkata mungkin itu efek dulu sering marah-marah saat muda.

Mereka tiba di sebuah rumah yang sudah terlihat usang, namun begitu akrab di ingatan Bunga. Dulu ia sering sekali mendapat tugas membersihkan rumah ini, menyapu, mengepel, membersihkan kaca, sampai langit-langit rumah. Jika Bunda Lia melihat ada satu sudut yang kurang bersih, Bunda Lia pasti langsung menjewer dan memarahinya.

Seorang wanita tua membukakan pintu beberapa saat setelah Mira mengetuknya. Tampak sesosok wanita yang sangat dikenal Bunga dari masa lalunya, dengan penampilan yang begitu berbeda. Rambut putih sudah menutupi sebagian besar rambutnya. Matanya menggunakan kacamata yang dibaliknya tampak kabut putih menutupi korneanya. Kulitnya keriput dengan daster panjang menutupi tubuhnya yang bungkuk.

“Siapa ya?” tanyanya dengan suara khas Bunda Lia.

“Ini Mira, Bunda. Mira datang sama Mbak Bunga. Katanya dulu Mbak Bunga pernah jadi anak asuh disini.” terang Mira sambil menggandeng lengan Bunga untuk maju mendekati Bunda Lia.

“Bunga?” tampak Bunda Lia berpikir. Mungkin ada selusin nama Bunga yang pernah tinggal di panti itu. “Bunga Kusuma?” tanyanya lagi.

“Iya Bunda. Ini Bunga Kusuma.” jawab Bunga dengan suara parau.

Spontan Bunda Lia maju dan memeluk Bunga dengan erat. Bunga merasakan bahu Bunda Lia di pelukannya berguncang karena isak tangis. Bunda Lia yang dulu diingat Bunga sangat tinggi, kini kepalanya hanya setinggi dadanya.

“Maafin Bunda ya Bunga. Maafin Bunda. Bunda pikir kamu sudah mati. Maafin Bunda dulu jahat sama kamu. Maafin Bunda dulu nyerahin kamu sama penjahat itu. Maafin Bunda.” tangis Bunda Lia terdengar sangat pilu membuat Bunga tak kuasa menahan haru. “Sekarang Bunda harus merasakan hukuman karena kejahatan Bunda dulu. Bunda sakit. Bunda nggak kuat.”

Bunga merasakan kebencian yang dulu pernah menghinggapi hatinya kini sirna mendengar penyesalan Bunda Lia. Dengan sabar, ia menepuk pundak Bunda Lia untuk menenangkannya. “Iya Bunda. Bunga udah maafin Bunda kok. Bunda jangan sedih lagi ya.” ucap Bunga dengan suara lembut. Ia dan Mira menuntun Bunda Lia duduk di kursi tamu terdekat.

Mira mohon ijin untuk pergi ke dapur membuatkan minuman. Tinggallah Bunga dengan Bunda Lia yang masih sesenggukan. Bunga duduk di sampingnya sambil mengusap tangannya dengan lembut. Bunda Lia masih terus mengulang kalimat-kalimat penyesalannya sambil menangis tersedu-sedu. Bunga terus menenangkannya dan berkata bahwa ia sudah memaafkannya. Setelah isak tangis Bunda Lia mereda, Bunga baru mengungkapkan maksud kedatangannya.

“Bunda, kalo Bunda ga keberatan, Bunga minta tolong untuk ceritain asal muasal Bunga sebelum sampai di panti ini. Siapa yang nemuin Bunga? Gimana caranya Bunga bisa ada disini?” tanya Bunga hati-hati.

Bunda Lia menyeka air mata dengan sapu tangan putih yang ada di saku dasternya. “Bunga jangan marah ya sama Bunda kalau Bunda cerita.” pinta Bunda.

“Nggak ko Bunda, Bunga ga akan marah.” janji Bunga.

Bunda Lia menyandarkan tubuhnya di kursi tamu. Matanya yang masih berkaca-kaca menerawang ke depannya, seolah di hadapannya terdapat layar yang memutar sebuah film masa lalu. Setelah beberapa menit termenung, ia mulai bercerita.

