FiksiCerita BersambungFiksiFiksiCerita BersambungNama Siapa yang Harus Kutulis?

Nama Siapa yang Harus Kutulis? -Butir Terakhir: The Name Should I Write-

22 August 2017

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bunga sudah berangkat menuju alamat yang sudah ia catat. Semalam ia sudah mencari di internet nama-nama panti jompo (werdha)  yang ada di Jakarta dan sudah mencatat sekitar sepuluh nama panti yang ia temukan. Bunga akan menelusuri satu persatu dan berharap keajaiban semoga ia segera menemukan Pak Wira, pemilik toko Bunga Kusuma.

Menjelang siang, Bunga sudah menyambangi tiga panti werdha dan semua tidak membuahkan hasil. Ia beristirahat sejenak di sebuah restoran saat perjalanan menuju panti werdha ke empat. Panasnya cuaca Jakarta membuat ia sangat lelah. Tapi, cuaca ini tidak memadamkan tekad Bunga untuk menemukan Pak Wira.

Bunga begitu lega saat pencariannya berbuah hasil di panti werdha ke empat. Menurut petugas, terdapat seorang lansia yang biasa dipanggil Wira. Ia pernah bercerita kepada petugas bahwa ia pernah memiliki toko bunga. Inilah yang sejak tadi Bunga cari-cari. Petugas yang baik itu mengantarkan Bunga ke dalam taman yang terdapat di bagian dalam panti. Ia menunjuk seorang lansia pria yang sedang duduk di kursi roda memandangi bunga anggrek yang sedang mekar di taman. Bunga mengucapkan terima kasih kepada petugas yang kemudian berpamitan dengannya karena harus mengerjakan tugas lain.

Bunga mengamati pria itu dari jauh. Pak Wira mengenakan kemeja lengan panjang dan sarung, duduk di atas kursi roda seorang diri. Ia tampak begitu serius menatap bunga anggrek itu. Sesaat kemudian ia tersenyum sendiri. Bunga memberanikan diri untuk mendekatinya.

“Selamat siang, Pak Wira?” tanya Bunga sopan setelah ia mendekati Pak Wira. Pak Wira tampak terkejut dan buru-buru mengenakan kacamata yang ia sangkutkan di kantung bajunya.

“Ya. Siapa ya?” tanya Pak Wira sambil menyipitkan mata. Tampak setetes airmata di pelupuk kerut matanya.

“Saya Bunga, Pak. Dari Panti Asuhan Bunda Piara.” jawab Bunga, tak berharap Pak Wira akan langsung mengingatnya. “Mungkin Bapak tidak ingat, menurut info pengurus panti asuhan, Bapak yang menemukan saya waktu masih bayi, di depan toko bunga ‘Kusuma’.” urai Bunga mencoba membangkitkan kembali memori Pak Wira.

“Bunga? Bayi kecil itu ya? Yang diambil polisi?” tanya Pak Wira menegaskan.

“Iya, Pak. Sekarang saya sudah besar.” jawab Bunga sambil tersenyum.

“Owalah. Sudah besar sekali kamu, Nak.” ujar Pak Wira antusias. “Sini, sini duduk ambil kursi. Waduh Bapak malu berantakan gini. Ibu pasti seneng banget kalau ngeliat kamu.” Pak Wira mengibaskan remah-remah biskuit yang berserakan di kemejanya.

“Iya Pak, santai aja. Saya disini mau ngobrol santai aja sama Bapak.” sahut Bunga sambil menarik kursi. “Ibu dimana Pak?” tanya Bunga sambil menoleh ke kiri dan kanan mencari istri Pak Wira.

Seketika raut wajah ramah Pak Wira hilang berganti raut kesedihan yang mendalam. Ia membuka kacamatanya dan mengusap matanya. Pandangannya kembali tertuju pada bunga anggrek di sampingnya.

“Ibu sudah meninggal.” bisik Pak Wira lirih. “Orang-orang jahat itu, biadab!” suaranya penuh dengan amarah yang terpendam di lubuk hatinya.

Bunga merasa bersalah. Ia sepertinya sudah mengingatkan Pak Wira akan kenangan menyedihkan. Ia buru-buru minta maaf.

“Maaf ya Pak, bukannya Bunga bermaksud mengingatkan Bapak tentang Ibu.” ujar Bunga penuh penyesalan.

“Ndak apa-apa. Ndak apa-apa. Sebaiknya memang kamu tahu. Ibu sayang sekali sama kamu. Dia yang menemukan kamu. Ibu ingin kamu jadi anaknya, tapi dihalangi polisi sama ibu gendut pemilik panti asuhan.”  ujar Pak Wira masih terus menatap bunga anggrek yang bergoyang di tiup angin.

“Kalau Bapak tidak keberatan, saya boleh minta tolong Bapak ceritakan tentang saya sewaktu ditemukan, mungkin Bapak tau siapa orangtua saya?” pinta Bunga memelas.

