My Lifetime StoriesStory of My Life

Martabak Cokelat Keju, Sekelumit Cerita Tentang Pernikahan

12 September 2017

Siapa yang nggak baper melihat berita di hampir semua media memperbincangkan pernikahan Raisa dan Hamish? Saking bapernya sampai beritanya diulang-ulang terus bikin jomblo jadi pengen cepet nikah. Yang sudah nikah pun baper melihat romantisme pasangan cantik dan ganteng di Indonesia ini.

Tulisan ini bukan tentang ke-baper-an diriku melihat pernikahan yang secara kasat mata “almost perfect” itu kok. Tapi berkat pernikahan artis itu aku jadi baper teringat pernikahanku sendiri yang walaupun “not perfect” tapi begitu sarat makna dan mengubah hidup 360 derajat. Jadilah tangan ini gatal ingin curhat menuliskan sekelumit cerita tentang pernikahanku.

Tak terasa sudah satu tahun lebih aku menikah. Rasanya baru kemarin tapi ternyata sudah  lebih dari satu tahun setengah aku menyandang status istri. Begitu banyak hal yang terjadi walau di usia pernikahan yang bisa dibilang masih sangat dini ini. Selayaknya kehidupan, aku bersyukur karena perputaran roda di tahun pertama pernikahanku ini bagai perputaran wahana Bianglala di Dufan, pelan dan teratur.

 

Berawal dari chat dan pertemanan tanpa pernah bersua

Aku teringat bagaimana dulu kami bertemu. Berawal dari chat tidak jelas ketika aku masih menyandang status sebagai anak SMA. Dia adalah kakak kelas satu tingkat di atasku saat SMA. Sebelumnya aku tidak pernah bertemu dengannya. Saat itu aku kelas 3 SMA dan dia sudah lulus dan sedang kuliah. Kami berteman hanya sebatas chat dan tidak pernah bertemu. Tak pernah kusangka kami akan menikah di masa depan, karena ia sudah menjalin hubungan dengan gadis lain.

Setelah lulus SMA, aku kuliah di tempat yang berbeda dengannya. Kami sama sekali tidak pernah berkomunikasi sekalipun di dunia maya. Aku juga menjalin hubungan dengan pria lain yang saat itu kukira bakal menjadi suamiku. Namun, takdir berkata lain sehingga hubunganku dengannya kandas.

Suatu hari di tahun terakhir kuliahku, aku menulis status di laman media sosialku. Tiba-tiba saja dia mengomentari statusku setelah sekian purnama kami tidak bertukar kabar. Kami meneruskan perbincangan kami seperti dulu. Ternyata dia sudah putus juga dengan pacarnya. Kami membicarakan berbagai hal dan lebih banyak tentang sepak bola. Aku juga memintanya memperbaiki laptopku yang sering rusak. Tanpa terasa kami menjadi semakin dekat. Hingga pada suatu hari ia memintaku untuk menjalin hubungan dengannya. Aku meminta waktu seminggu baru kemudian menjawab “ya” dengan syarat aku ingin menjalin hubungan yang serius dan tidak main-main.

 

Tak ada hubungan yang mulus seperti pantat bayi

Empat tahun berikutnya kami jalani bersama. Ia membantuku mengerjakan skripsi, memberikan suport saat aku kuliah profesi, dan menjadi teman yang selalu ada saat aku membutuhkan. Kami juga sering bertengkar karena beberapa hal, tapi selalu berakhir dengan damai.

Suka duka kami jalani, terlebih saat aku mengalami sakit yang membuatku berada antara hidup dan mati. Kondisiku yang lumpuh membuatku sangat terpukul dan tidak berdaya. Selain menahan nyeri, aku juga menahan malu karena aku hanya bisa berbaring di tempat tidur dengan semua aktifitas kehidupan harus mendapat bantuan. Aku merasa hidupku sebaiknya berakhir saja daripada aku harus menyusahkan keluarga. -Baca kisahku di sini

Setiap akhir pekan ia mengunjungi dan menemaniku di rumah sakit. Aku merasa iba padanya karena saat itu orangtuanya juga sedang sakit dan menjalani operasi. Ia rela membagi waktu menemani orangtuanya dan diriku pula. Saat ia sedang mengipasi punggungku yang kepanasan, kulihat wajah lelahnya yang mencoba tersenyum kepadaku. Aku bilang kepadanya, kalau ia ingin meninggalkan aku dan mencari perempuan cantik yang normal dan sehat, aku tidak apa-apa. Aku sadar kondisiku yang sudah tidak cantik, tidak bisa berjalan pula, tentunya akan sangat menyusahkan dirinya. Namun, jawabannya membuatku menangis. Ia tidak mau meninggalkanku dan tetap ingin bersamaku apapun kondisiku.  

 

Anugerah dan keajaiban terindah untuk “someone like me”

Alhamdulillah, aku berhasil menjalani operasi dan setiap hari melakukan fisioterapi di rumah sakit untuk memulihkan kakiku. Setiap pekan ia juga datang ke rumahku untuk membantuku latihan berjalan. Wajahku yang lusuh dan bengkak efek obat-obatan dengan pakaian seadanya yang mudah masuk ke badan, tidak membuatnya malas bertemu denganku.