“Jadi dulu Bunga dianter kesini sama polisi dari polsek setelah dirawat selama dua hari di rumah sakit. Dulu Bunga sempat kuning, bilirubinnya tinggi. Bunda tanya sama polisi, ini bayi darimana. Katanya Bunga ditemuin di depan toko bunga. Namanya toko Bunga Kusuma. Karena bayi ini belum diberi nama, yaudah Bunda kasih nama sesuai nama toko bunga tempat kamu ditemuin.” cerita Bunda dengan tatapan menerawang. Bunga tersenyum saat akhirnya ia mengetahui asal mula namanya.

“Dulu kata polisi yang nganterin Bunga, pemilik toko bunga itu, yang menemukan  mau mengadopsi Bunga, tapi terkendala administrasi dan keuangan. Mereka lagi kesulitan keuangan saat itu. Jadi pihak polisi lebih memilih untuk menitipkan Bunga disini.” lanjut Bunda ia menatap vas bunga di pojok ruangan seolah meminta vas bunga itu untuk mengingatkan ia kelanjutan ceritanya.

“Bunda sempat kesal sama suami istri pemilik toko bunga itu karena mereka tetap datang terus kesini, memohon untuk bisa mengadopsi Bunga. Mereka bilang mereka nggak bisa-bisa punya anak. Tapi ketika Bunda meminta mereka untuk mengurus deposit dan surat-surat tapi mereka tidak punya uang. Tokonya habis kemalingan alasannya. Bunda kesal karena mereka bolak balik kesini tapi tidak bawa apa-apa. Mereka suka sekali melihat Bunga, sampai harus diusir karena nggak mau pulang. Akhirnya setelah Bunda marah-marahin dan kami bertengkar hebat baru mereka mau pulang. Keesokan harinya, mereka datang lagi dan Bunda tetap tidak ijinkan mereka untuk adopsi Bunga. Mereka berjanji akan mencari uang secepat mungkin untuk membawa Bunga dari sini. Padahal mungkin, mereka orangtua yang baik buat Bunga.” cerita Bunda Lia panjang lebar. Bunga terdiam. Ia begitu sulit mempercayai perkataan Bunda Lia. Tak terasa air mata menggenangi pelupuk matanya dan seketika jatuh ke pipinya.

“Maka dari itu, karena Bunda kesal sama mereka, Bunda juga jadi ikut kesal sama Bunga. Bunda berpikir Bunga membawa sial karena membuat Bunda sampai harus bertengkar seperti itu. Belum lagi begitu banyak masalah yang datang setelah Bunga tiba. Bunda minta maaf Bunga. Bunda juga serahin Bunga ke saudara jauh Bunda yang Bunda sudah tahu dia mengalami gangguan kejiwaan. Dulu, Bunda tidak suka sama Bunga. Tapi setelah Bunga pergi, masalah tetap saja timbul di sini. Saat Bunda tahu Bunga kabur dari rumah orangtua angkat Bunga, Bunda menyesal sekali. Bunda takut kalau Bunga meninggal di luar sana, Bunga akan menghantui Bunda.” Bunda kembali terisak. Tangisannya tak dapat dibendung lagi. Begitu pun Bunga yang sudah bercucuran airmata. “Bunga jangan marah ya sama Bunda.” pinta Bunda tersedu-sedu.

Bunga terdiam, mencoba menguasai dirinya yang diliputi kemarahan. Bisa saja ia kini sudah bahagia dengan pemilik toko bunga itu. Tapi Bunda Lia memupuskan harapannya.

Bunga tersadar dari lamunannya saat merasakan tangan Mira menyentuh pundaknya. Ia pun akhirnya mencoba bersabar. Yah siapa yang tahu bagaimana tabiat pemilik toko bunga itu. Bisa saja ia lebih kejam dari Bunda Lia. Lagipula dirinya sudah terbiasa untuk tidak langsung menilai seseorang berdasarkan omongan orang lain.