“Hmm.. Ndak ada yang tahu siapa orangtuamu. Kamu ditemukan Ibu di atas pot besar yang dikelilingi bunga anggrek sekitar jam empat pagi. Ibu yang biasanya sudah bangun sepagi itu, mendengar suara bayi menangis di depan rumah. Seperti di film-film, ia melihat seorang bayi dibalut kain tipis meronta-ronta. Ibu mencari-cari di sekitar tapi suasana sepi ndak ada orang. Jaman dulu belum ada CCTV, jadi ndak bisa lihat siapa yang menaruhmu. Ibu langsung menggendongmu, membawa kamu masuk dan ke kamar untuk bangunin Bapak.” Pak Wira membuka cerita. Bunga mendengarkan dengan seksama.

“Ibu kemudian menaruhmu di atas kasur. Kami seolah mendapat keajaiban di pagi hari ini. Seorang bayi mungil dan cantik, ada di atas kasur kami. Kasur yang tak pernah ditiduri seorang bayi pun, yang diharapkan bisa mengompol di atasnya. Benar saja ndak lama kemudian, kamu langsung mengompol. Ibu langsung sibuk cari kain untuk membedongmu, tanpa celana dan baju. Hahahaha. Uhuk uhuk.” Pak Wira tertawa sampai terbatuk. Ia tampak menikmati proses bercerita masa lalunya itu. Kenangan yang dimiliki bersama ibu, yang sedang ia jalani kembali melalui proses bercerita. Bunga ikut tertawa mendengar cerita Pak Wira.

“Pagi harinya, Ibu langsung sibuk, nyuruh-nyuruh Bapak beli perlengkapan bayi, ya botol susu, ya susunya, ya baju bayi, ya macam-macam. Karena ndak pengalaman, yang Bapak beli banyak yang salah. Luangsung, Ibu ngomel-ngomel ndak berhenti. Akhirnya dia jalan sendiri ke pasar.” ujar Pak Wira terkekeh. “Sampai siang harinya, tetangga sebelah ruko pada ribut dengar suara bayi di toko bunga. Akhirnya mereka pada datang, nanya ini itu, darimana bayi ini, wuah, macem-macem lah nanyanya. Ibu orangnya jujur, dia jelasin kalau nemu bayi begini begitu. Lah, sama Pak RT langsung dilaporin ke polisi.”

“Ndak lama polisi dateng, mereka membawa Bapak dan Ibu ke kantor polisi. Diperiksa, ditanya ini itu. Sudah dijelasin, mereka malah bilang bayinya harus diserahin ke panti asuhan. Kalau mau adopsi harus urus surat-surat dan ada biayanya. Bapak dan Ibu ndak punya uang waktu itu, uangnya habis dicuri sama maling. Yang ada cuma bunga-bunga. Mana bisa adopsi pakai bunga? Kata Pak Polisi.” Pak Wira berhenti sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. Ia menyeruput kopi yang terdapat dalam mug besar di sebelahnya.

“Habis itu, Bapak cari tahu kamu ada dimana. Ternyata di panti asuhan dekat dari toko. Langsung Bapak dan Ibu kesana, mohon-mohon supaya bisa dibantu adopsi kamu. Tapi malah dihalang-halangi sama ibu gendut itu. Dia malah marah-marah dan ngusir kami. Sampai dia telepon polisi lagi, bilang kalau kami mau culik kamu. Ndak benar itu. Kami cuma minta baik-baik kok.” Pak Wira merapatkan sandarannya pada kursi roda. “Karena sudah dibilang seperti itu, Bapak dan Ibu pulang dengan tangan hampa. Ibu ndak berhenti menangis. Sehabis itu Ibu selalu terlihat murung dan sedih. Bapak ndak tega tho, Bapak janji sama Ibu, bakal kerja keras biar bisa ngadopsi kamu, ndak papa walau kamu sudah besar, yang penting bisa bareng-bareng sama kamu.”

“Tujuh tahun Bapak ngumpulin uang, tujuh tahun itu pula Ibu sering mengunjungi di panti. Kamu pasti ndak tahu karena ibu nyamar. Hahaha. Akhirnya tujuh tahun terkumpul juga lumayan besar. Dua hari itu, Bapak pergi ke rumah saudara di Purwokerto, minta dia bayar utang, untuk nambahin biaya hidup kalau kamu sudah berhasil kami adopsi.” Tiba-tiba ekspresi Pak Wira murung kembali.

“Pas Bapak balik ke Jakarta, semua sudah terlambat. Semua kacau. Kerusuhan dimana-mana. Bahkan di toko bunga milik bapak. Bapak lari dari ujung jalan sampai ke toko. Hancur lebur tak bersisa. Bapak teriak manggil Ibu, ndak ada jawaban. Bapak naik ke lantai dua. Oh Gusti.” Pak Wira menangis terisak-isak. Hati Bunga tersayat mendengar tangisan Pak Wira. Ia melampiaskan tangisannya sekuat-kuatnya. Tubuhnya bergetar, menahan kuatnya amarah dan kesedihan.