Berangsur-angsur kakiku bisa dipergunakan untuk berjalan kembali. Tapi tulang belakangku masih harus disangga dengan pen untuk pemulihan. Kondisi ini membuatku lemah dan tidak bisa melakukan aktifitas berat. Leherku pun masih kaku dan aku masih merasa diriku ini bukan perempuan normal seperti yang lainnya.

Namun, kejutan manis kuterima. Ia melamarku dan mengutarakan niatnya untuk menikahiku di hadapan orangtuaku. Sebenarnya aku masih merasa minder karena kondisiku, namun ibuku berkata tidak boleh menolak lamaran. Akhirnya, setelah beberapa bulan persiapan dipenuhi intrik dan drama, pernikahan sederhanaku dilangsungkan.

Aku begitu bersyukur sebesar-besarnya kepada Allah karena memberikan nikmat tak terhingga kepadaku. Sebelumnya aku merasa begitu takut, apakah “someone like me” bisa merasakan indahnya momen pernikahan. Walaupun pernikahanku tidak seperti pernikahan putri dongeng ala Sandra Dewi, tapi pernikahanku kuanggap sebuah anugerah yang wajib disyukuri. Ia memang tidak sesempurna pangeran berkuda putih yang selalu diharapkan penggemar dongeng seperti aku, tapi kehadirannya merupakan keajaiban tersendiri untuk “someone like me”. Kisah pernikahanku ada di sini.

Sejatinya, inti dari pernikahan adalah saat akad nikah. Aku begitu tak kuasa menahan segala perasaan yang bercampur aduk saat ayahku “menyerahkan” tanggung jawab atas diriku kepadanya. Begitu sakral, diiringi doa dari semua yang hadir, mengantarkanku ke awal sebuah perjalanan baru. Sebuah perjalanan yang penuh dengan tanggung jawab atas separuh agama. Tak kuasa air mata menitik dengan derasnya saat memohon doa restu dari kedua orangtua yang sudah mengasihiku sedari kecil. Mereka dengan ikhlas melepaskanku bersama dengan orang yang sebelumnya tak mereka kenal, namun mereka doakan mampu membawa diriku menuju kebahagiaan.

 

Pernikahan bak martabak cokelat keju

Apakah ada pernikahan yang berjalan mulus dan lancar seperti jalanan di Jakarta kalau lebaran? Selancar-lancarnya jalanan di Jakarta waktu lebaran pun pasti ada saja hambatannya. Mungkin ada lubang di tengah jalan, wajib berhenti saat lampu merah, atau tiba-tiba ada orang menyeberang. Begitu pula dengan pernikahan.

Perbedaan menjadi salah satu masalah saat kelangsungan hidup pasca pernikahan. Semua perbedaan yang dulu terlihat tidak masalah, bisa saja menjadi masalah sesepele apapun itu. Misalnya aku yang suka keju tapi kurang suka cokelat sedangkan dia yang suka cokelat tapi tidak suka keju. Belum lagi kebiasaan kecil lain seperti aku yang suka pedas dan dia yang tidak suka. Ini contoh yang amat sangat sederhana ya. Kalau perbedaan besar mungkin dari pola pikir dan cara pandang terhadap suatu hal mungkin ada yang berbeda pendapat.

Nah, kami pun mulai belajar mengatasi masalah perbedaan itu. Komunikasi dan pengertian, itulah kuncinya. Misalnya perbedaan kesukaan cokelat keju, kami menyisati dengan mengkomunikasikan kepada abang penjual martabak  untuk membuat martabak setengah cokelat setengah keju, jadi kami bisa menikmatinya bersama. Pernah aku salah mengkomunikasikan saat membeli martabak cokelat keju sehingga abangnya mencampur cokelat dan keju. Bahkan sedikit kesalahan dalam berkomunikasi bisa menjadi hal yang tidak sesuai dengan harapan kita.

Tak jarang kami saling merasa kesal atas sikap satu sama lain. Tetap saja, komunikasi dan pengertian yang mampu menyelesaikan masalah. Tak ada yang terus menerus bertahan dengan ego masing-masing. Memang sulit, terutama aku yang sering menimbulkan masalah. Tapi alhamdulillah, sejauh ini kami bisa menyelesaikan. Selama bukan masalah kesetiaan, tiada masalah yang tidak termaafkan.

Tak ada pernikahan yang sempurna. Namun ketidaksempurnaanlah yang memberikan kita kesempatan untuk terus belajar saling melengkapi. Apalah dayaku yang baru menjalani kehidupan pernikahan menjelang dua tahun, dibanding dengan pasangan yang telah menikah berpuluh-puluh tahun lamanya. Tapi aku berharap proses kehidupan ini membuat kami selalu belajar untuk menemukan cara terbaik untuk hidup bersama walau banyaknya perbedaan, seperti martabak cokelat keju.

Pernikahan itu seperti martabak cokelat keju, walau berbeda rasa dan rupa, namun tetap dapat berpadu bersama. ~Yuanita Fransiska

Share To
Leave a Comment