“Bunda, alamat toko Bunga Kusuma dimana ya?” akhirnya Bunga membuka suara setelah lama terdiam.

Bunda Lia tampak memandang ke langit-langit rumah yang tampak kusam. Sepertinya ia sedang mengingat memori yang sudah ia pendam selama dua puluh lima tahun. Sesaat kemudian dia mulai berujar dengan suara samar.

“Kalau Bunda tidak salah, tokonya di Jalan Sulawesi. Tidak begitu jauh dari sini.” jawab Bunda tidak yakin.

Bunga merasa dirinya semakin dekat dengan kebenaran yang selama ini disembunyikan dari dirinya. Ia bertekad untuk menemui pemilik toko Bunga Kusuma. Mungkin mereka mengetahui siapa orangtua Bunga.

“Terima kasih ya Bunda. Bunda sudah menceritakan semuanya ke Bunga. Bunga juga sudah maafin Bunda dan Bunga harap Bunda mau maafin kesalahan Bunga. Jangan benci lagi sama Bunga ya.” bisik Bunga lembut di telinga Bunda Lia.

“Terima kasih juga ya Nak. Bunda tak menyangka, anak asuh yang selama ini Bunda sia-siakan ternyata berhati baik seperti malaikat.” jawab Bunda memuji Bunga. Bunga kembali tersenyum.

“Bunda, Bunga pamit dulu ya. Bunga mau ketemu sama pemilik toko bunga yang Bunda ceritain tadi. Udah saatnya Bunga tahu darimana asal usul Bunga.” pamit Bunga. “Sampai ketemu lagi ya, Bunda.”

Bunga bersimpuh dan mencium tangan Bunda Lia dengan khidmat. Ia merasa beban kebencian yang mengakar di hatinya, telah tumbang oleh hujan maaf yang berlimpah. Hatinya terasa lapang.

Mira mengantar Bunga ke depan pintu gerbang panti asuhan. Ia menjadi saksi dari pengungkapan kebenaran dirinya. Bunga berterima kasih kepada Mira yang telah menemaninya menemui Bunda.

Langit senja mulai menampakkan semburat jingga yang indah. Matahari mulai turun menuju tempat peraduannya. Di sisi lain cakrawala, kegelapan mulai menyelimuti langit, menjadikannya panggung bagi cahaya gemerlap bintang kecil. Bulan tampak mengintip malu di balik awan. Bersanding dengan bintang kejora yang bersinar terang.

Entah mengapa, baru hari ini Bunga merasakan kedamaian dari pemandangan yang disuguhkan alam. Sebelumnya, ia bahkan tak pernah menyadari keindahan ini. Ah mungkin karena hari ini ia telah menemukan apa yang sebenarnya ia cari selama ini. Atau mungkin karena ia terlalu antusias untuk menguak rahasia lain yang lebih besar. 

Bunga menemukan sebuah taksi yang terparkir di sebuah warung kopi dekat panti asuhan. Bunga menghampiri sopir taksi dan meminta diantarkan ke Jalan Sulawesi. Sopir taksi setuju dan dalam beberapa menit ia sudah meluncur ke tempat tujuan.

Langit sudah gelap saat Bunga tiba di Jalan Sulawesi. Ia meminta diturunkan diujung jalan, supaya bisa berjalan kaki ke toko Bunga Kusuma. Lampu-lampu jalan sudah menyala. Hiruk pikuk pejalan kaki berlalu lalang di sepanjang trotoar jalan, melintasi ruko-ruko yang sebagian besar sudah tutup. Hanya beberapa ruko penjual makanan yang masih tetap buka dan masih dipenuhi pengunjung.

Bunga berjalan sambil menoleh ke kanan dan kiri, mencari dimana gerangan toko bunga itu. Ia membayangkan berbagai macam bunga warna warni merekah di sana. Mungkin saat ini toko sedang dipenuhi muda mudi yang ingin memberi bunga untuk pasangan, atau orang yang akan menjenguk kerabatnya yang sakit. Bunga memang selalu dapat memberikan suasana nyaman bagi orang yang memandangnya, juga yang menghirup aromanya.