“Ibu. Ibu ada di atas kasur. Darah. Darah dimana-mana. Ibu sudah tidak pakai apa-apa. Cuma diselimuti kain. Tubuhnya penuh luka. Bapak dekati Ibu yang sudah ndak bernyawa. Rasanya Bapak mau bunuh diri saat itu juga.” Pak Wira kembali terisak. Bunga pun menangis tersedu-sedu. “Bapak peluk Ibu seharian. Ndak mau Bapak pisah sama Ibu. Sampai ada tetangga yang kembali ke ruko sebelah. Denger Bapak nangis, dia dateng, nenangin Bapak. Kalau ndak ada dia, mungkin Bapak udah ikut pergi ke dunia lain sama Ibu.”

Tangisan Pak Wira terdengar teramat pilu. Bunga turun dari kursinya dan bersimpuh di kaki Pak Wira. Pak Wira kembali melanjutkan ceritanya sambil mengusap rambut Bunga. Bunga benar-benar tak mampu berkata-kata. Ia hanyut dalam kesedihan cerita Pak Wira, seolah dia merasakan sendiri. Hatinya seperti teriris-iris.

Setelah beberapa menit mereka saling terdiam, terjebak dalam bayangan masing-masing, Bunga memberanikan diri berkata-kata.

“Pak, Bunga sedih banget denger cerita Bapak. Bahkan dari cerita Bapak, Bunga sudah merasakan kalau Ibu sama Bapak adalah orangtua Bunga. Bunga ga butuh lagi cari tahu tentang orangtua kandung Bunga. Bunga hanya mau Bapak sama Ibu yang jadi orangtua Bunga.” isak Bunga dengan suara serak.

“Ibu pasti seneng banget, Nduk. Anak yang diinginkannya sekarang udah ada disini. Walau Ibu udah ga ada, Bapak yakin dia pasti seneng banget. Bapak juga seneng Bunga mau mengakui kalau kami orangtua Bunga.” ujar Pak Wira dengan bangga.

“Terima kasih ya, Pak. Terima kasih udah menceritakan kebenaran yang Bunga cari. Bapak mau ikut Bunga pulang ke apartemen Bunga? Kita bisa tinggal bareng nanti.” pinta Bunga.

“Ndak, Nduk. Bapak sudah kerasan tinggal disini. Banyak teman seusia Bapak. Petugasnya juga ramah-ramah.” tolak Pak Wira dengan halus.

“Yaudah kalau gitu, nanti Bunga sering kunjungin Bapak ya. Oh iya satu lagi, Bapak harus datang pas nikahan Bunga nanti. Sebentar lagi.” Bunga bangkit dari lantai dan kembali duduk di kursinya.

“Owalah. Kamu wis mau nikah tho. Selamat ya, Nduk. Semoga kamu bahagia. Bapak selalu berdoa buat kebahagiaan kamu. Iya, Bapak pasti datang ke nikahan kamu Nduk.” ujar Pak Wira dengan sumringah. Ia melirik bunga anggrek di sebelahnya dan berbisik pelan.

Mereka berbincang-bincang sampai sore. Menceritakan tentang diri masing-masing. Memperkenalkan diri laksana seorang ayah yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu putrinya. Menjajaki status masing-masing yang sudah berganti, yang satu sebagai ayah, dan yang satunya lagi sebagai anak. Mereka memuaskan dahaga kerinduan akan sosok yang selama ini hanya terbayang dalam angan-angan.

Bunga pulang ke apartemen dengan perasaan lega dan haru. Ia sudah menemukan nama yang dengan bangga akan ia tulis di undangan pernikahannya nanti. Ia segera menghubungi Bambang dan Mas Tio yang bertanggung jawab mengurusi undangan. Ia segera melengkapi bagian yang hilang dari sebuah undangan, yang membawanya proses pengungkapan kebenaran.

 

 

Undangan Pernikahan

Mempelai pria

Bambang Handoko Wijoyo, ST, MT.

Putra pertama Bapak Prof. Dr. Suryo Dwiputro Wijoyo dan Ibu Dr. Kartini Winarjo, MSc

 

dengan

 

Mempelai wanita

Bunga Kusuma S.Hum.

Putri pertama Bapak Prawira Kertojoyo dan Ibu Kusuma Harumsari

 

Hari pernikahan telah tiba. Bunga tampak sangat anggun mengenakan gaun berwarna merah muda, berdiri di atas singgasana bak ratu dari negeri dongeng. Di sisinya, Bambang tampak gagah dengan setelan khas pangeran dari Inggris. Di sisi kanan Bunga, terlihat wajah sumringah Mami dan Papi menyambut tamu yang memberi ucapan selamat. Tampak di sisi kiri Bambang, Pak Wira yang duduk di kursi roda dan Bunda Lia yang juga tampak bahagia. Kini, semua impian Bunga sudah tercapai. Ia teramat sangat bahagia karena telah memiliki keluarga lengkap, seutuhnya.

 

~Tamat

 

Baca kisah sebelumnya di butir 1, butir 2, butir 3, butir 4, butir 5

Sumber gambar : di sini

Share To
Leave a Comment