Langkah Bunga terhenti di depan sebuah ruko tua yang sudah tak terurus. Pemandangan toko ini sangat kontras dibanding ruko dikiri dan kanannya yang bersih dan terawat. Di bagian atas ruko terpasang paduan huruf yang membentuk nama toko bunga “Kusuma”. Bunga tertegun saat memandang sekeliling, bekas-bekas pot bunga yang berserakan, tanaman perdu yang tumbuh liar, dan rumput-rumput yang tumbuh tak beraturan. Tak ada satu helai pun kelopak bunga yang mekar menciptakan sedikit saja keindahan dari ketidakteraturan ini. Pemandangan lebih menyedihkan terlihat di dalam ruko saat Bunga mengintip melalui kaca tembus pandang. Bahkan melalui kegelapan ruangan, Bunga dapat melihat ruangan yang kotor penuh dengan debu dan sarang laba-laba. Pecahan kaca, bekas pot, tangga, dan berbagai peralatan berkebun tumpah ruah membuat suasana semakin suram.

Bunga terkejut saat merasakan seseorang menyentuh bahunya. Spontan ia menoleh dan mendapati seorang wanita tua berdiri di belakangnya. Bunga membalikkan badan dan merasa seperti seorang maling yang tertangkap basah saat akan mencuri.

“Maaf, Nek. Saya mencari orang yang dulu punya toko bunga ini.” tukas Bunga segera, sebelum ia dituduh yang macam-macam. Terlihat nenek itu mengambil sesuatu dari kantung bajunya. Ternyata sebuah alat seperti headset, tetapi sepertinya itu adalah alat bantu dengar. Bunga mengulangi perkataannya agar si Nenek mendengar.

“Cari Pak Wira?” tanya nenek itu setengah berteriak. Bunga bahkan tidak tahu nama pemilik toko bunga ini. Bunda Lia juga tidak tahu.

“Iya, Nek. Nenek kenal sama pemilik toko bunga ini?” tanya Bunga mengeraskan suaranya. Ia mencoba menerka apakah memang nama pemilik toko ini Wira atau bukan. Tak ada salahnya mencoba.

“Pak Wira sudah di panti, tidak disini. Panti jompo.” jawab nenek itu mengeraskan suaranya.

“Panti jompo dimana ya Nek?” tanya Bunga tak sabar.

“Apa ya. Nenek lupa.” jawabnya. “Sebentar nenek ingat-ingat.” lanjutnya. Bunga menunggu dengan sabar. “Aduh maaf ya Nenek lupa. Pokoknya di panti jompo. Nenek harus pulang sebelum cucu Nenek pulang kalau nggak nanti dia bisa marah-marah. Pokoknya cari aja di panti jompo!” seru Nenek itu sambil pergi meninggalkan Bunga.

Bunga tak kehilangan akal. Ia menanyakan tentang Pak Wira, pemilik toko bunga pada pemilik ruko di sebelah kanan dan kirinya. Juga pada pemilik ruko di sepanjang jalan itu. Hasilnya nihil. Tak ada satupun yang mengetahui tentang Pak Wira, karena rata-rata pemilik ruko di sekitar sini adalah orang baru. Yang mereka tahu hanyalah kalau toko bunga itu memiliki rumor angker dan berhantu.

Bunga memutuskan pencarian hari ini cukup sampai disini karena hari sudah sangat larut malam. Ia pun pulang dengan tekad akan melanjutkan pencarian Pak Wira, sepenggal nama yang ia temukan hari ini. Ia baru tersadar kalau ia belum makan sejak siang dan perutnya sudah bergemuruh tanda lapar. Setelah membeli makanan untuk makan malam, Bunga bergegas pulang ke apartemennya. Ia bertekad akan segera menemukan jawaban atas teka-teki yang mulai menghantui pikirannya ini.

 

~Bersambung

 

Baca kisah sebelumnya di butir 1, butir 2, butir 3, butir 4

Sumber gambar : di sini

 

Share To
Leave a Comment